Universitas Darunnajah bersama Pondok Pesantren Darunnajah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah Tingkat Lanjut 2026 di Kampus Universitas Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut dibuka pada Sabtu (7/11/2026) dan didukung Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI ini bertujuan memperkuat kapasitas kader umat Islam dalam bidang diplomasi internasional, khususnya dalam mengartikulasikan nilai-nilai Islam Wasathiyah di tengah dinamika geopolitik global.

Pelatihan tersebut dibuka oleh Wakil Ketua Umum MUI, Dr. K.H. Marsudi Syuhud, M.M. Sejumlah tokoh turut hadir dalam pembukaan, diantaranya Duta Besar Republik Türkiye untuk Indonesia, Prof. Dr. Talip Küçükcan; Presiden Universitas Darunnajah, sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs.; Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), Prof. Dr. K.H. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A.; serta Sekretaris Jenderal MUI periode 2025–2030, Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A.
Dalam sambutannya, K.H. Hadiyanto Arief menyampaikan bahwa keterlibatan Darunnajah dalam pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga pendidikan pesantren dan perguruan tinggi dalam menyiapkan kader umat yang memiliki wawasan internasional serta mampu berkontribusi dalam diplomasi perdamaian.
Sementara itu, Dr. K.H. Marsudi Syuhud menekankan pentingnya prinsip Islam Wasathiyah sebagai landasan diplomasi Indonesia dalam hubungan internasional.
“Nilai keadilan, keseimbangan, dan moderasi dinilai menjadi modal penting bagi umat Islam Indonesia untuk mengambil peran sebagai penghubung dialog dan perdamaian di tengah berbagai konflik global.” ujar K.H. Marsudi.

Duta Besar Republik Türkiye untuk Indonesia, Prof. Dr. Talip Küçükcan, menempatkan pendidikan (education) sebagai pilar prioritas paling mendasar dalam mewujudkan diplomasi perdamaian.
“Pendidikan ditempatkan di posisi terdepan karena menjadi ruang pembentukan cara pandang masyarakat dunia. Pendidikan yang inklusif menanamkan nilai-nilai toleransi, dialog, penghargaan terhadap keberagaman, serta literasi antarbudaya.”
Kehadiran perwakilan diplomatik tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif peserta mengenai hubungan internasional dan dinamika geopolitik dunia.
Pelatihan ini diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari kalangan pengurus MUI, kader organisasi kemasyarakatan Islam, dan akademisi. Para peserta merupakan individu terpilih yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan diplomasi Islam Wasathiyah tingkat dasar.
Berbeda dengan pelatihan tingkat dasar yang lebih menitikberatkan pada penguatan konsep, program tingkat lanjut ini menggunakan pendekatan experiential learning dengan memberikan porsi lebih besar pada praktik dan simulasi diplomasi.
Materi yang diberikan mencakup sejarah diplomasi Islam, strategi negosiasi, komunikasi diplomatik, public speaking, penyusunan dokumen diplomatik, hingga keprotokolan internasional. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan policy memo, concept note, pernyataan bersama, dan resolusi.
Selain itu, peserta mengikuti simulasi sidang multilateral yang mengadaptasi mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sidang darurat ASEAN terkait isu Myanmar, serta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang membahas isu kemerdekaan Palestina.
Sebagai bagian dari evaluasi akhir, peserta juga diarahkan menyusun policy paper berisi rekomendasi kebijakan terkait diplomasi kemanusiaan dan perdamaian. Kegiatan ini melibatkan sejumlah diplomat senior, pejabat Kementerian Luar Negeri RI, pimpinan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), akademisi, serta pengurus Komisi HLNKI MUI sebagai pemateri dan fasilitator.
Melalui pelatihan ini, Universitas Darunnajah, Pondok Pesantren Darunnajah, dan MUI berharap dapat memperkuat peran masyarakat sipil dalam diplomasi internasional. Para peserta diharapkan mampu menjadi diplomat masyarakat (citizen diplomat) yang kompeten serta membawa nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian di tingkat global. (Ara)
