Acara yang mengambil tempat di gedung pertemuan Darunnajah tampak semarak dengan hadirnya dewan guru, seluruh anggota Organisasi Santri Ashabunnajah Darunnajah (OSAD), dan para santri. Sebagaimana tema yang diusung dan motto yang berbunyi “Budayaku, Budayamu,Budaya Kita Semua”, maka segala pendukung dan acara pementasan tersebut berbau kesenian daerah, seperti kuda lumping (Jawa Tengah), Tari Rapai (NAD), pencak silat, fashion show pakaian adat hingga drama musikal kedaerahan juga meramaikan acara tersebut.
Memiliki keberanekaragaman budaya merupakan sebuah kebanggaan bagi Bangsa Indonesia. Namun, di tengah-tengah hegemoni barat yang terus menjajah tata kehidupan kita, akankah kebanggaan itu tetap dapat langgeng?
Saat ini, remaja kita lebih gandrung terhadap budaya impor, lihat saja bagaimana mereka mati-matian mengikuti mode, rela menghabiskan uang hanya untuk sekedar menyesuaikan life style, belum lagi dengan budaya-budaya cabul dan gengsi gede-gedean yang mereka favoritkan dalam tayangan TV. Semua itu adalah trend setter budaya yang perlu diwaspadai.
Ini adalah sebuah keprihatinan serius, jika remaja kita lebih cenderung pada budaya impor tersebut. Banyak hal yang melatarbelakangi itu, salah satunya karena tidak adanya care dari berbagai media yang mau dan consistent dalam mengusung budaya lokal.
Permasalahan ini, dijawab oleh sebuah kelompok teater yang bernama Seniman Kreatif dan Terampil Santri Ashabunnajah (SKETSA) Darunnajah. Dari hasil kerja kerasnya, kelompok teater ini menggelar pementasan akbar budaya nasional dengan tema “Dengan Semangat Nasionalisme, Kita Junjung Warisan Kebudayaan Bumi Pertiwi’ pada tanggal 6 Mei 2007.
Acara yang mengambil tempat di gedung pertemuan Darunnajah tampak semarak dengan hadirnya dewan guru, seluruh anggota Organisasi Santri Ashabunnajah Darunnajah (OSAD), dan para santri. Sebagaimana tema yang diusung dan motto yang berbunyi “Budayaku, Budayamu,Budaya Kita Semua”, maka segala pendukung dan acara pementasan tersebut berbau kesenian daerah, seperti kuda lumping (Jawa Tengah), Tari Rapai (NAD), pencak silat, fashion show pakaian adat hingga drama musikal kedaerahan juga meramaikan acara tersebut.
Meskipun persiapan penampilan ini sangat terbatas, namun anggota SKETSA mengaku puas dapat menampilkan yang terbaik buat para santri. Mereka juga sangat bangga dengan apresiasi yang diberikan penonton. “Kami yakin dengan pementasan ini, meskipun ini adalah yang pertama kali diselenggarakan di pesantren kita. Semoga semua ini, memicu kami untuk berbuat yang lebih baik,” ungkap ketua panitia, Muhammad Hamdani, dengan nada sumringah di akhir pementasan.
SKETSA merupakan wadah bagi anak asuh dalam menyalurkan kreatifitas berbagai macam seni. Wadah yang telah didirikan beberapa tahun sebelumnya oleh para seniornya ini, pada awal berdirinya terbagi pada 2 bidang, yaitu bidang teater bernama “Bandrex” dan bidang majalah dinding yang terbit secara berkala dengan nama “LHO?”.
SKETSA melakukan kegiatan rutin berupa latihan-latihan, seperti pantomim, drama, baca puisi, dll. Dan sesekali, SKETSA melaksanakan pertemuan akbar yang dihadiri oleh seluruh santro dan dewan guru untuk bersilaturrahmi dengan sajian berbagai kebolehan serta unjuk gigi anggota SKETSA.
Hidup akan lebih bermakna bila dalam kehidupan ini seseorang memiliki karya yang dapat dibanggakan. Untuk itu, SKETSA selalu berbenah diri dalam menciptakan kader-kader yang produktif dalam hidupnya, sebagaimana mottonya, “FRUITLESS LIFE IS USELESS LIFE”