Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Di Dunia Pesantren Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Di Dunia Pesantren

Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Di Dunia Pesantren

Jurnalistik merupakan hal yang berkaitan dengan kewartawanan dan media massa. Jurnalistik juga salah satu sarana yang baik untuk dunia dakwah dan pendidikan. Tapi bisa juga menjadi wadah untuk kejahatan oleh beberapa oknum yang suka menyebar isu tidak benar atau hoax.

Pengaruh globalisasi di zaman modern ini memiliki banyak dampak negative dan pengaruh terhadap peran dari jurnalistik itu sendiri menjadi buruk.

Dengan ini peran Pesantren dalam jurnalistik sangat penting. Karena dapat merubah hal-hal negative menjadi hal yang positive dengan cara mengintegrasikan antara Tsaqofah Islamiyah dan Kauniyah berdasarkan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah dalam dunia jurnalistik itu sendiri.

Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Di Dunia Pesantren
Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Di Dunia Pesantren

Oleh karena itu, Pondok Pesantren Darunnajah rutin setiap bulannya mengadakan pelatihan jurnalistik. Yang diikuti oleh admin website www.darunnajah.com baik di Darunnajah Pusat dan cabang-cabangnya.

Pengurus Organisasi Santri Darunnajah (OSDN) khususnya bagian Pers dan Jurnalistik juga berperan aktif dalam bidang jurnalistik.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis, mengolah kata, mengetahui standar penulisan yang baik dan benar, dan juga kode etik jurnalistik.

Materi pelatihan admin website bulan ini disampaikan langsung oleh H.Erdy Nasrul selaku Redaktur di Republika.

“Menulis adalah seni. Seni untuk memilih kata, diksi yang kita gunakan. Bukan hanya untuk formalitas, melainkan juga kepuasan tersendiri.” ujar beliau menjelaskan

Menulis bukanlah perihal yang mudah, melainkan harus memiliki kemampuan. Tapi kemampuan saja belum cukup, harus ada komponen-komponen yang mendorong seperti ide, inovasi dan kreativitas.

Dengan begitu tulisan yang dihasilkan akan lebih baik dan berkesan lebih menarik. Terlebih jika mempunyai standar penulisan sendiri, jadi lebih bebas dan nyaman dengan menggunakan gaya bahasa sendiri tanpa mengurangi kode etik jurnalistik.

“JANGAN PERNAH MENULIS SESUATU YANG TIDAK PERNAH KITA FAHAMI” 

(DN.COM/almas_khalishah)