Masa Orientasi di Pesantren Bukan Sekadar Perkenalan tetapi Pembentukan

Hari pertama itu, tas masih tercium bau baru. Seragam masih kaku. Dan mata masih mencari-cari sosok yang dikenal. Semua terasa asing. Lorong asrama yang panjang, suara adzan yang bergema dari menara, wajah-wajah baru yang belum punya nama. Wajar kalau ada rasa takut.

Tapi coba ingat lagi. Berapa lama rasa asing itu bertahan?

Bagi kebanyakan santri, jawabannya mengejutkan. Bukan berminggu-minggu. Kadang hanya butuh tiga hari. Tiga hari yang padat, yang sengaja dirancang supaya setiap anak baru merasa bahwa tempat ini adalah miliknya juga.

Kenapa hari-hari pertama di pesantren justru penuh permainan?

Kenyataannya, pagi pertama dimulai dengan games kelompok. Bukan games biasa. Setiap permainan punya tujuan yang tidak langsung terlihat. Ada permainan yang mengharuskan satu kelompok mengangkat anggotanya melewati tali tanpa menyentuh. Ada yang memaksa sepuluh anak berkomunikasi tanpa bicara. Ada yang membuat anak paling pendiam justru jadi pemimpin karena dialah satu-satunya yang memperhatikan instruksi dengan benar.

Di situlah sesuatu mulai bergeser. Anak yang tadi duduk sendirian di pojok, tiba-tiba tertawa bersama orang yang baru dikenalnya dua jam lalu.

Permainan itu bukan pengisi waktu. Itu adalah alat untuk meruntuhkan dinding antara aku dan kita.

Apa yang terjadi saat kakak kelas membimbing adik kelas?

Di pesantren, kakak kelas bukan sosok yang dihindari. Mereka adalah pemandu. Saat adik kelas kebingungan mencari ruang makan, kakak kelas yang mengantar. Saat adik kelas belum hafal jadwal, kakak kelas yang mengingatkan tanpa menghakimi.

Ada satu momen yang sering diceritakan alumni. Malam kedua orientasi, kakak kelas mengumpulkan adik-adik kelasnya di halaman asrama. Mereka duduk melingkar dan bercerita. Kakak kelas menceritakan hari pertama mereka sendiri. Betapa takutnya mereka dulu. Dan betapa bersyukurnya mereka sekarang karena tidak jadi pulang.

Kalimat sederhana dari kakak kelas yang pernah merasakan hal yang sama punya kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh pidato siapa pun.

Bagaimana tour pesantren mengubah rasa asing menjadi rasa memiliki?

Hari kedua biasanya diisi dengan pengenalan lingkungan. Setiap sudut punya cerita. Masjid yang menjadi jantung kehidupan pesantren. Lapangan yang akan menjadi saksi pertandingan antar-asrama. Perpustakaan yang pintunya selalu terbuka.

Tour ini dipandu oleh santri, bukan oleh guru. Karena ketika yang menjelaskan adalah seseorang yang seusia, bahasa yang dipakai berbeda. Lebih jujur. Lebih dekat. Informasi kecil yang membuat tempat asing mulai terasa akrab.

Perlahan, peta di kepala mulai terbentuk. Dan ketika kita sudah punya peta, kita tidak lagi merasa tersesat.

Kenapa pramuka dan yel-yel menjadi bagian penting orientasi?

Pramuka di pesantren bukan sekadar baris-berbaris. Itu adalah ruang di mana anak belajar membangun tenda bersama, menyalakan api unggun bersama, dan menyelesaikan pos-pos tantangan bersama.

Lalu ada yel-yel. Setiap kelompok diminta menciptakan yel-yel sendiri. Prosesnya ribut, kacau, penuh perdebatan. Tapi hasilnya selalu sama — saat satu kelompok meneriakkan yel-yel mereka, ada kebanggaan yang muncul dari dada. Kebanggaan yang lahir karena mereka menciptakan sesuatu dari nol, bersama orang-orang yang empat hari lalu masih asing.

Yel-yel itu kadang bertahan bertahun-tahun. Ada alumni yang masih hafal yel-yel kelompok orientasinya meski sudah lulus belasan tahun lalu. Bukan karena yel-yelnya bagus. Tapi karena momen itu menandai titik di mana mereka berhenti menjadi orang asing dan mulai menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Apa yang dibentuk dalam lima hari pertama itu?

Lima hari orientasi tidak menghasilkan santri yang sempurna. Tapi lima hari itu menanamkan satu hal yang akan tumbuh perlahan sepanjang tahun-tahun berikutnya.

Rasa memiliki.

Anak yang merasa memiliki tempatnya tidak mudah menyerah. Anak yang merasa diterima tidak takut mencoba.

Di Darunnajah 2 Cipining, orientasi bukan ritual tahunan yang dilakukan karena tradisi. Itu adalah investasi. Lima hari yang menentukan apakah seorang anak akan bertahan sebulan, setahun, atau sampai wisuda dengan mata berkaca-kaca karena tidak ingin pergi.

Mungkin saat ini ada orang tua yang sedang ragu. Keraguan itu manusiawi. Tapi ketahuilah bahwa ribuan anak sebelumnya pernah merasakan hal yang persis sama, dan sebagian besar dari mereka sekarang bilang bahwa masa orientasi adalah minggu terbaik yang tidak pernah mereka sangka.

Kalau kita ingin tahu lebih banyak, hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Kadang, percakapan singkat bisa menjawab keraguan yang sudah berminggu-minggu menggantung.