Guru adalah bagian terpenting untuk bangsa ini, baiknya pribadi rakyat suatu bangsa tentu berkat jasa sang guru sebagai pendidik dan pembentuk karakter bangsa. Suatu Negara tidak akan mencapai kemajuan dan kejayaan apabila kebutuhan akan guru tidak di prioritaskan. Barangkali kita semua ingat, ketika Jepang luluh lantak oleh sekutu pada tahun 1945 dahulu, pertanyaan apa yang pemimpin mereka tanyakan? “Ada berapa guru yang tersisa?” Subhanallah… pertanyaan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan. Kita dapat saksikan bersama saat ini Jepang bagaimana perekonomiannya, Negara kecil tetapi prestasi dan karyanya dipakai dimana-mana, Negaranya maju pesat bahkan menyaingi Amerika. Jika kita belajar dari Jepang, barangkali kita selangkah lebih maju dari mereka. Bukankah Tahun 1945 Indonesia Merdeka? Sementara ditahun yang sama Jepang hancur lebur.
Inilah yang akan diangkat oleh sebuah Pesantren yang berlokasi di Bogor Barat ini. Pesantren Darunnajah Cipining Bogor memang bukan sekolah khusus keguruan, tetapi setiap tahunnya Pesantren yang merupakan cabang ke-dua Darunnajah Jakarta ini menelurkan ratusan kader guru setiap tahunnya. Karena memang Darunnajah Cipining memiliki visi untuk mencetak kader dan generasi IMAMA; Imam (Pemimpin), Muttaqin (Orang yang bertaqwa), Alim (orang yang berpengetahuan tinggi), Muballigh (orang yang mampu berdakwah) dan Arif (orang yang mahir dan ahli dibidangnya/professional).
Hari Sabtu, tanggal 19 Januari 2013 adalah kali ke-25 (seja
k berdiri tahun 1988) Pesantren ini mencetak kader-kader guru. Program terpenting ini dinamakan dengan Amaliyah Tadris atau Ujian Praktek Mengajar, yang merupakan syarat dan kewajiban bagi santri kelas akhir untuk menjadi alumni Pesantren Darunnajah. Di tahun yang ke 25 ini, peserta yang mengikuti Program Amaliyah tadris adalah 125 santri yang terdiri dari Kelas 3 Madrasah Aliyah Darunnajah dan Kelas 3 SMK Darunnajah.
Pembukaan program Amaliyah Tadris ini dilakukan di Aula Kampus 3 dengan dihadiri langsung oleh Pimpinan Pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc yang di damping oleh Direktur TMI (Tarbiyatul Muallimin wal Muallimaat Al-Islamiyyah) Ust Musthafa Kamal, S.Pd.i, M.Ag yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah Aliyah Darunnajah. Hadir juga kepala Biro Pendidikan Ust Faruq Abshari, S.Pd.I. Pelaksana dari Program ini adalah tim dari bagian Kurikulum Pesantren yang di komandoi oleh Ust Kanafi Salman, S.Pd.
Rangkaian dan agenda dari Pembekalan Amaliyah Tadris ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut, sedangkan pelaksanaan dan prakteknya akan dilaksanakan setelahnya sampai akhir bulan Januari 2013 ini. Adapun agenda pembekalan selama tiga hari ini adalah sebagai berikut;
Hari Sabtu, 19 Januari 2013; Pembukaan dan Pengarahan Program Amaliyah Tadris langsung disambut oleh Pimpinan Pesantren. Kemudian masih di hari yang sama, Sosialisasi Tata Tertib Peserta yang disampaikan oleh panitia penyelenggara. Metodologi Pengajaran (materi umum) oleh Ust Purwanto, S.Ag. Sifat Guru Fiqh dan Aqidah serta metode Pengajarannya, disampaikan oleh Ust Fathul Mukmin, S.Pd.I. dan Sifat Guru Mahfudzat dan Metode Pengajarannya disampaikan oleh Ust Mukhlisin, S.H.I.
Hari Kedua, Ahad 20 Januari 2013; agenda Pembekalan Ujian Praktek Mengajar diantaranya adalah Sifat Guru Mutholaah dan Metode Pengajarannya, disampaikan oleh Ust Faruq Abshari, S.Pd.I. Sifat Guru Tarikh Islam dan metode Pengajarannya oleh Ust Musthofa kamal, S.Pd.I, M.Ag. Sifat Guru Nahwu dan Metode Pengajarannya dibawakan oleh Ust Achmad Rosichin, S.Pd.I. Sifat Guru Imla dan metode Pengajarannya oleh Ust M Syukron, S.Ag. dan Sifat Guru Tafsir/hadits dan metode penyampaiannya oleh Ust Musthafa Zahir, S.Pd.I, Lc.
Hari terakhir, Senin 21 Januari 2013 program pembekalan dipadati dengan materi; Sifat Guru Bahasa Inggris dan metode pengajarannya, disampaikan oleh Ust Syaiful Hadi, S.Pd.I. Tentang Istilah Naqd Bahasa Arab dan Inggris oleh Ust Nasikhun, S.E. dan Tentang Penulisan Idad Tadris oleh Ust Drs Abdur Rosyid. Setelah pelaksanaan pembekalan, agenda selanjutnya adalah bimbingan penulisan Idad, kemudian percontohan mengajar yang dilakukan oleh 2 orang peserta, kemudian selanjutnya adalah pelaksanaan Ujian Praktek Mengajar.
Para peserta Ujian Praktek Mengajar (Amaliyah Tadris) ini pada pelaksanaannya dibagi menadi beberapa kelompok, untuk memudahkan penilaian dan pemberian masukan saat salah satu peserta mempraktekkan mengajar. Metode penilaiannya adalah ketika peserta mendapatkan jadwal mengajar di suatu kelas, maka peserta lainnya yang masih satu kelompok ikut masuk kelas untuk melihat dan memberikan penilaian bagi rekannya. Tentunya penilaian tersebut dalam bentuk koreksian dan kritikan yang membangun. Koreksian tersebut akan dibedah dengan masing-masing kelompok setelah peserta melakukan ujian mengajar. Sehingga diharapkan peserta lain yang mendapatkan giliran setelahnya akan melakukannya dengan lebih baik lagi. [WARDAN/@abuadara]