Darunnajah – (19/11) Sebuah lembaga pendidikan islam yang biasa kita kenal dengan sebutan Pondok Pesantren, pada dasarnya merupakan sebuah tempat di mana nilai-nilai kehidupan itu ditanamkan. Rutinitas keseharian para santri-santrinya merupakan suatu penerapan dari sebuah sistem yang sudah terintegrasi.
Dalam sehari semalam, para santri bukan hanya diajarkan tentang kitab kuning, membaca dan menghafal kitab suci al-qur’an, tetapi juga diajarkan mengenai cara bersosialisasi agar dapat hidup di masyarakat kelak. Tergabung dalam sebuah wadah yang di dalamnya terdapat berbagai manusia dari segala penjuru memaksa mereka untuk mampu berkomunikasi dan membangun sebuah hubungan yang harmonis untuk keberlangsungan kehidupan mereka di Pesantren.
Filosofi nilai-nilai pesantren tersebut tertuang dari suri tauladan dari tingkah laku para pendidik dan juga kakak kelas yang mengurus segenap urusan para penduduk yang dipimpinnya. Supaya aktualisasi filosofi lebih tertancap, maka ditempellah nilai-nilai tersebut di dinding-dinding bangunan yang terbentuk dalam sebuah banner sehingga segenap masyarakat pesantren dapat melihatnya lalu menuangkannya dalam rutinitas kesehariannya. Maka tak berlebihan rasanya jika kita ibaratkan banner-banner tersebut laksana filsuf yang menuntut perenungan dan juga layaknya seorang penggugah yang senantiasa mengingatkan bagi siapa saja yang memandangnya.



(ZA)




