DNKindergarten, 09/04
Jika anak sakit, pastilah orangtua memberi obat. Dan masalahnya pada…Rata-rata anak kecil memang tak suka obat. Kita saja yang sudah dewasa juga tidak suka. Karena itu, Anak batita memang sulit minum obat.
Salah satu penyebab utamanya adalah rasa pahit obat itu. Ditambah lagi bila pengalaman pertamanya minum obat yang rasanya tak menyenangkan. “Pahit!” begitu katanya sambil menangis. Celakanya lagi, orangtua tak menyiapkan lebih dulu saat anak akan diberi obat.
Sementara anak-anak yang sejak awal sudah gampang minum obat, menurut staf pengajar di Fakultas Psikologi UI, lebih pada kesiapan si orangtua dalam memberikan obat. “Misalnya orangtua tenang dan si anak pun dijelaskan kenapa ia harus minum obat.”
Selain itu, seorang anak yang sudah biasa menghadapi obat juga akan lebih mudah minum obat. “Entah lantaran si anak sering sakit atau ia menderita penyakit tertentu yang mengharuskannya minum obat secara rutin.” Bisa juga karena faktor kebiasaan. Misalnya, anak pusing sedikit atau agak pilek langsung diberi obat. “Akhirnya, anak belajar bahwa ada perilaku seperti itu dan karena itu ia tak lagi merasakan sesuatu yang pahit pada obat tersebut. Baginya, minum obat tak ubahnya seperti minum vitamin.
Disamping rasa obat yang pahit, tutur Betty, anak sulit minum obat juga bisa disebabkan ketegangan orangtua. Di satu sisi, ingin anaknya lekas sembuh, namun di sisi lain khawatir anaknya menolak minum obat karena tahu rasanya pahit. Nah, kekhawatiran atau kecemasan orangtua akan berpengaruh pada anak sekalipun kita tak mengatakannya. Selain itu, anak batita belum mengerti, apa dan kenapa ia harus minum obat karena ia tak tahu manfaatnya. Jelaskan kepada anak, kenapa ia harus minum obat dengan tenang.
Untuk mengurangi rasa pahit obat, biasanya para ibu kerap mencampurnya dengan pemanis. Entah itu madu, sirop, gula pasir, teh manis atau susu. “Boleh-boleh saja dilakukan. Apalagi, anak umumnya sudah kenal rasa manis. Yang penting, tambahan pemanis itu diberikan dalam porsi yang cukup, sehingga kala anak mengecap si obat, ia tak merasakan pahit lagi.” Dan lebih penting, orangtua bersikap sabar dan tenang.
Jika anak “berhasil” minum obat dengan baik, berilah pujian. “Ini amat penting bagi anak karena ia akan merasa, minum obat merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan.
Bila anak menolak minum obat untuk pertama kali, cobalah kembali. Mungkin dengan paksaan secara halus. Namun tentunya harus sudah disiapkan dengan ujung sendok yang diberi rasa manis sehingga begitu dicecap, terasa manis. Kemudian anak agak dipaksa sedikit untuk membuka mulutnya. Misalnya, minta si kecil memencet hidungnya pelan-pelan sehingga ia akan mencari udara untuk bernafas. Nah, begitu hidung dipencet, mulutnya akan membuka dan saat itulah seluruh obat dimasukkan. Dengan memencet hidung juga akan mengurangi bau obat dan rasa tak enaknya.
Tak jarang terjadi, si kecil memuntahkan obatnya. Biasanya karena anak merasa ada yang pahit. Muntah bisa juga sebagai bentuk pemberontakan akibat orangtua memaksa dan bersikap keras. Bujuklah si kecil untuk kembali minum obat beberapa saat kemudian. Kalau tidak, muntah bisa dijadikan senjata baginya tiap kali harus minum obat.
Agar si kecil semakin mudah minum obat, sebaiknya orangtua juga mengajaknya berdialog tentang kegunaan obat. Bukan hanya pada saat ia sakit, namun juga dalam pembicaraan mengenai kesehatan dalam keseharian anak. Perkenalkan kepadanya bahwa tak semua obat pahit rasanya. Ceritakan pula padanya, mengapa orang harus minum obat dan kapan harus minum obat atau vitamin.
Bila segala upaya sudah dilakukan namun si anak tetap sulit minum obat, siasati dengan cara mencampurkan obat ke dalam minuman kesukaan anak. Entah itu susu, sirup, atau jus buah. Tapi jangan lupa untuk mengonfirmasikan sebelumnya pada dokter. Untuk anak usia di bawah 2 tahun, pemberian bisa dilakukan dengan pipet. Selain lebih memudahkan, obat tak mengenai ujung lidah tapi langsung ke tengah atau samping lidah. Cuma harus pintar-pintar memberikannya agar tak sampai mengenai ujung lidah sehingga si kecil tak merasakan pahitnya obat.
Dan untuk orang tua :
Sebaiknya sediakan obat di rumah untuk pertolongan pertama jika si kecil sakit. Setidaknya obat penurun panas, obat anti muntah atau obat lain yang sesuai dengan sakitnya si kecil. Jika bukan obat bebas, jangan segan minta resep dokter untuk persediaan, lengkap dengan petunjuk cara minumnya.
sumber : internet
(sita, [email protected])