Muhadhoroh ‘Ammah Bersama Syaikh Ubaid Mabruk Ramadhan Muhadhoroh ‘Ammah Bersama Syaikh Ubaid Mabruk Ramadhan

Muhadhoroh ‘Ammah Bersama Syaikh Ubaid Mabruk Ramadhan

Pada Hari Kamis-Jum’at, 16-17 Oktober 202, aula Kampus 3 untuk santriwan dan Masjid Jami’ Kampus 1 untuk santriwati, dipenuhi suasana khidmat ketika para santri menyambut tamu istimewa dari Timur Tengah, Syaikh Ubaid Mabruk Ramadhan, utusan resmi dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Beliau adalah seorang alim dengan spesialisasi di bidang Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, dan Balaghah, sekaligus pakar tafsir yang dikenal lembut dalam menyampaikan nasihat dan tajam dalam mengurai makna.

Kehadirannya menjadi momen berharga bagi para santri, guru, serta pengasuh pesantren. Dalam suasana hangat dan sarat makna, beliau menyampaikan Muhadhoroh ‘Ammah (Kuliah Umum) yang menggugah hati tentang pentingnya ilmu, Al-Qur’an, dan bahasa Arab sebagai fondasi peradaban Islam.

Dalam pembukaan tausiyahnya, Syaikh menegaskan: “Telah beruntung kalian karena telah menyusuri jalan ilmu — jalan para nabi.” Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ diutus sebagai pengajar, dan bahwa dunia ini seluruhnya terlaknat kecuali bagi mereka yang mengingat Allah, berilmu, atau menuntut ilmu. “Islam tidak akan tegak tanpa ilmu. Agama ini datang untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.”

Beliau mengingatkan bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi adalah perintah membaca, isyarat bahwa ilmu merupakan pangkal dari segala kemuliaan. “Kalimat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ adalah ‘Iqra’ – bacalah!’ Karena dari membaca, tumbuhlah ilmu; dan dari ilmu, lahirlah cahaya.”

Mengutip kata motivasi dari Imam Syafi’i, beliau menegaskan: “Seandainya manusia tidak memiliki ilmu, niscaya mereka sama saja dengan hewan.” Beliau menasihati santri agar mensyukuri nikmat luar biasa besar yang mereka miliki — nikmat Islam, nikmat iman, dan nikmat menjadi penuntut ilmu. “Kalian sedang berada dalam kenikmatan yang tidak dimiliki banyak orang. Bersyukurlah, karena Allah memilih kalian menapaki jalan yang dilalui para nabi.”

Dalam bagian yang paling mendalam, Syaikh berbicara tentang keagungan Al-Qur’an. “Al-Qur’an adalah Rabi‘ul Qulub — penyejuk hati. Ia ruh bagi umat ini, sebagaimana tubuh tak hidup tanpa ruh.” Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat bagi segala penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani. Allah menurunkan enam ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Syifaa’ — penyembuh. “Kedekatan kalian dengan Al-Qur’an akan memperkuat hati, meneguhkan dalam kebenaran, dan menjaga dari fitnah zaman.”

Masih banyak lagi poin penting disampaikan oleh Syekh terkait urgensi belajar bahasa arab hingga pentingnya ahlak mulia. Para santri sangat antusias, terbukti dengan adanya sesi tanya-jawab dalam Bahasa Arab. Syekh juga terkesan dengan lingkungan pesantren nan luas lagi indah.