Aula Kampus 1 riuh oleh derap langkah santriwati pada Kamis, 30 Juli 2026. Latihan kepramukaan mingguan kembali digelar oleh Bagian Pengasuhan Putri. Seluruh santriwati dari kelas 1 hingga 6 TMI mengikuti kegiatan tersebut. Satu tujuan menjadi benang merahnya: menjadikan sepuluh butir Dasa Darma sebagai laku keseharian, bukan hafalan yang berhenti di bibir.
Kegiatan rutin ini menempatkan kepramukaan sebagai ruang latihan karakter di luar ruang kelas. Materi disampaikan oleh Najma Marwah, santriwati kelas 6 TMI, yang bertindak sebagai pemateri sekaligus kakak pembina bagi adik-adik kelasnya. Pola pembinaan berjenjang semacam ini lazim dalam dunia kepramukaan, yakni yang lebih senior menuntun yang lebih muda. Di forum tersebut, para peserta yang akrab disapa andika diajak menelusuri makna setiap butir Dasa Darma satu per satu.

Dasa Darma sendiri memuat sepuluh nilai yang menjadi pedoman perilaku anggota Gerakan Pramuka:
Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
Patriot yang sopan dan kesatria
Patuh dan suka bermusyawarah
Rela menolong dan tabah
Rajin, terampil, dan gembira
Hemat, cermat, dan bersahaja
Disiplin, berani, dan setia
Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
Sepuluh nilai itu beririsan erat dengan kebiasaan yang setiap hari ditanamkan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Butir pertama menempatkan ketakwaan sebagai fondasi, sejalan dengan kesadaran bahwa seluruh amal bermula dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Butir tentang disiplin dan tanggung jawab menemukan wujudnya pada hal-hal sederhana: bangun sebelum subuh, menjaga kebersihan kamar, menepati jadwal, dan menyelesaikan tugas tanpa perlu diawasi. Kepramukaan di Pesantren, dengan demikian, berfungsi sebagai pengulangan nilai dalam bentuk yang lebih ringan dan menyenangkan.
Bagian Pengasuhan Putri menetapkan sasaran yang terukur dari kegiatan ini, yaitu agar santriwati mengetahui seluk-beluk kegiatan pramuka yang ada di lingkungan Pesantren sekaligus terlibat aktif di dalamnya. Pengetahuan menjadi pintu masuk, sementara partisipasi menjadi ukuran keberhasilannya. Latihan mingguan dipilih sebagai wadah karena sifatnya yang berulang dan konsisten. Karakter memang jarang terbentuk dari satu peristiwa besar; ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga sepanjang waktu.
Respons peserta terhadap kegiatan ini tercatat baik. Kehadiran seluruh jenjang kelas dalam satu ruangan menghadirkan pemandangan yang khas, ketika santriwati kelas 1 yang baru mengenal seragam cokelat duduk berdampingan dengan kakak kelas yang sudah lima tahun menjalani ritme yang sama. Di ruang seperti itu, transfer nilai berlangsung dua arah. Yang muda belajar dari yang senior, dan yang senior belajar bertanggung jawab atas adik-adiknya.
Nilai lain yang tumbuh dari latihan berkala ini adalah kemandirian. Kepramukaan mengajarkan santriwati untuk menyelesaikan persoalan dengan sumber daya yang ada, bekerja dalam regu, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kenyamanan pribadi. Keterampilan tersebut akan terpakai jauh setelah masa pendidikan di Pesantren berakhir, baik di bangku kuliah maupun di tengah masyarakat. Dasa Darma, pada akhirnya, adalah bekal perjalanan, bukan sekadar teks yang dilafalkan saat upacara.

Latihan kepramukaan mingguan akan terus berjalan sebagai bagian dari agenda pembinaan santriwati. Para wali santri dan alumni dapat turut mendukung dengan menanyakan pengalaman kepramukaan putri mereka saat berkomunikasi, sekecil apa pun ceritanya. Bagi santriwati sendiri, tantangannya jelas: membawa sepuluh butir itu keluar dari aula dan mempraktikkannya di kamar, di kelas, dan di masjid. Nilai yang diamalkan selalu lebih bermakna daripada nilai yang dihafalkan.
