
Latar belakang santri yang datang dari berbagai daerah dan tingkat ekonomi keluarga yang tidak sama, tentu harus disikapi dengan bijaksana. Di sinilah Masa Orientasi Pesantren (MOP) memilki arti signifikan untuk memberikan pemahaman awal yang mendasar tentang kehidupan, pengasuhan dan pendidikan di pesantren. Pada hari ke dua MOP, Selasa, 20 Juli 2010 seluruh santri baru asrama dan non asrama yang terdiri dari kelas 1 TMI asrama putra dan putri, kelas Intensif asrama putra dan putri, kelas VII MTs dan SMP non asrama putra dan putri, kelas X MA dan SMK non asrama putra dan putri, dikondisikan untuk siap secara mental dan spiritual untuk mulai belajar di pesantren yang sudah berdiri sejak 18 Juli 1988.

Setelah selesai dari aneka game pada pukul 11.00 wib panitia membolehkan para peserta MOP yang tampak suka-ria untuk masuk ke kawasan Objek Wisata Gua Gudawang sekitar 15 menit. Dan ketika mendengar sirene berbunyi maka setiap peserta harus segera mendekati sumber suara untuk berkumpul mengikuti sesi selanjutnya yaitu Mental Building.
“ Al Haqqu bilaa nidzaamin yaghlibuhul baathil binidzaamin, sebuah kebenaran yang tidak teratur rapi akan dikalahkan dengan kebatilan yang direncanakan secara matang” demikian ust. Muhlisin Ibnu Muhtarom, koordinator acara MOP hari kedua mengwali sesi ini dengan kutipan Imam Ali bin Abi Thalib.
Selanjutnya, alumni TMI angkatan 2000 tersebut meminta setiap peserta MOP yang melakukan kesalahan berupa buang sampah sembarangan, tidak menggenakan atribut MOP dan lain-lain untuk berani mengakui. Awalnya tidak ada satupun yang mau mengakui kesalahan mereka. “Rasulullah bersabda: “kullu banii Adam khaththaaun wa khairul khathtaaiina attawaabuun, setiap manusia pasti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang mau bertaubat!” ungkapan ini mendorong 30 puluhan peserta putra berdiri dan mengakui kesalahan mereka, kemudian merekapun beristighfar 10 kali.

Seusai pengondisian awal, beberapa personalia panitia yang sudah membuat scenario segera meneruskan dengan drama yang intinya terjadi konflik antara panitia disebabkan terjadi perbedaan pandangan perlu tidaknya santri baru yang melanggar diberi sangsi. Drama ini cukup seru dan tak pelak membuat santri baru menangis karena mengira hal tersebut bukan rekaan. (baca Catan Baru MOP (2)).

Maksud dan tujuan dari sesi ini adalah melatih mental santri baru untuk tegar, berani dan tidak gentar menghadapi kondisi terpahitpun selagi mereka tidak melakukan kesalahan. Sesi ini disempurnakan dengan do’a oleh Ust. Atijan Yani, A.Ma.Pd (alumni TMI Darunnajah angkatan 1996). Kemudian seluruh peserta bersalaman dengan jajaran panitia agar tidak terjadi balas dendam dan salah faham. Semoga santri baru segera mau dan mampu beradaptasi dan merasa at home belajar di Darunnajah Cipining! (WARDAN/Mr.MIM).
