Mari Lebih Mengenali, Mencintai & Mengikuti Nabi Muhammad SAW, Semoga Kita di Akui Sebagai Umat Yang Layak Mendapat Syafa Mari Lebih Mengenali, Mencintai & Mengikuti Nabi Muhammad SAW, Semoga Kita di Akui Sebagai Umat Yang Layak Mendapat Syafa

Mari Lebih Mengenali, Mencintai & Mengikuti Nabi Muhammad SAW, Semoga Kita di Akui Sebagai Umat Yang Layak Mendapat Syafa’at

Mari Lebih Mengenali, Mencintai & Mengikuti Nabi Muhammad SAW, Semoga Kita di Akui Sebagai Umat Yang Layak Mendapat Syafa

Kelahiran Sang Pembawa Cahaya

حسبي ربي جلّ الله،
ما في قلبي غير الله،
نور محمد صلى الله،
لا إله إلا الله.

Ada kelahiran yang sekadar menambah jumlah manusia di muka bumi. Tetapi ada kelahiran yang mengubah arah sejarah manusia. Ada bayi yang lahir kemudian tumbuh menjadi orang biasa. Namun ada seorang bayi yang kelahirannya menjadi awal dari perubahan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Dialah Muhammad bin Abdullah ﷺ.

Beliau lahir dalam keadaan yatim. Ayah beliau, Abdullah, telah wafat sebelum beliau lahir. Namun dari rahim seorang wanita mulia, Aminah binti Wahab, lahirlah manusia yang kelak menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman dalam Al Qur’an, surat Al Anbiya: 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Beliau lahir di tengah masyarakat yang secara moral sedang mengalami kerusakan. Kemusyrikan merajalela, kezaliman menjadi kebiasaan, fanatisme kesukuan menguat, orang-orang lemah ditindas, dan sebagian manusia kehilangan arah kehidupan.

Maka kelahiran Muhammad ﷺ bukan sekadar peristiwa biologis. Ia adalah bagian dari rangkaian takdir Allah untuk menghadirkan seorang Rasul terakhir yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Rasulullah ﷺ sendiri ketika ditanya tentang puasa hari Senin menjelaskan:
«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ، أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ»
Hari Senin memiliki keistimewaan karena pada hari itulah beliau dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepada beliau. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah r.a. (Sunnah)

Dalam sejumlah riwayat sirah juga disebutkan adanya cahaya yang dilihat oleh Aminah ketika melahirkan Rasulullah ﷺ, yang digambarkan menerangi wilayah Syam. Riwayat tentang cahaya ini dikenal dalam literatur sirah dan disebutkan oleh para ulama, termasuk Ibn Hibban, meskipun rincian sanad dan redaksinya memiliki pembahasan di kalangan ahli hadis. Karena itu, kisah ini lebih tepat disampaikan sebagai riwayat sirah, bukan sebagai hadis sahih yang tidak diperselisihkan. ([Tohed][2])

Demikian pula, kita sering mendengar kisah bahwa pada malam kelahiran Rasulullah ﷺ istana Kisra bergetar dan beberapa balkonnya runtuh, api Persia yang telah menyala lama padam, serta Danau Sawa mengering. Kisah-kisah tersebut memang terdapat dalam sebagian karya sirah dan sejarah, tetapi tidak selayaknya disampaikan dengan kepastian yang sama seperti hadis-hadis yang sahih. Bahkan sumber-sumber yang membahasnya mengakui adanya persoalan autentisitas riwayat tersebut. Maka, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak membutuhkan cerita yang lemah, karena kisah hidup beliau yang sahih sudah jauh lebih agung daripada segala cerita yang dilebih-lebihkan.

Justru di sinilah letak keistimewaan Rasulullah ﷺ. Kita tidak membutuhkan legenda untuk membuktikan kemuliaannya. Al-Qur’an sudah menjadi bukti. Akhlaknya menjadi bukti. Perjuangannya menjadi bukti. Mukjizatnya menjadi bukti. Dan pengaruh risalahnya terhadap manusia menjadi bukti. Beliau lahir sebagai seorang yatim, tetapi kemudian menjadi pemimpin umat manusia. Beliau lahir tanpa kekuasaan, tetapi mampu mengubah peta peradaban. Beliau tidak mewarisi kerajaan, tetapi membangun masyarakat yang berlandaskan iman, ilmu, akhlak, keadilan dan persaudaraan. Maka, semakin kita mengenal beliau, semestinya semakin dalam pula cinta kita kepada beliau.

