Pendidikan Agama Islam

 A.     Pendahuluan

Anak-anak didik merupakan asset mutiara yang sangat berarti dan sangat penting untuk selalu di jaga. Melalui anak-anak didik inilah kita memberikan tongkat estafet kehidupan di masa yang akan datang. Akan tetapi perlu kita mengerti, bahwa ketika anak-anak sebagai calon generasi penerus tidak lagi mengenal diri, ketika mereka tidak lagi tahu jalan menuju sebuah gerbang masa depan. Maka ketika itu pula sebuah krisis akan dan tengah terjadi.

Aku Cinta Islam - Pondok Pesantren Darunnajah Cipining
Aku Cinta Islam - Pondok Pesantren Darunnajah Cipining

Mungkin dari sini akan muncul sebuah pertanyaan sangat penting untuk kita pelajari dan segera kita jawab kalau kita ingin mencetak generasi-generasi muda yang berkualitas. Dengan terbentuknya generasi-generasi muda yang berkualitas dan berkarakter. Kita berharap apa yang kita investasikan kepada anak-anak didik ini agar mereka bisa menjadi harapan bangsa dan tulang punggung negara. Tidak lah salah kalau kemudian dikatakan, kita harus menyentuh nuraninya sejak dini, kita bimbing mereka agar tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia dan berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan pendidikan sepanjang hayat, dimulai semenjak lahir-bahkan sebelum lahir-sampai akhir usia.

Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin  jasmani  dan  rohani  kearah  kedewasaan.  Atau bisa Diartikan,  pendidikan merupakan sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak didik agar menjadi dewasa dalam segala hal.[1] Semisalnya; guru memberikan bimbingan kepada anak-anak didik-nya untuk aktif mengembangkan potensi dirinya agar memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, dan budi pekerti mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dari pengertian pendidikan yang tersebut di atas, bisa memberikan pemahaman terhadap kita, bahwa pendidikan itu merupakan sebuah media transfer ilmu yang  bisa memberikan warna tertentu bagi objeknya (anak didik). Jadi sangat lah vital sebagai seorang pendidik ini dalam perannya membentuk dan memberi warna karakter anak didiknya.

Oleh sebab itu, untuk merealisasikan pembentukan karakter yang baik untuk anak-anak didik. Maka, tugas sebagai seorang Guru Agama Islam dituntut bukan hanya bertanggung jawab memberikan materi kepada para peserta didiknya saja dan kemudian selesai. Akan tetapi, sebagai seorang guru harus bisa memberikan tauladan yang baik untuk ditiru dan di pahami oleh peserta didiknya. Tauladan guru pendidikan agama islam, tidak hanya bisa tercermin disaat guru mengajarkan materi di kelas saja. Akan tetapi seorang guru harus bisa memberikan contoh yang baik di dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai, guru pendidikan agama islam hanya selalu memberikan nasehat yang baik tentang agama, akan tetapi guru tersebut tidak bisa memberikan tauladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, sesungguhnya peserta didik itu akan bisa berubah menjadi yang lebih baik karena meraka melihat contoh yang baik. maka, disinilah peran penting seorang guru pendidikan agama islam dalam upaya membentuk karakter anak-anak didiknya.

B.     Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan berasal dari kata “didik” yang berarti melatih atau mengajar. Sedangkan menurut istilah, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Agama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau atau teratur. Agama dapat membebaskan manusia dan kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya. Menurut terminologi agama adalah suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung.

Islam berasal dari bahasa arab berarti selamat sentosa. Sedangkan secara umum adalah agama yang disyari’atkan oleh Allah dengan perantaraan para Nabi dan RasulNya, yang mengandung perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan diakhirat.

Menurut ahli pendidikan islam, mereka berpendapat bahwa pendidikan agama islam adalah sebagai proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertakwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas dan fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungannya dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat dan alam sekitarnya serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa (termasuk dirinya sendiridan lingkungan hidupnya.[2]

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah ilmu yang membahas pokok-pokok keimanan kepada Allah, cara beribadah kepada-Nya, dan mengatur hubungan baik sesama manusia, serta makhluk lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

 C.     Pembentukan Karakter Anak

“Karakter” merupakan akar kata dari bahasa latin yang berarti dipahat. Kehidupan seperti balok besi bila dipahat dengan penuh kehati-hatian akan menjadi mahakarya agung. Maka, karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain.

Dalam upaya mendidik karakter anak, harus disesuaikan menurut dunia anak tersebut. Yakni selalu selaras dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pembentukan karakter diklasifikasikan dalam 5 tahapan yang berurutan dan sesuai usia.

Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal mana yang baik dan yang buruk, serta mengenal mana yang diperintahkan.

Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri, antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta dididik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan sholat mereka.

Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian, antara usia 9 sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama, serta mau membantu orang lain.

Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya.[3]

D.    Peran Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, surau/musalla, di rumah dan sebagainya.

Guru adalah figur manusia yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti dilibatkan dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal itu tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di rumah dan masyarakat.

