Setiap menjelang akhir tahun ajaran, ada satu acara yang membuat seluruh pesantren bergerak lebih sibuk dari biasanya. Bukan ujian akhir. Bukan persiapan liburan. Tapi pentas seni — pertunjukan besar yang melibatkan santri dari berbagai jenjang dan kegiatan, dipersiapkan selama berminggu-minggu dengan dedikasi yang sering kali melampaui persiapan ujian mereka sendiri.
Persiapan dimulai jauh sebelum hari pertunjukan.
Berminggu-minggu sebelumnya, aula pesantren sudah mulai berubah. Panggung sederhana dibangun dari papan dan triplek. Dekorasi dikerjakan oleh tim santri yang dengan suka rela meluangkan waktu istirahat mereka. Ada yang mengecat latar panggung. Ada yang menggunting kertas warna untuk hiasan. Ada yang memasang kabel sound system sambil belajar dari kakak kelas yang sudah lebih berpengalaman. Semua proses itu berjalan berdampingan dengan kegiatan pesantren yang tetap padat.
Latihan dilakukan di setiap celah waktu yang tersedia.
Setelah sholat Isya, kelompok drama latihan dialog di pojok asrama. Setelah jam belajar malam, tim nasyid mengulang harmonisasi suara di lorong yang sudah sepi. Santri yang akan membaca puisi berlatih intonasi di depan cermin kamar mandi. Tidak ada studio latihan profesional. Tidak ada jadwal khusus yang dialokasikan untuk persiapan pentas. Semuanya dicuri dari waktu luang yang sudah sangat terbatas.
Justru keterbatasan itulah yang membuat prosesnya bermakna.
Santri belajar bahwa hasil yang membanggakan tidak selalu datang dari fasilitas yang lengkap. Kadang cukup dari niat yang kuat dan kerja sama yang tulus. Tim yang mengerjakan dekorasi panggung belajar memecahkan masalah dengan bahan seadanya. Tim drama belajar berimprovisasi ketika properti yang dibutuhkan tidak tersedia. Tim musik belajar menyelaraskan suara tanpa bantuan alat tuning elektronik.
Malam pentas seni selalu punya suasana yang berbeda dari malam-malam biasa di pesantren.
Aula yang biasanya dipakai untuk ceramah dan pengumuman berubah menjadi teater kecil. Bangku disusun menghadap panggung. Lampu diredupkan — meski kadang lampu sorot hanyalah senter besar yang diarahkan dari sudut ruangan. banyak santri duduk bersama, menunggu pertunjukan dimulai. Ada keheningan sesaat sebelum tirai dibuka — jenis keheningan yang penuh antisipasi.
Pertunjukan pertama biasanya pembacaan ayat suci Quran oleh santri yang suaranya paling merdu di angkatannya. Suaranya memenuhi aula, dan untuk sesaat semua orang terdiam dalam kekhusyukan yang sama.
Lalu panggung berganti warna.
Drama bahasa Arab yang latihan dialognya sudah diulang puluhan kali akhirnya ditampilkan di hadapan penonton sungguhan. Ekspresi wajah pemainnya lebih hidup dari saat latihan. Tawa penonton di momen yang tepat memberikan energi yang tidak bisa didapat dari ruang latihan. Ada santri yang lupa dialognya di tengah panggung — tapi temannya langsung mengambil alih dengan improvisasi yang justru membuat penonton tertawa lebih keras.
Penampilan musik selalu menjadi puncak yang paling ditunggu. Nasyid dengan harmonisasi yang sudah diasah berminggu-minggu terdengar jauh lebih baik dari yang diperkirakan siapa pun. Marawis yang iramanya menggetarkan dada. Santri yang bermain alat musik sederhana tapi mampu menciptakan alunan yang membuat penonton ikut bergoyang di kursi mereka.
Orang tua yang diundang hadir sering kali terkejut.
Mereka tidak menyangka bahwa anak yang mereka tinggalkan beberapa bulan lalu sekarang berdiri di panggung dengan kepercayaan diri yang tidak pernah terlihat di rumah. Ibu yang melihat anaknya membaca puisi tiga bahasa dari atas panggung kadang meneteskan air mata tanpa sadar. Bukan karena sedih. Karena bangga, dan karena menyadari bahwa pesantren telah memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Di Darunnajah 2 Cipining, pentas seni menjadi tradisi akhir tahun yang ditunggu oleh seluruh santri. Prosesnya mengajarkan kerja tim, kreativitas, dan keberanian tampil — pelajaran yang tidak ada di kurikulum manapun tapi dampaknya bertahan seumur hidup.
Kadang pertunjukan yang paling membekas bukan yang paling sempurna, tapi yang paling jujur — dan pentas seni di pesantren selalu penuh dengan kejujuran itu.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan dan kegiatan santri, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.