Mari Mendidik!!! (Bag. 2)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Guru sebagai pendidik menempati posisi sosial istimewa di dalam masyarakat meskipun terkadang guru jarang atau bahkan tidak dikenal mendapat istilah publik figur. Pada kenyataannya, Publik figur adalah istilah yang biasanya dikaitkan kepada para pesohor seperti artis dan pejabat. Dalam persepsi masyarakat, mereka menyangka seorang publik figur adalah seseorang yang bisa dijadikan contoh bahkan panutan. Alhasil, publik figur justru mempertontonkan adegan-adegan nonedukatif di layar kaca media. Ketika anak-anak mengikuti gaya mereka, justru lagi-lagi siapa yang dipersalahkan? Jawabnya sekolah yang di sana adalah para guru. Kepada publik figur, malah mereka memberikan kata maklum.

Guru memiliki kedudukan yang tinggi dan utama dalam Negara dan agama. Guru sebagai ujung tombak segala bentuk gerakan perubahan menuju kemajuan. Di pundak seorang guru terpikul tanggung jawab yang agung yaitu membina generasi. Dari keringat dan air mata guru-lah sebuah peradaban dibangun. Kepadanya pula cita-cita dan sebuah asa digantungkan. Luar biasa, dalam perjuangan yang demikian berat dan berisiko, guru cukup mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Menyadari betul tentang tugas dan tanggung jawab sebagai guru, maka hendaknya setiap lembaga dan pihak yang menciptakan para guru, hendaknya membekali kepada setiap guru tersebut tidak saja terbatas pada keluasan dan kompetensi ilmu, namun lebih daripada itu, yaitu kepribadian. Menurut Al-Ghazali, tugas-tugas utama sebagai guru adalah sebagai berikut:

1)      Guru hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri. Rosulullah SAW. Mencontohkan hal ini dengan menyatakan posisinya di tengah-tengah para sahabat:

انماانا لكم مثل الوالد لولده

Artinya: Sesungguhnya aku bagi kamu seperti orang tua terhadap anaknya. (H.R Abu Daud Al-Nasai, Ibnu Majah, Dan Ibnu Hibban)

2)      Tidak mengharap upah atau pujian, tapi harus mengharap keridoan Allah dan berorientasi mendekatkan diri padanya.

3)      Guru haendaknya memanfaatkan setiap peluang untuk memberi nasihat dan bimbingan kepada murid bahwa tujuan menuntut imu ialah mendekatkan diri pada Allah, bukan memperoleh kedudukan atau kebanggaan.

4)      Guru harus memperhatikan tehadap fase perkembangan berfikir murid agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berfikir murid.

Dalam paradigma Jawa, guru berarti gu dan ru, yaitu yang “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan teladan oleh peserta didik dan masyarakat.

Menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani tidaklah semua orang dapat melakukannya, karena orang harus merelakan sebagian besar dari seluruh hidup dan kehidupannya dalam pengabdian. Namun dalam diri seorang mukmin, akan terpancar semangat iman dan takwa kepada Allah SWT serta semangat dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW (Al-Ahzab: 21).

Pada sebuah pepatah mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah ini sedikit meringankan tugas guru. Karena seharusnya adalah guru berpengalaman adalah yang terbaik. Jadi, wahai para guru, mari belajar menjadi guru terbaik dengan ‘pengamalan dan pengalaman’!!! (red)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait