Menjenguk Anak di Pondok Pesantren — Yang Membuat Kunjungan Singkat Terasa Cukup
Waktu bertemu selalu terasa lebih pendek daripada perjalanan menuju ke sana. Ada beberapa hal kecil yang biasanya membuat selisih itu terasa jauh lebih ringan.
Kenapa hari kunjungan terasa berlalu begitu cepat?
Hari kunjungan biasanya dimulai jauh sebelum mobil bergerak, dari daftar bawaan yang ditulis semalam sebelumnya dan terus bertambah sampai pagi. Sepanjang jalan, pertanyaan yang ingin ditanyakan disusun rapi di kepala. Sesampainya di sana, hampir semuanya lupa ditanyakan.
Yang tersisa dari kunjungan biasanya bukan jawaban atas daftar pertanyaan tadi. Yang tersisa justru hal-hal kecil: cara anak berjalan menghampiri, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, dan seberapa cepat ia kembali ke temannya setelah makanan habis.
Pertemuan singkat memang jarang terasa cukup. Tetapi kepadatan waktu itu bukan satu-satunya penyebab. Sebagian besar orang tua menghabiskan setengah waktu kunjungan untuk memastikan hal-hal yang sebenarnya sudah bisa dipastikan dari jauh, sehingga sisa waktunya menjadi terlalu sempit untuk hal yang hanya bisa didapat dengan bertemu langsung.
Telepon bisa menyampaikan kabar. Melihat wajahnya dari dekat tidak tergantikan apa pun.
Seberapa sering sebenarnya orang tua boleh datang?
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, orang tua boleh datang menengok pada hari apa pun, sepanjang masih di dalam jam kunjung yang berlaku. Tersedia pula wisma di dalam lingkungan pesantren bagi keluarga yang datang dari jauh dan ingin menginap. Keleluasaan seperti ini tidak selalu ada di setiap pesantren, karena itu wajar bila menjadi salah satu hal pertama yang ditanyakan orang tua sebelum memilih.
Apa yang biasanya membuat kunjungan terasa berkesan?
Persiapannya tidak rumit, dan justru hal-hal sederhana yang paling terasa bedanya.
Datang lebih awal dari jam yang biasa dipilih kebanyakan orang memberi ruang yang lebih longgar. Suasana masih lengang, anak belum lelah, dan pembicaraan tidak terpotong hiruk pikuk. Menjelang siang, halaman biasanya jauh lebih ramai dan perhatian anak mudah terbelah.
Soal bawaan, secukupnya biasanya lebih baik daripada sebanyak-banyaknya. Makanan yang dibawa hampir selalu berakhir dinikmati bersama teman sekamar, dan itu justru bagian yang menyenangkan bagi anak. Membawa dalam jumlah yang bisa dibagi merata membuat anak merasa punya sesuatu untuk diberikan, dan kebiasaan memberi ini bagian dari yang sedang dilatih di asrama.
Pertanyaan yang diajukan juga menentukan arah percakapan. Pertanyaan tentang betah atau tidak betah cenderung menutup pembicaraan, karena jawabannya hanya dua dan keduanya sama-sama membuat anak berpikir keras tentang perasaan orang tuanya. Pertanyaan tentang hal yang konkret biasanya membuka lebih banyak: pelajaran apa yang paling menyita waktu pekan ini, siapa teman sekamar yang paling sering diajak berbicara, kegiatan sore apa yang sedang diikuti.
Di luar makanan, bawaan yang paling terasa gunanya biasanya justru barang sehari-hari yang diam-diam sudah habis. Sabun, pasta gigi, kaus kaki, pulpen, atau seragam olahraga yang mulai sempit karena badan anak bertambah tinggi lebih cepat daripada perkiraan. Menanyakan hal ini beberapa hari sebelum berangkat lewat telepon membuat kunjungan tidak habis untuk mendata kekurangan.
Ada satu hal lagi yang sering terlewat, yaitu memberi ruang diam. Anak yang baru beberapa bulan tinggal jauh dari rumah tidak selalu langsung ingin bercerita. Sebagian membutuhkan setengah jam pertama hanya untuk duduk dekat orang tuanya tanpa perlu menjawab apa pun. Setelah itu biasanya cerita mengalir sendiri, dan yang keluar justru bagian yang tidak akan pernah muncul kalau ditanyakan langsung.
