Anak Mondok dan Tetap Kuat di Matematika, Fisika, dan Kimia — Bagaimana Pelajaran Umum Terjaga

Anak Mondok dan Tetap Kuat di Matematika, Fisika, dan Kimia — Bagaimana Pelajaran Umum Terjaga

Ada kekhawatiran yang hampir selalu ada tetapi jarang ditanyakan terang-terangan, dan isinya sederhana saja. Apakah anak yang mondok masih akan kuat di pelajaran umum. Jawabannya justru paling mudah diperiksa, cukup dari daftar mata pelajaran dan jadwal hariannya.

Apa yang sebenarnya dikhawatirkan orang tua tentang sisi akademiknya?

Kekhawatiran ini jarang diucapkan terang-terangan karena terdengar seperti meragukan nilai pendidikan agama, padahal isinya sederhana saja. Anak yang selama ini nilainya bagus di matematika dan menyukai percobaan sains, apakah kemampuannya akan tetap tumbuh bila ia mondok.

Bayangan yang beredar biasanya berbentuk ruang kelas dengan meja rendah, kitab kuning, dan hari yang habis untuk menghafal. Gambaran itu berasal dari model pesantren tradisional yang punya tujuan berbeda dan tempatnya sendiri. Pesantren modern menempuh jalan lain, dan selisihnya cukup besar untuk membuat banyak orang salah menduga sebelum melihat sendiri jadwal hariannya.

Yang paling sering mengagetkan ketika orang tua melihat jadwal harian secara utuh adalah betapa mirip bagian akademiknya dengan sekolah pada umumnya. Perbedaan terbesarnya bukan pada apa yang dipelajari, melainkan pada jumlah jam yang tersedia dalam sehari.

Sekolah berasrama memiliki lebih banyak jam, bukan lebih sedikit.

Pelajaran umum apa saja yang benar-benar diajarkan?

Daftar pelajaran umum di pesantren modern seperti Darunnajah 2 Cipining cukup panjang: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Fisika, Kimia, Biologi, IPS, Geografi, Sejarah, Sosiologi, Psikologi, Ekonomi, Kewirausahaan, Komputer, dan Bahasa Inggris. Semuanya berjalan berdampingan dengan aqidah, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, nahwu, sharaf, dan balaghah, dalam satu hari yang sama.

Bagaimana dua bidang seluas itu muat dalam satu hari?

Yang memungkinkannya adalah bentuk kurikulumnya. Kurikulum yang dipakai bernama Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah, biasa disingkat TMI, yang menyatukan pola pendidikan Pondok Modern Gontor dengan Kurikulum Nasional. Keduanya tidak dijalankan sebagai dua sekolah yang kebetulan berada di satu lokasi, melainkan disusun menjadi satu rangkaian hari.

Kuncinya ada pada waktu yang tersedia. Anak yang bersekolah reguler pulang sore, lalu waktunya terbagi untuk perjalanan, istirahat, dan urusan lain di rumah. Anak berasrama tidak kehilangan jam-jam itu. Jam belajar malamnya berjalan terjadwal dan diawasi, bukan bergantung pada niat yang tersisa setelah seharian lelah.

Laboratorium IPA dan laboratorium komputer tersedia untuk bagian yang memang tidak bisa dipelajari hanya dari buku. Perpustakaan terbuka untuk yang ingin menelusuri lebih jauh. Ruang kelasnya berventilasi alami karena kampus berada di ketinggian bukit yang berudara sejuk, dan hal sederhana seperti ini berpengaruh pada daya tahan anak selama jam pelajaran siang.

Pengakuan atas hasilnya juga bukan hal yang perlu diperdebatkan. Ijazah dari jenjang di sini terdaftar dan sah di mata negara, baik pada jalur Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan, sehingga dapat dipakai mendaftar ke perguruan tinggi negeri mana pun, dan mayoritas programnya terakreditasi A. Anak yang kelak memilih teknik, kedokteran, hukum, atau ilmu komputer tidak menutup satu pintu pun karena pernah mondok.

Bagi keluarga yang anaknya lebih condong ke keterampilan terapan, tersedia juga jalur SMK di lingkungan yang sama, sehingga pilihan tidak harus dibuat terlalu dini.

