Tentang Pekerjaan Kecil yang Membosankan dan Mengapa Anak Perlu Mengenalnya

Tentang Pekerjaan Kecil yang Membosankan dan Mengapa Anak Perlu Mengenalnya

Orang tua zaman sekarang sering berusaha melindungi anaknya dari hal-hal yang membosankan. Sekolah dipilih yang metodenya seru. Ekstrakurikuler dipilih yang tidak terlalu berat. Les tambahan dipilih yang pakai game. Semua dengan tujuan baik — supaya anak suka belajar, supaya tidak stres. Tapi dari sini muncul pola yang tidak disadari. Anak tumbuh tanpa pernah benar-benar menghadapi pekerjaan yang membosankan dan tetap harus diselesaikan.

Padahal justru dari hal-hal seperti itu, banyak kualitas paling penting dalam hidup dibangun.

Apa yang dimaksud dengan pekerjaan membosankan?

Pekerjaan membosankan adalah pekerjaan yang harus dikerjakan tapi tidak memberi kepuasan instan. Menyapu lantai. Mencuci piring. Menyetrika baju. Mencatat ulang buku catatan. Menghafal bagian yang belum lancar. Mengerjakan soal latihan yang sudah diulang.

Pekerjaan seperti ini punya ciri — hasilnya tidak langsung kelihatan istimewa, prosesnya biasa-biasa saja, dan kadang harus dikerjakan setiap hari dengan variasi yang sedikit sekali.

Orang dewasa tahu bahwa hidup penuh dengan pekerjaan seperti ini. Pekerjaan kantor yang rutin. Laporan yang harus diselesaikan. Administrasi yang tidak bisa dihindari. Bahkan di pekerjaan yang dianggap glamor pun, porsi rutinnya besar. Musisi harus latihan tiap hari. Atlet harus latihan fisik yang sama berulang. Penulis harus menulis walau moodnya sedang tidak datang.

Semua orang dewasa yang sukses — di bidang apa pun — punya kemampuan tetap mengerjakan hal rutin dengan baik. Dan kemampuan ini tidak muncul otomatis.

Kenapa anak zaman sekarang makin jauh dari pekerjaan membosankan?

Ada beberapa alasan yang saling menopang.

Yang pertama, otomatisasi di rumah. Mesin cuci mengurus pakaian. Robot vacuum membersihkan lantai. Alat-alat dapur mempercepat masak. Anak tidak lagi harus melakukan pekerjaan-pekerjaan dasar yang dulu jadi bagian normal dari tumbuh besar.

Yang kedua, asumsi bahwa anak harus belajar, bukan bekerja. Orang tua kelas menengah zaman ini sering berpikir bahwa tugas anak hanya sekolah. Pekerjaan rumah dianggap mengganggu konsentrasi belajar. Akhirnya semua pekerjaan rumah diserahkan ke orang lain.

Yang ketiga, pendekatan pedagogi baru yang menghindari repetisi. Banyak metode pembelajaran baru mengutamakan keterlibatan dan game. Repetisi dianggap membosankan dan tidak efektif. Padahal pengulangan adalah bagian penting dari penguasaan keterampilan.

Kombinasi semua ini membuat anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberinya kesempatan untuk mengenal pekerjaan biasa yang repetitif.

Apa yang tidak terbentuk ketika anak tidak pernah dilatih dengan pekerjaan rutin yang membosankan?

Kemampuan tetap bergerak walau mood tidak ada. Di dunia dewasa, banyak hari kita tidak punya mood tapi tetap harus bekerja. Kalau sejak kecil anak terbiasa mengerjakan hanya yang ia suka, dewasa nanti dia kesulitan konsisten.

Kesabaran pada proses panjang. Banyak hal berharga butuh waktu lama untuk tercapai. Anak yang tidak terlatih menunggu dalam pekerjaan kecil, sulit bertahan di pekerjaan besar yang butuh tahun-tahun konsistensi.

