Pesantren Bukan Hanya Tempat Belajar, Tapi Tempat Menempa Karakter Pemimpin: Sambutan K.H. Hadiyanto Arief dalam Orientasi Santri Baru 2025-2026

Pesantren Bukan Hanya Tempat Belajar, Tapi Tempat Menempa Karakter Pemimpin: Sambutan K.H. Hadiyanto Arief dalam Orientasi Santri Baru 2025-2026

Senin, 21 Juli 2025 – Suasana hangat dan penuh harapan menyelimuti acara Orientasi Wali Santri dan Santri Baru Tahun Ajaran 2025-2026 di Pesantren Tarbiyatul Alim, sebuah pesantren yang dikenal sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, karakter, dan kepemimpinan. Dalam acara tersebut, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., selaku pengasuh pesantren, menyampaikan sambutan penting tentang makna sejati pendidikan pesantren.

Pendidikan 24 Jam, Pembentukan Karakter Sejati

Dalam sambutan pembukanya, Kyai Hadiyanto mengajak semua hadirin untuk terlebih dahulu bersyukur atas kesempatan bertemu dan memulai perjalanan pendidikan baru bersama para santri. Beliau menegaskan bahwa pesantren tidak bisa disamakan dengan sekolah formal atau boarding school biasa. Di pesantren, pendidikan berlangsung 24 jam penuh, tidak hanya dalam ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari, kebiasaan, dan teladan para guru serta kyai. “Jangan samakan pesantren dengan sekolah umum. Pesantren memiliki sistem pembentukan karakter yang menyeluruh—dari bangun tidur hingga tidur kembali. Semuanya adalah bagian dari pendidikan,” ungkapnya dengan tegas namun hangat.

Beliau juga menyoroti pentingnya kehadiran kyai dalam kehidupan santri, yang bukan sekadar guru, tetapi juga menjadi figur ayah, pembimbing spiritual, dan panutan moral. Ini menjadi pembeda utama pesantren dengan lembaga pendidikan lain, termasuk boarding school yang hanya berfokus pada akademik tanpa keterlibatan langsung figur spiritual.

Acara orientasi ini dihadiri oleh ratusan wali santri, para santri baru, dan segenap pengasuh serta dewan guru. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan besar terhadap proses pendidikan di pesantren. Para wali santri tampak antusias dan serius menyimak setiap penjelasan yang disampaikan oleh pengasuh pesantren, terutama ketika membahas tujuan pendidikan dan sistem kurikulum Tarbiyatul u’alimin Wal Mu’alimat Al-Islamiyah.

Acara ini dilaksanakan pada hari pertama masa orientasi santri baru, tepatnya di Gedung Olahraga Pondok Pesantren Darunnajah. Orientasi ini menjadi bagian dari proses pengenalan santri terhadap lingkungan barunya, sekaligus membangun komunikasi awal antara pihak pesantren dan orang tua.

Mendidik Generasi dengan Akhlak, Bukan Sekadar Ilmu

Sambutan tersebut bukan sekadar formalitas awal tahun, melainkan sebuah penegasan filosofi pendidikan pesantren. Kyai Hadiyanto menekankan bahwa pesantren hadir untuk menjawab krisis moral dan krisis figur di tengah masyarakat modern, yang seringkali melahirkan generasi tanpa teladan—generasi “fatherless”. “Kita hidup di era di mana banyak anak kehilangan figur ayah, kehilangan panutan. Di pesantren, santri belajar bukan hanya dari ceramah, tapi dari tindakan nyata para guru dan kiai. Kita percaya bahwa satu tindakan nyata lebih berharga dari seribu kata,” ujarnya, mengutip pepatah penuh makna.

Kurikulum Tarbiyatul Alim dan Prinsip-prinsip Pembentukan Karakter

Pesantren Darunnajah mengadopsi Kurikulum Tarbiyatul u’alimin Wal Mu’alimat Al-Islamiyah, sebuah sistem pendidikan terpadu yang mencakup:

  • Pendidikan formal (SMP dan SMA)
  • Pendidikan agama mendalam
  • Pembentukan karakter, disiplin, dan kepemimpinan

Kyai Hadiyanto menambahkan bahwa santri dibekali untuk menjadi apa saja: pengusaha, dokter, jenderal, bahkan presiden, selama tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Lebih lanjut, beliau menekankan tiga prinsip utama pendidikan pesantren:

  1. Prinsip Egalitarian – Semua santri diperlakukan sama tanpa membedakan status ekonomi.
  2. Prinsip Disiplin – Aturan ketat diberlakukan, khususnya di masa orientasi awal 1,5 bulan, demi membentuk kebiasaan baik.
  3. Prinsip Kemandirian – Santri dilarang membawa barang mewah dan penggunaan gawai dibatasi, bukan karena ketidakmampuan, tetapi untuk melatih hidup sederhana.

Figur Kiai sebagai Pembeda Utama

Kyai Hadiyanto juga membandingkan sistem pesantren dengan boarding school modern dan pendekatan pembelajaran masa kini.

Boarding School:

  • Fokus akademik
  • Tidak memiliki figur spiritual seperti kyai.

Pesantren:

  • Figur kyai hadir langsung membimbing
  • Pendidikan menyatu antara akademik, spiritual, dan karakter

Beliau juga menjelaskan bahwa pesantren tidak menggunakan konsep “student center” murni, melainkan “teacher center”—dimana guru menjadi pusat keteladanan dan pembelajaran, baik secara lisan maupun melalui perbuatan.

Nilai Keikhlasan dan Peran Wali Santri

Salah satu pesan penting dalam sambutan tersebut adalah soal nilai keikhlasan. Menurut beliau, pendidikan di pesantren dibangun dengan semangat pengabdian tanpa pamrih, bukan untuk kepentingan materi. “Tanah pesantren yang nilainya mahal tidak kami jual, karena ini bukan milik pribadi, tapi milik umat. Kami semua di sini bekerja dengan niat ibadah dan membentuk masa depan anak-anak kita”. Beliau mengajak para wali santri untuk ikut menjaga tiga hal:

  1. Kepercayaan terhadap sistem pendidikan pesantren
  2. Komunikasi yang baik antara wali dan pengasuh
  3. Kesabaran dalam menjalani proses pendidikan karakter

Di akhir sambutannya, Kyai Hadiyanto mengajak semua pihak—pengasuh, guru, santri, dan wali santri—untuk bersama-sama menjaga komitmen membentuk generasi Islam yang unggul.“Kami di pesantren berkomitmen memberikan pendidikan terbaik. Kami harap para orang tua pun mendukung dengan kepercayaan, doa, dan kesabaran,” pungkasnya.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa jika ada hal-hal teknis atau hal yang belum dipahami, wali santri dipersilakan bertanya langsung kepada wali kelas masing-masing. Acara pun ditutup dengan doa dan ramah tamah, menandai dimulainya perjalanan penting bagi para santri baru di bawah naungan pesantren yang penuh berkah ini. (aulia)

Pendaftaran Santri Baru