Halaqah Komite Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926 ke-7 digelar di Pesantren Darunnajah, Jakarta, Minggu (3/30/2019).

Hadir di acara ini sejumlah tokoh penting NU diantaranya; K.H Salahuddin Wahid (Gus Solah), Gus AAM Wahab, K.H Nasihin, K.H Abdullah Muchit (Malang), Drs. K.H Choirul Anwar dan sejumlah Habaib.

“Ahlan Wa Sahlan kami ucapkan kepada Kiai yang hadir di Pondok Pesantren Darunnajah, kemarin Kiai meminta Darunnajah untuk memfasilitasi kegiatan ini, kami merasa senang karena bisa berjumpa dengan Kyai. Mohon maaf bila banyak kekurangan atas sambutan kami. Yang penting do’a antum agar Darunnajah tetap Istiqomah berdiri mendidik santri-santri,” kata K.H Sofwan Manaf selaku Pimpinan Pesantren Darunnajah saat menyampaikan sambutan.

Gus Solah menjelaskan mengapa Halaqah Komite Khittoh NU 1926 ke-7 ini digelar di Pesantren Darunnajah.

“NU ini organisasi besar yang mengayomi umat muslim Indonesia, Wajar jika Darunnajah memfasilitasi dikarenakan adanya kepedulian terhadap ormas yang baik,” kata Gus Solah.

Gus Solah lalu menyampaikan beberapa hal mengenai kewajiban kembalinya NU ke Khittoh (garis perjuangan) yang sudah di tetapkan para pendahulu.

Ini untuk menegaskan bahwasannya politik NU bukanlah politik kekuasaan melainkan politik kebangsaan, keumatan dan kemanusiaan.

Halaqoh yang diadakan ini dimaksudkan untuk Ngaji bareng tentang Khittah NU.

“NU itu didirikan untuk melayani umat Islam di Indonesia, bukan untuk menguasai umat, yang dimaksud dangan kembali ke khittoh itu seperti itu,” kata Prof. Dr. KH. Tolchan Hasan lewat rekaman Video yang diputar pada Halaqoh ke-5.

Gus Solah pada pidato pembukaannya juga menekankan saat berlangsungnya dialog agar hadirin yang berbicara tidak mengajak untuk memilih Pasangan Calon Presiden 01 ataupun Pasangan Calon Presiden 02.

“Kalau kita memihak kepada salah satu paslon, maka kredibilitas kita diragukan dan ikhtiar kita tidak akan memberi hasil seperti yang diharapkan,“ ujar Gus Solah.

Sesi dialog antara hadirin dan Gus Sholah di acara ini berlangsung seru, terlihat tamu yang datang antusias membahas isu yang ada.

Acara yang harusnya berakhir pada pukul 14.00 WIB sesuai yang tertera di jadwal kegiatan menjadi molor.

Moderator menambahkan waktu karena rentetan pertanyaan masih mengantre untuk dijawab.