Mengenal Untuk Mencintai

Merupakan sebuah aksioma bahwa kita tidak akan bisa mencintai seseorang jika kita tidak mengenalinya dengan baik. Kita tidak mungkin mencintai seseorang secara mendalam hanya karena namanya sering kita dengar. Kita tidak mungkin mencintai seseorang hanya karena fotonya kita pasang. Kita tidak mungkin mencintai seseorang hanya karena namanya kita sebut dalam berbagai kesempatan. Cinta yang benar akan melahirkan keinginan untuk mengenal, meneladani dan mengikuti.
Untuk itu marilah pada kesempatan mulia ini, yang juga bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, kita meningkatkan dan memperdalam pengetahuan kita tentang idola umat yang memiliki begitu banyak gelar kemuliaan itu, sehingga cinta kita kepada manusia terbaik di dua alam tersebut akan semakin mendalam, menghujam dan mencerahkan.

Jangan sampai kita kalah dalam mengenal Rasulullah ﷺ dengan orang-orang yang bukan Muslim. Michael Hart, seorang nonmuslim, misalnya, melalui kajian dan penilaian sejarahnya, menempatkan Muhammad ﷺ sebagai tokoh nomor satu di antara 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Tentu saja, bagi seorang Muslim, kemuliaan Rasulullah ﷺ tidak ditentukan oleh penilaian Michael Hart maupun siapa pun.

Kita mengenal beliau karena Allah telah memilihnya. Kita mencintai beliau karena Allah memerintahkan kita mencintainya. Dan kita mengikuti beliau karena Allah menjadikan beliau sebagai uswah hasanah, teladan yang terbaik.
Allah menjelaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيراً
“Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian yang mengharapkan ridha Allah dan kebahagiaan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya persoalan perasaan. Cinta kepada Rasulullah harus melahirkan ittiba’. Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”

Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas. Jika kita mengaku mencintai Allah, maka ikutilah Rasulullah ﷺ. Dan jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, maka pertanyaannya adalah: sudah sejauh mana kita mengikuti beliau?

Dua Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah seorang mu’min akan diterima oleh Allah jika terpenuhi dua syarat mutlak. Pertama adalah ikhlas, karena dan untuk Allah semata. Kedua adalah ittiba’, mengikuti tata cara Rasulullah ﷺ. Tidak ada tolok ukur, parameter dan contoh yang lebih baik dalam ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, serta dalam bermu’amalah kepada Allah dan makhluk-Nya, kecuali apa-apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Secara global akhlak beliau dinyatakan oleh Aisyah r.a. sebagai aplikasi dari Al-Qur’an. Seakan-akan Al-Qur’an itu berjalan dalam kehidupan beliau. Karena itulah, semakin kita mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ, semakin kita memahami bagaimana Al-Qur’an seharusnya hidup dalam diri seorang manusia.
Nasab Dan Keluarga Rasulullah ﷺ

Dalam kitab Ar-Rahiiqul Makhtuum, nasab atau garis keturunan Rasulullah ﷺ yang disepakati oleh ahli sejarah adalah sampai kepada Adnan. Adapun pendapat yang menghubungkan nasab beliau sampai kepada Ibrahim AS atau bahkan Adam AS memiliki perbedaan dan perselisihan di kalangan ahli sejarah.

Adapun nasab beliau yang disepakati adalah:
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr—yang digelari Quraysy—bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Huzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Keluarga Rasulullah dikenal dengan Bani Hasyim, yang merupakan nisbah kepada kakek beliau, Hasyim, yang terkenal dengan kemuliaan dan orang yang pertama kali memberikan jamuan kepada para peziarah Ka’bah serta menganjurkan perjalanan pada dua musim, musim dingin dan musim panas, rihlatasy-syitaa’i wash-shaif.