Apresiasi pada orang yang melakukan pekerjaan rutin. Ini yang paling halus. Orang yang tidak pernah menyapu sendiri, tidak tahu beratnya menyapu lantai yang luas. Ia mudah meremehkan petugas kebersihan, asisten rumah tangga, tukang sayur, atau siapa pun yang melakukan pekerjaan repetitif. Orang yang pernah melakukan sendiri, jauh lebih menghargai.

Di mana anak bisa dapat latihan pekerjaan kecil yang membosankan dalam konteks yang sehat?

Di lingkungan yang tidak menyerahkan pekerjaan tersebut kepada orang lain.

Pesantren adalah salah satu contohnya. Di Darunnajah 2 Cipining, santri mencuci baju sendiri. Menyetrika sendiri. Merapikan kamar sendiri. Mengatur barang di lemari sendiri. Membersihkan tempat tidur sendiri. Tidak ada yang membantu. Setiap hari, berulang-ulang, selama bertahun-tahun.

Ada juga piket kebersihan yang bergiliran. Membersihkan kamar mandi. Menyapu lingkungan asrama. Merapikan tempat makan setelah selesai. Semua ini tugas rutin yang membosankan. Tapi harus dikerjakan.

Di pelajaran juga ada komponen yang repetitif. Menulis hafalan di buku tulis untuk setoran. Mengerjakan soal-soal latihan berulang. Mengulang bacaan Al-Qur’an sampai lancar. Latihan nahwu dan shorof yang polanya mirip setiap hari.

Tidak ada yang glamor di pekerjaan-pekerjaan ini. Tapi justru di sinilah banyak kualitas tahan lama dibangun.

Apa yang perlahan terbentuk pada anak yang melalui proses seperti ini?

Disiplin yang bukan karena takut dihukum. Santri yang sudah bertahun-tahun mengerjakan tugas rutin mengembangkan disiplin internal. Ia tidak perlu diingatkan setiap hari. Otomatis bergerak ke piket pagi. Otomatis merapikan lemari sebelum tidur. Otomatis menyiapkan barang untuk besok.

Kesabaran pada proses panjang. Anak yang pernah ratusan kali menghafal bagian yang sama sampai lancar, tahu bahwa keahlian butuh repetisi. Ia tidak cepat menyerah saat menghadapi hal baru yang sulit.

Kemampuan menikmati hal biasa. Karena sudah terbiasa dengan aktivitas yang tidak over-stimulating, santri punya kenikmatan yang lebih luas. Momen kecil bisa jadi indah. Pekerjaan sederhana bisa terasa menyenangkan.

Dan yang paling berharga, rasa hormat pada orang yang bekerja keras dalam pekerjaan biasa. Orang yang pernah mencuci baju sendiri, tidak meremehkan tukang laundry. Yang pernah menyapu lantai sendiri, tidak meremehkan petugas kebersihan. Rasa hormat ini jadi modal sosial yang berharga di masa depan.

Tentu proses ini tidak selalu mulus. Ada santri yang di minggu pertama mengeluh setiap hari tentang pekerjaan rutinnya. Ada yang butuh waktu berbulan-bulan untuk mulai terbiasa. Tapi lingkungan yang konsisten menuntut semua itu dari seluruh santri, perlahan membentuk pola baru.

Orang tua yang sadar pentingnya kualitas ini, bisa mulai dari rumah. Tugaskan pekerjaan rumah yang konkret pada anak. Jangan selalu menggantikannya. Tahan rasa kasihan saat ia mengeluh. Biarkan ia merasakan pekerjaan biasa yang rutin.

Tapi kalau merasa rumah sudah terlanjur otomatis dan sulit dibalikkan, lingkungan pesantren bisa jadi alternatif yang secara struktur menuntut keterlibatan langsung dalam pekerjaan biasa.

Tim penerimaan santri baru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining bisa dihubungi kapan saja di wa.me/62812111180. Bisa dimulai dari pertanyaan praktis — tugas apa saja yang harus dikerjakan santri setiap hari, bagaimana sistem piket diatur, atau bagaimana anak yang tidak pernah mencuci baju dilatih dari nol.

Kadang dari obrolan sederhana seperti itu, orang tua menemukan sesuatu yang dicari — bahwa perubahan yang paling anaknya butuhkan justru sesuatu yang dianggap sepele.