Peran Ayah yang Sering Dilupakan dalam Pendidikan Anak

Dalam banyak keluarga Indonesia, pendidikan anak masih dianggap urusan ibu. Ayah bekerja mencari nafkah. Ibu mendidik. Pembagian ini terasa wajar — dan memang sudah berjalan selama generasi. Tapi riset secara konsisten menunjukkan sesuatu yang mungkin mengejutkan: keterlibatan ayah dalam pendidikan anak punya dampak yang sangat unik dan tidak bisa digantikan oleh siapa pun — termasuk oleh ibu yang paling dedikasi sekalipun.

Apa yang unik dari peran ayah?

Bukan soal lebih baik atau lebih buruk dari ibu. Tapi berbeda. Ayah cenderung berinteraksi dengan anak lewat cara yang berbeda: lebih banyak bermain fisik, lebih banyak humor, lebih banyak tantangan. Cara interaksi ini — yang kadang terlihat kurang serius dibanding cara ibu — ternyata sangat penting untuk perkembangan anak.

Anak yang sering bermain fisik dengan ayahnya — bergulat ringan, dilempar ke atas, kejar-kejaran — mengembangkan regulasi emosi yang lebih baik. Karena di permainan fisik, ada momen di mana anak harus menahan diri (supaya tidak menyakiti), membaca situasi (kapan serius kapan bercanda), dan mengelola arousal emosional (semangat tapi terkontrol). Semua ini adalah latihan regulasi emosi yang sangat efektif.

Keterlibatan ayah juga berkorelasi dengan kepercayaan diri anak yang lebih tinggi, kemampuan mengambil risiko yang lebih sehat, dan — ini menarik — performa akademik yang lebih baik. Bukan karena ayah lebih pintar mengajar, tapi karena kehadiran dua figur orang tua yang terlibat memberikan fondasi emosional yang lebih stabil untuk anak belajar.

Kenapa banyak ayah yang kurang terlibat?

Kadang karena tuntutan kerja yang memang menyita waktu dan energi. Pulang sudah malam, akhir pekan butuh istirahat — waktu untuk anak terasa semakin sempit. Kadang karena merasa tidak kompeten. Ayah yang tidak tahu cara mengurus bayi atau membantu PR mungkin merasa perannya tidak dibutuhkan. Kadang karena pola asuh yang diterima sendiri: ayah yang tumbuh dengan ayah yang tidak terlibat mungkin tidak punya model tentang bagaimana menjadi ayah yang hadir.

Alasan-alasan ini sangat bisa dipahami. Tapi memahami bukan berarti menerima sebagai status quo. Karena dampak ketidakhadiran ayah pada anak terlalu besar untuk diabaikan.

Apa yang bisa dilakukan?

Pertama, hadir — meskipun tidak sempurna. Ayah yang hadir lima belas menit sehari tapi sepenuhnya fokus pada anak memberikan dampak yang jauh lebih besar dari ayah yang di rumah seharian tapi selalu sibuk sendiri. Kualitas mengalahkan kuantitas. Kedua, temukan cara yang nyaman. Tidak semua ayah cocok membacakan cerita sebelum tidur. Tapi mungkin cocok mengajak anak main bola, atau membangun sesuatu bersama, atau sekadar jalan-jalan pagi. Temukan aktivitas yang bisa dinikmati bersama — dan jadikan itu ritual.

Ketiga, libatkan diri dalam pendidikan. Hadir di acara sekolah. Bantu PR sesekali. Tanyakan apa yang dipelajari di sekolah hari ini. Anak yang melihat ayahnya peduli dengan pendidikannya menginternalisasi pesan bahwa belajar itu penting — bukan hanya menurut ibu. Keempat, tunjukkan emosi. Ayah yang bisa bilang “papa bangga sama kamu” atau “papa sayang kamu” tanpa merasa canggung memberikan keamanan emosional yang sangat dibutuhkan anak. Terutama anak laki-laki, yang sering kehilangan contoh tentang bagaimana mengekspresikan emosi secara sehat.

Kelima, jangan merasa harus sempurna. Ayah yang mencoba tapi kadang salah jauh lebih berharga dari ayah yang tidak mencoba sama sekali. Anak tidak butuh ayah yang sempurna. Ia butuh ayah yang hadir.

Apa peran lingkungan pendidikan?

Di pesantren, kehadiran figur laki-laki dewasa yang positif bisa menjadi pelengkap yang cukup berarti — terutama bagi anak yang mungkin kurang mendapat kehadiran ayah di rumah. Ustadz laki-laki dan wali kamar menjadi figur yang santri lihat setiap hari: bagaimana ia berbicara, bagaimana ia memperlakukan orang, bagaimana ia menghadapi masalah. Ini bukan pengganti ayah — tidak ada yang bisa menggantikan itu. Tapi bisa menjadi pelengkap yang bermakna.

Tradisi kepemimpinan di pesantren juga memberikan anak laki-laki model tentang maskulinitas yang positif: memimpin dengan melayani, kuat tapi lembut, tegas tapi adil. Tentu tidak semua figur di pesantren selalu ideal — kualitasnya bervariasi. Tapi keberadaan figur laki-laki positif secara langsung dan intens punya dampak yang cukup nyata.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan lingkungan di mana figur-figur laki-laki dewasa hadir secara langsung dalam kehidupan santri setiap hari. Bukan pengganti peran ayah, tapi pelengkap yang bisa cukup bermakna — terutama dalam hal pembentukan identitas dan karakter.

Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.

Anak tidak butuh ayah yang sempurna. Ia butuh ayah yang hadir — yang mencoba, yang peduli, dan yang menunjukkan bahwa ia layak untuk diusahakan.