Saat berpamitan, menyebut kapan akan datang lagi biasanya lebih menenangkan daripada janji yang mengambang. Kepastian membuat perpisahan lebih pendek, untuk anak maupun untuk yang mengantar sampai gerbang.
Siapa lagi yang sebaiknya ditemui selain anak?
Sebagian besar orang tua datang, bertemu anak, lalu pulang. Padahal ada satu percakapan singkat yang sering memberi gambaran paling utuh, yaitu percakapan dengan wali kamarnya.
Wali kamar berdiam berdekatan dengan asrama dan menemani santri setiap hari. Mereka mengetahui hal-hal yang tidak muncul dalam percakapan telepon: bagaimana anak bangun pagi, seberapa cepat ia menyesuaikan diri dengan teman-temannya, bagian mana dari pelajaran yang membuatnya mengulang lebih lama. Percakapan lima belas menit dengan orang yang melihat anak setiap hari sering kali lebih menjelaskan daripada berjam-jam menduga-duga di rumah.
Pertanyaan yang biasanya paling berguna disampaikan kepada wali kamar cukup sederhana. Bagaimana anak ini di kamar ketika tidak ada yang mengawasi, bagian keseharian mana yang masih dia keluhkan, dan apa yang sebaiknya dilakukan orang tua dari rumah untuk membantu. Jawaban atas tiga hal itu sering mengubah cara sebuah keluarga bersikap pada bulan berikutnya.
Bila ada hal yang mengganjal, waktu berkunjung adalah saat paling tepat untuk menyampaikannya. Menyimpannya sampai kunjungan berikutnya jarang membuat keadaan membaik dengan sendirinya.
Bagaimana kalau bulan ini benar-benar tidak bisa datang?
Ada keadaan yang tidak bisa dihindari. Pekerjaan menumpuk, ada anggota keluarga yang sakit, atau jarak dan biaya perjalanan sedang tidak memungkinkan. Kekhawatiran yang muncul kemudian hampir selalu sama, yaitu apakah anak akan merasa dilupakan.
Tersedia wartel di dalam pesantren untuk menelepon maupun melakukan panggilan video, dan bagi banyak keluarga fasilitas ini yang menjaga sambungan pada pekan-pekan yang tidak memungkinkan untuk datang. Pemantauan keuangan santri pun dapat dilihat kapan saja melalui portal resmi, sehingga kebutuhan sehari-hari anak tetap terpantau tanpa harus menanyakannya berulang kali.
Yang biasanya lebih menentukan bukan seberapa sering orang tua datang, melainkan seberapa dapat diandalkan kedatangan itu. Anak yang tahu bahwa orang tuanya akan datang pada waktu yang sudah disebutkan cenderung lebih tenang daripada anak yang sering dijenguk tetapi tanpa pola yang bisa diperkirakan.
Kunjungan pertama setelah keberangkatan biasanya yang paling menguras. Anak masih di tengah masa penyesuaian, dan tidak jarang air matanya keluar justru ketika melihat orang tuanya datang, bukan ketika ditinggal. Reaksi itu sering disalahartikan sebagai tanda anak tidak sanggup, padahal umumnya ia hanya melepaskan apa yang selama beberapa pekan ditahannya sendiri. Wali kamar yang mendampingi sehari-hari biasanya bisa memberi gambaran yang lebih tenang tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ada juga hal yang jarang dikatakan orang tua kepada siapa pun. Sebagian dari berat hari kunjungan sebenarnya bukan tentang anak, melainkan tentang diri sendiri yang harus melepas untuk kedua kalinya di gerbang yang sama. Perasaan itu wajar dan hampir semua orang tua santri pernah melewatinya. Biasanya ia mereda seiring anak mulai bercerita tanpa diminta.
Bagaimana mengetahui suasananya sebelum memutuskan?
Aturan kunjungan tiap pesantren berbeda, dan perbedaan itu berpengaruh besar pada keseharian sebuah keluarga selama bertahun-tahun ke depan. Karena itu wajar bila hal ini ditanyakan sejak awal, sebelum berkas pendaftaran diisi.
Melihat suasananya sendiri bisa dilakukan kapan saja, bahkan oleh keluarga yang belum mendaftar dan hanya ingin menengok dari dekat. Untuk menanyakan jam berkunjung, penginapan, atau hal lain yang perlu disiapkan, satu pesan ke wa.me/62812111180 sudah cukup untuk memulai.