Ustadz di pesantren sering dipandang sebagai sosok yang tegas, berwibawa, dan selalu terkendali. Mereka yang membangunkan santri di pagi buta. Yang menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Yang memberikan nasihat dengan nada yang tidak memberi ruang untuk bantahan. Bayangan itu tidak salah — ustadz memang harus tegas karena tanggung jawab mereka terhadap banyak santri menuntutnya. Tapi ada momen-momen tertentu ketika ustadz yang tegas itu tiba-tiba menunjukkan sisi lain — sisi yang membuat seluruh ruangan terdiam karena terkejut sekaligus terharu.
Momen itu biasanya terjadi di waktu-waktu yang tidak terduga. Di tengah ceramah malam yang membahas tentang pengorbanan orang tua, suara ustadz tiba-tiba bergetar dan matanya berkaca-kaca. Di acara perpisahan santri kelas akhir, ustadz yang biasanya paling tegar justru yang paling sulit menahan air mata. Di momen ketika seluruh pesantren berdoa bersama untuk sesuatu yang sangat penting, ustadz yang memimpin doa menangis di tengah bacaan — dan tidak ada yang merasa perlu menyembunyikannya.
Kita yang pernah menyaksikan momen itu tahu bahwa dampaknya sangat mendalam pada seluruh santri yang ada di ruangan.
Melihat sosok yang selama ini dianggap kuat tiba-tiba menunjukkan emosi yang sangat manusiawi mengubah cara santri memandang ustadz mereka selamanya. Ustadz bukan robot yang tidak punya perasaan. Mereka juga manusia yang punya kekhawatiran, punya rindu, punya keharuan. Kesadaran itu membuat hubungan antara ustadz dan santri bergeser ke level yang lebih dalam — dari sekadar guru-murid menjadi sesama manusia yang saling menghormati.
Momen ketika ustadz menangis juga sering menjadi momen yang paling membuat santri reflektif. Kalau ceramah tentang orang tua membuat ustadz — orang dewasa yang sudah berpengalaman — sampai meneteskan air mata, artinya topik itu benar-benar penting. Pesan yang disampaikan di momen itu terasa jauh lebih berat dan lebih bermakna dari ceramah di hari-hari biasa. Santri yang menyaksikannya sering mengingat momen itu bertahun-tahun kemudian — bukan karena isi ceramahnya, tapi karena melihat ustadznya menangis.
Air mata ustadz di acara perpisahan mungkin yang paling sering terjadi dan paling mengharukan. Ustadz yang sudah mendampingi satu angkatan selama bertahun-tahun — mengajar mereka dari yang tidak bisa apa-apa sampai menjadi santri yang dewasa dan siap lulus — merasakan campuran bangga dan kehilangan yang sangat kompleks. Bangga karena melihat hasil dari dedikasi bertahun-tahun. Kehilangan karena mengetahui bahwa hubungan intensif setiap hari itu akan berakhir setelah malam ini.
Santri yang melihat ustadznya menangis di momen perpisahan sering baru menyadari betapa besarnya kasih sayang yang selama ini tersembunyi di balik ketegasan. Teguran yang dulu terasa keras ternyata datang dari kepedulian. Aturan yang dulu terasa membatasi ternyata bertujuan melindungi. Semua itu baru terasa sepenuhnya di momen ketika air mata ustadz turun — air mata yang membuktikan bahwa di balik peran tegas seorang guru, ada hati yang sangat menyayangi santri-santrinya.
Di Darunnajah 2 Cipining, ustadz dan wali kamar yang mendampingi santri setiap hari membangun hubungan yang melampaui hubungan guru-murid formal. Kedekatan yang terbentuk dari kehidupan bersama dua puluh empat jam menciptakan ikatan emosional yang kuat — dan momen-momen ketika emosi itu terlihat menjadi kenangan yang paling berkesan bagi santri.
Ketegasan dan kelembutan memang bukan dua hal yang bertentangan. Kadang orang yang paling tegas adalah yang paling peduli — dan air matanya yang jarang terlihat justru menjadi bukti paling kuat dari kepedulian itu.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan ustadz di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.