Guru memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. karena guru memegang kunci dalam pendidikan dan pengajaran disekolah. Guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan siswa dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari, dan guru merupakan pihak yang paling besar peranannya dalam menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan terhadap guru merupakan hal mendasar dalam proses pendidikan.

Guru mempunyai peran ganda, disamping ia sebagai pengajar sekaligus sebagai pendidik. Dalam rangka mengembangkan tugas atau peran gandanya maka oleh  Zakiah Daradjah disarankan agar guru memiliki persyaratan kepribadian sebagai guru yaitu:

Suka bekerja keras, demokratis, penyayang, menghargai kepribadian peserta didik, sabar, memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang bermacam-macam, perawakan menyenangkan dan berkelakuan baik, adil dan tidak memihak, toleransi, mantap dan stabil, ada perhatian terhadap persoalan peserta didik, lincah, mampu memuji, perbuatan baik dan menghargai peserta didik, cukup dalam pengajaran, mampu memimpin secara baik.[4]

Untuk tercapainya tujuan tersebut, maka guru memegang peranan penting. Oleh sebab itu guru di sekolah tidak hanya sekedar mentransferkan sejumlah ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, tetapi lebih dari itu terutama dalam membina sikap dan ketrampilan mereka. Untuk membina sikap murid di sekolah, dari sekian banyak guru bidang studi, guru bidang studi agamalah yang sangat menentukan, sebab pendidikan agama sangat menentukan dalam hal pembinaan sikap siswa karena bidang studi agama banyak membahas tentang pembinaan sikap, yaitu mengenai aqidah dan akhlakul karimah.

Tugas guru tidak terbatas pada memberikan informasi kepada murid namun tugas guru lebih konprehensif dari itu. Selain mengajar dan membekali murid dengan pengetahuan, guru juga harus menyiapkan mereka agar mandiri dan memberdayakan bakat murid di berbagai bidang, mendisiplinkan moral mereka, membimbing hasrat dan menanamkan kebajikan dalam jiwa mereka. Guru harus menunjukkan semangat persaudaraan kepada murid serta membimbing mereka pada jalan kebenaran agar mereka tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama.

E.     Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam sejak dini akan sangat efektif dalam segi edukatifnya untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak yang baik. Ini karena di dalam sebuah ruang lingkup keluarga dibutuhkan keharmonisan dan keseimbangan antar anggotanya. Peran pribadi yang senior diharuskan memberi pelajaran yang junior dan sesuai dengan porsinya sehingga dapat membawa angin perubahan menuju sesuatu yang positif.

Dipandang dari segi keterkaitannya, pembentukan karakter dasar seorang anak sejak dini tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang diajarkan dalam sisi edukatif pendidikan agama islam. Telah begitu banyak bukti dan realita yang benar-benar membuktikan secara nyata bahwasannya pembelajaran pendidikan agama islam berperan besar dan mayoritas mampu mengantarkan tiap individu agamis menghadapi kesulitan dan problematika yang ada dengan arif dan bijaksana.

 

F.      Penutup

Dari uraian ringkas ini, dapat diambil kesimpulan bahwasannya terdapat hubungan yang sangat mendasar dari peran pentingnya guru pendidikan agama islam dalam membentuk karakter anak-anak didiknya. Ini dapat dilihat dari adanya beberapa keterkaitan antara keduanya. Pertama, terbentuknya karakter anak itu juga bisa di contohkan dalam sebuah perumpamaan pahatan diatas balok besi oleh sang pemahat. Kalau sang pemahat (guru didik)-nya baik dan bisa mengarahkan pola pahatannya. Maka, insyaallah output-nyajuga akan barkualitas. Kedua, Karakter pendasaran anak yang terbaik adalah sesuai dengan porsi atau tahapan pemikiran anak tersebut yang bisa ditandai melalui usianya. Jadi, sebagai seorang guru harus bisa bersikap profesional dalam menghadapi segala permasalahan anak-anak didiknya. Sebab, pembentukan karakter anak,juga harus dilihat dari porsi dan mengukur berapa kemampuan anak. Ketiga, Fungsi edukatif pendidikan agama islam merupakan solusi terbaik untuk menanamkan karakter atau akhlak yang benar sehingga dapat berguna dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks di masa depan, serta dapat mengisi pembangunan bangsa ini.

G.    Saran

Setelah mempelajari uraian ringkas ini, kita diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang pentingnya pembentukan karakter anak sejak dini secara benar untuk menuju kehidupan bermasyarakat yang penuh intrik dan multikultural. Diharapkan pula agar dapat menjadikan pendidikan agama islam yang diperoleh sebagai salah satu upaya untuk merubah karakter yang ada, baik ataupun buruk, menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

 


[1] http://blog.umy.ac.id/eviistiana/2012/01/02/pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini/

[2] http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/pendidikan-agama-islam-pengertian.html

[3] http://alhumaydy.wordpress.com/2011/07/13/pembentukan-karakter-anak-melalui-fungsi-edukatif-pendidikan-agama-islam/

[4] http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/05/17/peranan-guru-agama-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan-agama-di-sekolah-umum/

(Kasanudin)