Suasana sejuk gerimis pagi menyambut gelaran Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy ke-6 di Pondok Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai, Sabtu, 24 Agustus 2025. Hujan semalam telah membasahi bumi, memberikan kesejukan alami yang mengiringi semangat seluruh santri dalam memulai porseka ke-6. Acara yang dimulai pukul 08.20 WIB ini menjadi momen sakral pertemuan antara tradisi pendidikan Islam dan semangat generasi muda.
Rintik gerimis yang masih menyapa pagi hari seakan menjadi berkah tersendiri bagi seluruh peserta. Wali santri dan masyarakat setempat yang hadir menyaksikan antusiasme tinggi para santri dalam mengikuti rangkaian kegiatan. Suasana hening namun penuh makna tercipta ketika bendera Porseka berkibar.
Dimas Rasyid, santri kelas 6 TMI, tampil percaya diri memimpin upacara dengan khidmat. Pengibaran bendera Porseka oleh anggota Paskibraka Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai menandai dimulainya pekan penuh pembelajaran. Setiap gerakan dan komando dijalankan dengan disiplin tinggi, mencerminkan karakter santri yang telah terbentuk melalui pendidikan pesantren.
Ustadz Marfu Ul Azhari M.Pd, selaku wakil pengasuh pesantren dan pembina upacara, menyampaikan pidato bertemakan pendidikan holistik. “Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan, semuanya adalah pendidikan,” tegas beliau. Pendidikan sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi dalam setiap detik kehidupan santri di pesantren.
“Pendidikan adalah proses pembentukan akhlak mulia melalui pengalaman langsung. Setiap aktivitas, mulai dari bangun subuh hingga tidur malam, mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,”
Setelah apel resmi ditutup, rangkaian penampilan spektakuler dimulai dengan grand opening yang menampilkan beragam ekstrakurikuler pesantren. Para santri mempertontonkan aktivitas keseharian mereka: hafalan mufrodat bahasa Arab, olahraga, dan kegiatan pembelajaran lainnya. Penampilan ini memberikan gambaran komprehensif tentang kehidupan santri yang seimbang antara ilmu agama dan pengetahuan umum.
Tari Tor Tor menjadi penampilan pertama yang mencuri perhatian. Santri kelas 1 TMI menampilkan tarian tradisional Sumatera Utara ini dengan penuh semangat. Anggraini Eka Sari, panitia dari kelas 6 TMI yang melatih mereka, berhasil menghadirkan penampilan yang ciamik. Tari Tor Tor dalam konteks pesantren melambangkan penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia dalam bingkai nilai-nilai Islam.
Dilanjutkan dengan Tari Persembahan Tarian adat Melayu yang melambangkan penghormatan kepada tamu dan bentuk sambutan penuh kehangatan, dipersembahkan untuk para guru, tamu undangan, dan keluarga besar pesantren.
Penampilan senam santri putri menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan jasmani dalam Islam. Senam tidak sekadar olahraga, tetapi manifestasi syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan. Para santri putri memperagakan gerakan senam dengan kompak dan penuh semangat. Aktivitas ini mengajarkan bahwa tubuh yang sehat adalah amanah yang harus dijaga untuk beribadah dengan optimal.
Tim gimnastik putra tampil dengan atraksi menawan yang memadukan kekuatan fisik dan mental. Penampilan ini melambangkan pentingnya keseimbangan dalam hidup: kuat secara fisik namun tetap tunduk kepada Allah. Setiap gerakan akrobatik mencerminkan kemampuan manusia dalam mengatasi tantangan hidup dengan keyakinan dan latihan yang konsisten. Gimnastik mengajarkan bahwa pencapaian luar biasa membutuhkan kerja keras dan kedisiplinan.
Penampilan Pramuka membawa pesan persatuan dan kepemimpinan. Para santri memperagakan keterampilan kepanduan yang mengasah karakter mandiri dan peduli sesama. Pramuka dalam konteks pesantren menjadi media pembelajaran kepemimpinan berbasis nilai-nilai Islam. Setiap gerakan dan yel-yel mencerminkan semangat gotong royong dan cinta tanah air yang tidak terpisahkan dari ajaran agama.
Puncak penampilan adalah atraksi Tapak Suci yang dibina langsung oleh Ustadz Zanuddin Wugaje. Seni bela diri tidak sekadar teknik pertarungan, tetapi sarana pembentukan karakter Islam yang kuat. Para santri mendemonstrasikan gerakan Tapak Suci dengan penuh penghayatan, menunjukkan kekuatan yang terkendali dan tidak untuk menyerang, melainkan membela kebenaran.
Tapak Suci mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan untuk menindas yang lemah, tetapi melindungi yang benar. Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Hadits ini menginspirasi para santri untuk menjadi pribadi kuat secara fisik dan spiritual, namun tetap rendah hati dan tidak sombong.
Setiap penampilan dalam Porseka ke-6 ini bukan sekadar hiburan, tetapi media pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pengembangan bakat santri. Suasana sejuk yang mengiringi acara seakan menjadi simbol berkah Allah atas niat baik dalam menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pesantren modern mampu memadukan tradisi dan modernitas tanpa kehilangan jati diri. Para santri tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga terampil secara fisik dan kuat secara spiritual. Mereka dipersiapkan menjadi generasi yang mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dengan bekal ilmu agama dan pengetahuan umum yang mumpuni.
Ustadz Marfu Ul Azhari mengajak seluruh santri untuk menjadikan Porseka sebagai momentum introspeksi diri. “Gunakan masa pengenalan ini untuk memahami esensi hidup di pesantren. Setiap aktivitas adalah pembelajaran, setiap teman adalah saudara, dan setiap tantangan adalah peluang untuk menjadi lebih baik,” pesannya.
Khutbatul ‘Arsy ke-6 ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan pesantren tetap relevan di era modern. Para santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang akan berguna di masa depan. Mereka dilatih menjadi pemimpin yang amanah, cerdas, dan berakhlak mulia.