Satu hal yang layak diketahui sebelum membandingkan, beban belajar anak berasrama memang lebih padat daripada di sekolah reguler. Hari dimulai sebelum subuh dan berakhir setelah jam belajar malam. Sebagian anak membutuhkan satu sampai dua semester untuk menemukan ritmenya, dan itu wajar. Yang membantu pada masa itu bukan tambahan jam belajar, melainkan pendampingan wali kamar dan kakak kelas yang sudah lebih dulu melewatinya.

Apa yang justru menguntungkan secara akademik?

Bagian ini biasanya baru disadari orang tua setelah beberapa semester berjalan, dan hampir selalu di luar dugaan.

Keteraturan waktu memberi pengaruh yang besar. Anak bangun pada jam yang sama setiap hari, belajar pada jam yang sama, dan tidur pada jam yang sama. Otak yang bekerja dengan pola tetap cenderung lebih siap menerima pelajaran daripada otak yang jadwalnya berubah-ubah mengikuti keadaan.

Gangguan dari layar juga jauh berkurang dengan sendirinya. Bukan karena dilarang keras, melainkan karena hari-harinya memang penuh oleh kegiatan lain. Waktu yang di banyak tempat lain habis tanpa terasa di sini terpakai untuk mengulang pelajaran, berlatih pidato, atau berolahraga sampai lelah.

Kebiasaan belajar bersama tumbuh secara alami di kamar. Anak yang mengalami kesulitan pada satu bab biasanya bertanya kepada teman sekamar atau kakak kelas yang sudah melewatinya, dan yang menjelaskan justru ikut memahami lebih dalam karena harus menyusun ulang penjelasannya. Pola ini berjalan setiap malam tanpa perlu diprogram.

Latihan bahasa memberi keuntungan tambahan yang sering tidak diperhitungkan. Dua bahasa asing dipakai bergiliran untuk percakapan sehari-hari, Arab pada satu pekan dan Inggris pada pekan berikutnya, sehingga membaca buku atau sumber berbahasa Inggris terasa jauh lebih ringan ketika anak sampai di bangku kuliah.

Ke mana biasanya anak melanjutkan setelah itu?

Pertanyaan tentang muara akhirnya lebih menentukan daripada pertanyaan tentang mata pelajaran. Ijazah yang diakui membuka jalur ke perguruan tinggi negeri maupun swasta di dalam negeri, dan tidak sedikit lulusan pesantren modern yang menempuh pendidikan lanjutan di Timur Tengah, Asia, Eropa, Amerika, maupun Australia. Kerja sama formal dengan sejumlah universitas di berbagai negara turut membuka jalan itu.

Bagi yang ingin melanjutkan tanpa berpindah lingkungan, Universitas Darunnajah Kampus Bogor menyelenggarakan program sarjana dan pascasarjana di lokasi yang sama. Pilihan ini biasanya dipertimbangkan keluarga yang ingin masa peralihan anaknya ke bangku kuliah berjalan lebih perlahan.

Bidang yang ditekuni alumni pesantren modern pun beragam, mulai dari pendidikan, kesehatan, hukum, teknologi, bisnis, pemerintahan, hingga pertanian. Keragaman itu menunjukkan bahwa jalur mondok tidak mempersempit pilihan, meski memang tidak ada satu jalur pendidikan pun yang menjamin hasil bagi semua anak.

Ada pertanyaan yang biasanya mengendap di kepala orang tua tanpa pernah diucapkan: apakah keputusan ini nanti akan disyukuri atau disesali anak ketika ia sudah dewasa. Jawaban yang jujur, tidak ada yang bisa memastikannya. Yang bisa diperiksa hari ini hanyalah apakah tempatnya menyediakan bahan yang cukup untuk anak tumbuh, dan hal itu bisa dilihat dengan mata sendiri.

Bagaimana cara memeriksanya sendiri?

Daftar mata pelajaran mudah dicetak siapa saja, karena itu yang paling meyakinkan justru melihat langsung. Jadwal harian, ruang laboratorium, dan suasana jam belajar malam memberi gambaran yang tidak bisa diwakili brosur.

Jadwal harian, ruang laboratorium, dan suasana jam belajar malam bisa dilihat sendiri kapan pun keluarga datang, tanpa janji temu lebih dulu, dan ada tempat menginap bagi yang jauh perjalanannya. Pertanyaan yang lebih rinci tentang kurikulum, jenjang, maupun penjurusan bisa disampaikan lebih dulu lewat WhatsApp di wa.me/62812111180.