Deja vu adalah kondisi di mana seseorang seakan pernah mengalami suatu hal padahal belum pernah atau baru mengalaminya saat itu juga. Misalnya, ketika seseorang pergi ke suatu kota baru, tapi merasa seolah pernah pergi ke sana.
Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, deja yang berarti “sudah” atau “pernah”, sedangkan vu berarti “melihat” . Kebanyakan orang berpendapat jika mengalami deja vu itu berkaitan dengan hal mistis atau pengalaman hidup di masa lalu, padahal sains dan Islam memiliki penjelasan di balik peristiwa ini.
Dalam penjelasan ilmiah, deja vu terjadi karena adanya gangguan kecil jangka pendek di dalam otak. Salah satu teorinya adalah keterlambatan pemrosesan otak. Hal ini terjadi jika informasi yang diterima oleh otak mengalami keterlambatan di salah satu jalur sehingga otak akan menerima informasi yang sama dua kali. Informasi kedua inilah yang diproses otak seolah-olah sebagai ingatan masa lalu.
Deja vu juga bisa terjadi karena seseorang telah melupakan kejadian yang sama persis terjadi sekarang padanya dengan tempat yang berbeda, namun suasana dan gambaran visualisasi yang hampir sama. Teori ini disebut dengan memory recall.
Nah, kondisi seseorang yang mengalami deja vu sama sekali tidak bertentangan dengan syariat Islam, namun sudut pandang kita yang bisa saja keliru jika menghubungkan dengan hal-hal mistis, reinkarnasi, atau ramalan masa depan. Seperti yang sudah dijelaskan dalam hadist:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 malam (HR. Muslim)”
Ada juga yang mengatakan jika peristiwa deja vu dikaitkan dengan memori manusia yang diperlihatkan ketika ruh pertama kali ditiupkan dan bersaksi kepada Allah di alam ruh. Meski memori ini tidak kita ingat, tetapi sensasi familiar terhadap suatu kejadian kadang dikaitkan dengan gambaran kehidupan yang sudah ditetapkan.
Karena itu, jika kita mengalami deja vu, tidak perlu menganggapnya sebagai tanda akan terjadinya suatu hal yang menimpa kita nantinya.
Fenomena deja vu sangat umum terjadi dan diperkirakan dialami oleh 60-70% populasi manusia. Kondisi ini paling sering terjadi pada usia muda dan frekuensinya cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Deja vu juga dapat terjadi jika otak tidak sedang mengalami kondisi kerja yang optimal
