blank

Pentingnya Amanat (Khutbah Jum’at)

Pentingnya Amanat (Khutbah Jum’at)

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Share on telegram

blankblankblankuntitledPerlu kita ketahui, bahwa kehancuran suatu rumah tangga, suatu bangsa atau Negara seringkali disebabkan oleh tidak bertanggungjawabnya pemegang amanah yang telah dipercayakan. Prof. Dr. Hamka dalam bukunya “Tafsir Al-Azhar” telah membagi amanat itu menjadi dua bagian; yaitu amanat raya dan amanat pribadi. Amanat raya ialah tugas yang telah di pikulkan Allah swt atas seluruh manusia dimuka bumi ini, yaitu menjadi khalifah atau pimpinan untuk mengatur kehidupan di bumi ini. Amanat ini sebenarnya sudah ditawarkan terlebih dahulu kepada bumi, langit dan gunung-gunung, akan tetapi yang bersangkutan tidak sanggup memikulnya.

Hal ini ditegaskan oleh Allah lewat Firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 72;

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan (menganjurkan) amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia”.

Amanat Raya adalah berkaitan dengan tugas-tugas keagamaan yang seharusnya dipikul oleh orang yang beriman. Sebab orang yang beriman itu mempunyai hati yang lebih luas daripada langit dan bumi dan lebih tinggi daripada bukit dan gunung-gunung. Namun setelah manusia menerima amanat tersebut, ternyata kebanyakan manusia tidak melaksanakannya. Sebab syarat utama untuk menjadi orang yang beriman adalah merupakan kendala bagi mereka. Begitulah kebodohan manusia yang begitu mudah mau menerima amanat itu. Padahal untuk pelaksanaannya mereka enggan sama sekali. Sikap manusia seperti ini telah disinggung Allah swt dalam kelanjutan ayat diatas;

Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab : 72)

Adapun amanat yang kedua adalah berkaitan dengan tugas kita masing-masing menurut kesanggupan diri, bakat, skill, dan nasib. Disini peranan profesi amat penting bagi terwujudnya kehidupan yang makmur dimuka bumi ini. Meskipun hal itu bukanlah merupakan kemuliaan atau kehinaan bagi Allah. Sebab yang mulia menurut-Nya adalah manusia yang paling taqwa kepada-Nya.

Profesi yang menyangkut pekerjaan adalah amanat. Sebab disini ada janji-janji yang harus ditepati dan dilaksanakan oleh manusia itu dengan baik. Janji manusia untuk memelihara rohani dan jasmani adalah merupakan janji yang pertama kali diucapkan manusia dihadapan Allah swt sewaktu mereka berada didalam roh. Maka untuk menepati janji tersebut manusia harus mensucikan rohaninya dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Dan inilah yang dikehendaki Allah. Sebab Dia tidak mau menerima kedatangan manusia yang mempunyai rohani yang kotor karena dosa. “Kecuali orang-orang yang mengharap Allah dengan hati (rohani) yang bersih”. (SQ. Asyu’ara : 89)

Nah, dari janji pertama tentang peneguhan pribadi kepada Allah ; “Bukankah aku ini Tuhanmu?” manusia menjawab: “ Tentu! Kami berikan kesaksian bahwa Engkau adalah Tuhan kami.” Maka diharapkan janji-janji yang lain bias terpelihara juga; janji kerumahtangga, janji kemayarakatan, janji berkebangsan, dan akhirnya janji kenegaraan. Disini sudah terbagi tugas seuai dengan profesinya masing-masing. Ada pegawai, ada sopir, pemerintah dan lain sebagainya. Asal sama-sama setia memikul tugas, adil dan makmur pasti tercapai. Dalam hal ini Allah menegaskan dalam surat Al-Baqarah : 148,

Dan bagi tiap-tiap orang ada jurusannya (sendiri) yang ia hadapi. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Dimana saja kamu berada, pastilah Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat)

Orang telah berjanji berdasarkan tugas yang telah diberikan. Dan tugas adalah suatu amanat yang telah dipercayakan padanya sesuai dengan profesi yang dimilikinya. Maka untuk mempertanggungjawabkan amanat tersebut, dia harus menjaganya dengan baik. Kiranya inilah firman Allah yang dimaksud dalam surat An-Nisa : 58,

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.

Ayat tersebut adalah menunjukkan dasar-dasar pemerintahan yang harus dipegang oleh orang-orang yang memegang sudah ahli dalam pemerintahan. Disamping yang bersangkutan wajib melaksanakannya sebagaimana mestinya. Maka pemerintah yang tidak mampu menunaikan amanat yang berupa pemerintahan, bahkan juga tidak ahli dalam jabatan dan tugasnya itu, maka akan mengakibatkan kehancuran total bagi pemerintahan tersebut. Itu sebabnya Rasulullah saw sudah memperingatkan berdasarkan hadits berikut;

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw sambil bertanya; ‘kapan kiamat itu akan terjadi, wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab; ‘bila amanat sudah diabaikan, maka tunggulah kiamat itu’. Laki-laki itu bertanya lagi; ‘bagaimana pula pengabaian amanat itu?’ Rasulullah saw menjawab; ‘apabila urusan (pekerjaan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat itu”. (HR Bukhari)

Kata ‘Kiamat’ adalah identik dengan kehancuran, kehancuran jiwa, kehancuran rumahtangga, kehancuran bangsa, Negara, bahkan bias jadi kehancuran dunia. Semua ini pasti akan terjadi bila mana amanat-amanat telah diabaikan manusia.

———-

Disampaikan oleh Ust, Nur Fathoni, S.H.I

Di Masjid Jamik Darunnajah Cipining, tanggal 13 November 2009

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah