Mengobati Penyakit Kejiwaan dengan Puasa
Menu

Mengobati Penyakit Kejiwaan dengan Puasa

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Sepanjang hidup ini, manusia sering dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda secara silih berganti, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Terkadang manusia juga harus melewati masa-masa bahagia dan sengsara secara bergantian, kelapangan hidup atau kesusahan yang begitu menghimpit, dan kondisi-kondisi yang berlawanan lainnya. Ketika keadaan itu benar-benar sudah mendesak dan jalan keluar dari semua duka nestapa tidak lagi terlihat, maka tempat berlindung satu-satunya hanyalah kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah tersebut dengan harapan semoga dalam waktu dekat Allah swt akan memberikan jalan keluar.

Fase-fase dan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi manusia sepanjang hayatnya sedikit banyak akan berpengaruh pada kesehatan jiwanya. Disinilah puasa menjalankan peranannya dalam rangka mengurangi beban tubuh dari berbagai penderitaan hidup tadi. Dengan berpuasa ketenangan jiwa akan terwujud, karena puasa mampu menciptakan rasa aman dan tenteram.

Saat Menjelang Buka PuasaHidup orang yang berpuasa seyogyanya berjalan dengan cara mengisolasi diri, hidup hanya bertemankan dirinya saja, dan melepaskan berbagai keinginan. Ia juga hendaknya melatih diri agar kuat menanggung beratnya beban hidup, membiasakan diri bersabar terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup dan berlaku zuhud di dalamnya. Pun merasa cukup dengan yang sedikit dan tidak mengambil darinya kecuali sebatas menegakkan punggungnya serta menjaga dirinya dari kebinasaan.

Kezuhudan disini tidak timbul dari ketidakmampuan. Namun sebaliknya, hal itu timbul dari keinginan yang tulus untuk membebaskan jiwa dari “cengkeraman” materi. Dengan demikian, jiwa akan dengan mudah bergerak dan meluncur ke ruang yang lebih luas dari sebelumnya. Disinilah manusia akan merasakan kembali kebahagiaan yang pernah hilang, ketenangan dan ketentraman yang didambakan terwujud, sehingga dia mampu memikul beban hidup dan menghadapi berbagai permasalahannya dengan lapang dada dan tekad  kuat. Itu disebabkan karena ia telah melatih dan membiasakan dirinya bersabar. Itulah pelajaran pertama yang dapat dipetik dari puasa.

Dengan demikian, jelaslah sudah mukjizat ilahi dan hikmah rabbani yang terkandung dalam kewajiban ibadah puasa yang termaktub dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah: 183)

Ketika seorang muslim berpuasa, ia akan selalu yakin bahwa dirinya dalam penjagaan Allah dan terasa amat dekat dengan-Nya. Sebagaimana ia juga merasa senantiasa diawasi oleh-Nya pada saat ia berpuasa oleh Dzat yang Maha Mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan hati.

Dengan demikian, jiwanya akan mampu mengendalikan keinginan-keinginannya dan organ tubuh pun tidak akan mau melakukan kesalahan dan kealpaan. Ia akan berusaha sedapat mungkin menjauhi dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar sebagai bukti ketaatan dan taqarrub-nya kepada Allah, Rabb dan Penciptanya. Juga bukti rasa takutnya dari siksa dan azab-Nya, serta upayanya menggapai rahmat dan pahala dari-Nya. Ditambah lagi, dengan pemahamannya yang baik akan hakikat puasa sebagai jalinan rahasia antara Sang Pencipta dan hamba-Nya. Tiada yang mengetahui jalinan rahasia itu selain Dia, dan Dia pula yang akan membalas puasanya itu dengan hadiah yang istimewa.

Cukuplah puasa sebagai pendidik hati nurani manusia. Puasa akan menjadikan seseorang selalu merasa dalam pengawasan Allah dan takut terhadap-Nya. Puasa akan membuat manusia selalu mensyukuri nikmat dan anugerah-Nya yang melimpah. Akan terpampang di hadapannya betapa besar nilai nikmat yang dirasakannya selama ini yang sebelumnya tidak disadarinya dan tidak dianggap bernilai baginya.

Puasa akan menjadikannya merasa bertanggungjawab atas semua perbuatannya baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sebab, pada akhirnya ia akan mengetahui bahwa di sana ada Ilah (Tuhan) Yang Maha Esa, Pemilik alam ini, yang akan menanyakan segala hal yang telah dikerjakan dan yang di lalaikannya, dan mengetahui semua yang di rahasiakan ataupun dilakukannya secara terang-terangan.

Dari sini, semakin jelas kebenaran hadits yang di sampaikan Rasulullah yang diriwayatkan dari Rabb nya. Dia berfirman:

كُلُّ  عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْممَ فَإِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ

“Semua amal anak cucu Adam itu untuknya, kecuali puasa. Sebab, puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Bila kami sebutkan satu per satu jenis penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan dengan Puasa niscaya akan menghabiskan banyak halaman dari tulisan ini. Oleh karena itu, kami akan menyebutkan sebagiannya saja sebagai contoh, antara lain; kegoncangan jiwa atau mental yang tidak stabil, depresi, introvert (orang yang suka menyendiri dan menarik diri dari masyarakat), mudah marah, rasa cemas, was-was, egois, dan lain-lain.

[WARDAN/@abuadara]

Disampaikan pada Talim Bakda Isya oleh santri Kelas 6 TMI di Masjid Pesantren Darunnajah Cipining, Jumat 8 Februari 2013

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Menghadapi Ujian Dari Allah dengan Kesabaran

Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan allah dari makhluk yang lain. Mengapa demikian? Karena manusia adalah makhluk istimewa yang allah beri akal dan jasad yang

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Menyibukkan Diri Untuk Mengingat Allah Dengan Berdo’a

Kita sering kali susah payah menggapai hasil yang kita cita-citakan. Tak peduli siang maupun malam mengeluarkan keringat untuk menggapainya. Entah perihal akademik, bisnis atau bidang