Mengajarkan Anak Belajar Ibadah

DNKindergarten, 10/04

Mengajarkan anak melaksanakan ibadah harus dilakukan sejak usia dini. Terutama para ibu, yang sudah mengajarkannya pada anak sejak dalam kandungan. Ia sudah membawa serta saat sholat maupun ketika melafalkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Setelah anak mulai memasuki dunia sekolah, tentu proses pengajaran dan pengenalan tentang ibadah akan sedikit bergeser, yakni pada praktik sehari-hari. Baik ucapan maupun perbuatan. Setiap aktivitas anak dapat dihubungkan dengan keberadaan Allah SWT. Pada saat bermain misalnya ada yang kalah ada yang menang. Kalah dan menang merupakan ketetapan dari Allah. Manusia hanya berusaha untuk menang tapi manusia tidak dapat menentukan kemenangan. Pengertian ini akan menyandarkan anak bahwa kemampuan dirinya hanya berusaha meraih kemenangan. Ia tidak dapat memastikan akan menang dalam permainan. Kekalahan bukan berarti Allah SWT tidak sayang padanya dan kemenangan bukan Allah SWT sayang. Kekalahan mengajarkan anak kekurangan pada dirinya dan memberinya pengalaman dalam hidupnya.

Cara lain mengajarkan anak mencintai Allah dengan memperlihatkan ciptaanNya yang terdapat pada dirinya atau pada alam sekitar. Ajak anak pergi berdarmawisata. Katakan padanya keindahan alam itu ciptaan Allah SWT. Jika anak merasa kegum dan takjub pada ciptaan Allah timbul rasa cinta pada Allah.

Seorang yang telah mencintai Allah di akan menuruti segala perintah Allah yang ia cintai itu. Diantara sekian banyak perintah Allah yang utama ialah mengerjakan shalat Wajib lima waktu sehari semalam. Kewajiban mengerjakan shalat sebagai bukti seorang hamba mensyukuri nikmat Allah yang telah ia peroleh. Shalat merupakan sarana seorang hamba bermohon pada Allah. Doa semua makhluk didengar Allah. Demikian pula dengan do’a tulus seorang anak. Doanya akan didengar Allah.

Mengajarkan anak shalat hindari cara-cara ancaman. Misalnya : “ Jika kau tidak shalat nanti kau dimasukkan dalam neraka. Disiksa Allah dalam kubur.” Dan ancaman lainya. Dalam kehidupan keseharian anak, Allah SWT diperkenalkan sebagai maha pengasih lagi maha penyayang sehingga dalam persepasi anak Allah sosok yang sangat baik dengan sifat-sifat baiknya seperti maha pengampun, maha pemberi, maha pemaaf dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut harus ada pada diri manusia agar disayang Allah. Syarat utama disayang Allah, patuhi perintahnya jauhi segala larangannya. Semua larangan Allah semata-mata untuk kebaikan manusia. Allah SWT melarang mencuri karena mencuri itu merugikan orang lain. Allah menyuruh hambanya berbuat baik sesamanya karena kebaikan itu membuat kehidupan menjadi damai.

sumber: internet

(sita, [email protected])