Puluhan santri anggota ekstrakurikuler sound system mengikuti pelatihan dan seminar tata suara di Aula Kampus 1 pada Senin hingga Selasa, 26–27 Oktober 2026. Kegiatan dua hari ini dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan teknis hingga kemampuan mengoperasikan perangkat audio secara mandiri. Para peserta menyambutnya dengan antusias dan rasa penasaran yang tinggi.
Pelatihan ini diikuti seluruh anggota ekstrakurikuler sound system putri. Selama dua hari, mereka mengenal perangkat audio dari tahap dasar, mulai dari cara kerja peralatan hingga langkah mengoperasikannya secara terstruktur. Aula yang biasanya menjadi tempat berkumpul kini berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Para peserta menyimak materi, mencoba peralatan, lalu bertanya langsung tentang hal-hal yang membuat mereka penasaran.

Di balik suara yang jernih dalam sebuah acara, ada kerja yang jarang terlihat. Tidak ada yang menyadari seorang operator ketika semuanya berjalan lancar, tetapi semua orang langsung merasakannya ketika suara terputus atau berdengung. Peran inilah yang kini dipelajari para santri. Mereka belajar bahwa menyiapkan suara berarti memastikan pesan orang lain sampai dengan baik kepada pendengarnya.
Kebutuhan akan keterampilan ini nyata di lingkungan Pesantren. Hampir setiap pekan ada acara yang membutuhkan tata suara, baik kegiatan harian dan mingguan maupun acara besar seperti kegiatan keagamaan, organisasi, pentas seni, dan acara asrama. Selama ini sebagian kebutuhan tersebut masih dibantu tenaga dari luar. Melalui pelatihan ini, para santri disiapkan agar mampu menanganinya sendiri dan konsisten menunjang kelancaran berbagai kegiatan.
Tujuan kegiatan ini juga menyentuh kemandirian organisasi. Dengan anggota yang terlatih, ekstrakurikuler sound system tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pihak luar saat mengatur suara dalam sebuah acara. Kemampuan itu sekaligus menjadi bekal tambahan atau life skills di bidang teknologi audio visual. Keahlian semacam ini dapat bermanfaat bagi masa depan mereka, kelak di mana pun mereka berkiprah.
Secara filosofis, kegiatan ini mengajarkan nilai amanah dan kebermanfaatan. Dalam ajaran Islam, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Para santri yang bekerja di balik mixer dan pengeras suara sedang mempraktikkan nilai itu, yakni melayani agar orang lain dapat menyampaikan dan menerima kebaikan dengan nyaman. Proses belajar yang tekun, sabar, dan teliti menjadi bagian dari pendidikan karakter itu sendiri.

Bagi para peserta, hari-hari pelatihan menjadi pengalaman yang berkesan. Rasa penasaran mendorong mereka aktif mencoba dan bertanya. Suasana belajar yang hangat membuat materi teknis terasa lebih mudah dipahami. Kegiatan berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.
Keberhasilan pelatihan ini baru akan terlihat dari praktik sehari-hari. Para santri diharapkan menerapkan ilmu yang didapat pada setiap acara di Pesantren dan terus berlatih secara konsisten. Pihak Pesantren Darunnajah 2 Cipining pun mengajak seluruh santri yang tertarik di bidang teknologi audio untuk bergabung dengan ekstrakurikuler ini. Siapa tahu, dari balik meja pengatur suara, lahir generasi muslimah yang menguasai teknologi dan siap mengabdi bagi umat.
