عن أبى موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

Setiap manusia mencintai kehidupan dan takut kepada kematian. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa tidak mengingat Allah swt walau pun ia hidup, maka keadaannya tidak tidak berbeda dengan orang yang mati, kehidupannya adalah sia-sia.” Seorang pujangga berbangsa Persia berkata: “Kehidupanku kini bukanlah kehidupan yang hakiki, kehidupan yang hakiki adalah jika seseorang dapat mencintai kekasihnya.”

Alumni Darunnajah Rajin Sholat Berjama'ah Di Jami' Kampus al Azhar

Alumni Darunnajah Rajin Sholat Berjama’ah Di Jami’ Kampus al Azhar

Sebagian ulama mengatakan bahwa demikianlah hakekaat hati, yaitu jika seseorang selalu berdzikir , maka hatinya selalu hidup, dan barang siapa yang tidak berdzikir, maka sesungguhnya hatinya telah mati. Sebagian ulama menjelaskan maksud hadits diatas, yaitu memandang dari segi untung dan ruginya. Barang siapa menyakiti orang yang berdzikir, maka seolah-olah ia menyakiti orang yang hidup yang akan membalas kepada orang yang menyakitinya. Namun barang siapa menyakiti orang yang tidak berdzikir, ia seolah-olah menyakiti orang yang mati yang tidak akan mampu untuk membalas.

Para ulama Tasawuf mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘dianggap hidup’ adalah seseorang yang berdzikir sebanyak-banyaknya dengan ikhlas untuk mencari keredhaan Allah swt. Sesungguhnya ia tidak akan mati, tetapi hanya pindah alam saja. Sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran tentang orang yang mati syahid;

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran: 169)

Hakim dan Tirmidzi rah.a. berkata, “Dzikrullah itu melembutkan hati. Hati yang kosong dari dzikrullah akan menyebabkan hawa nafsu bergejolak, dan syahwat akan terbakar, sehingga hatinya menjadi keras, dan anggota-anggota badan lainnya turut menjadi keras. Dia tidak akan lagi taat kepada Allah swt. Jika anggota-anggota badan itu ditarik (untuk di perbaiki), maka pasti akan patah, seperti kayu yang kering yang tidak dapat bengkok, kecuali apabila dipotong atau dibakar.”

[WARDAN/@abuadara]______________________

Disampaikan pada Talim Bakda Dzuhur di masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining oleh Santri kelas 6 TMI pada hari Ahad, 10 Februari 2013.