Kehidupan Keluarga Rasulullah ﷺ

Selama hidup beliau menikah dengan sejumlah wanita pilihan. Mereka dikenal sebagai Ummahaatul Mu’minin. Di antara mereka adalah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khaththab, Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah Hind binti Umayyah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Shafiyyah binti Huyay, Maimunah binti al-Harits, serta Mariyah al-Qibthiyyah. Adapun status Raihanah binti Zaid diperselisihkan dalam riwayat.

Perlu dipahami dan diyakini bahwa pernikahan Rasulullah ﷺ memiliki konteks dakwah, sosial, kemanusiaan dan ketentuan khusus yang tidak dapat begitu saja disamakan dengan kehidupan manusia biasa. Beliau juga tidak berpoligami selama Khadijah r.a. masih hidup.

Dari keluarga berkah tersebut Rasulullah ﷺ mendapatkan putra-putri tersayang. Dari Khadijah r.a. lahir Al-Qasim, Zainab, Abdullah, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Sedangkan Ibrahim lahir dari Mariyah al-Qibthiyyah.

Berikut ini kronologi kehidupan Rasulullah secara global dalam hitungan tahun Masehi/Miladiyah:

  • 569 Sang ayah meninggal
  • 571 Kelahiran Rasulullah
  • 576 Sang Ibu meninggal setelah berziarah ke makam Abdullah
  • 578 Sang kakek, Abdul Muthalib, meninggal
  • 583 Ikut berdagang ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, diberitahukan tanda kenabian (irhas)
  • 595 Bertemu dan menikah dengan Khadijah
  • 610 Permulaan turunnya wahyu di gua Hira
  • 613 Mulai menyampaikan Islam ke publik
  • 615 Hijrah pertama ke Habasyah
  • 616 Boikot Qurays kepada Bani Hasyim
  • 619 ‘Aamul Huzni, meninggalnya Khadijah dan Abu Thalib
  • 620 Isra Mi’raj
  • 621 Baiat Aqabah I
  • 622 Baiat Aqabah II dan Hijrah ke Madinah Al Munawarah
  • 624 Perang Badar
  • 625 Pengusiran Bani Qainuqa’, Perang Uhud, Pengusiran Bani Nadir
  • 626 Penyerangan ke Daumat Al Jandal
  • 627 Perang Khandaq, Pengusiran Bani Quraizhah
  • 628 Perjanjian Hudaibiyyah, Umrah ke Ka’bah, perang Khaibar
  • 629 Berhaji ke Makkah, perang Mut’ah
  • 630 Fathu Makkah, perang Hunain, Pendudukan Thaif
  • 631 Penguasaan sebagian besar Jazirah Arab
  • 632 Perang Tabuk, Haji Wada’ dan wafatnya Rasulullah.

Bagaimana Sifat Fisik Rasulullah?.

Saat seseorang memandang fisik Rasulullah saw., ia segera merasakan bahwa ia sedang berada di depan keindahan yang sangat mengagumkan dan tak ada duanya. Penampilan yang mencerminkan kepercayaan yang mutlak dan tak terbatas. Berikut ini adalah pendapat yang disepakati oleh mereka yang bertemu dan melihat langsung Rasulullah SAW.

Ad-Darimi dan al-Baihaqi mentakhrij bahwa Jabir bin Samurah berkata, “Aku melihat Nabi SAW. pada malam bulan purnama, dan ketika aku bandingkan antara wajah Nabi SAW. dan indahnya bulan, saya dapati wajah Nabi SAW. lebih indah dibandingkan rembulan.”

At-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah SAW. Seakan-akan mentari bersinar dari wajah beliau. Aku tidak pernah dapati seseorang yang lebih cepat jalannya dibandingkan beliau, seakan-akan bumi melipat sendiri tubuhnya saat beliau berjalan. Ketika aku ikut berjihad, aku lihat beliau tidak pernah berlindung di balik perisai.”

Bukhari-Muslim meriwayatkan bahwa al-Barra berkata, “Rasulullah SAW. mempunyai pundak yang lebar, rambutnya mencapai ujung telinga, dan tidak pernah ada orang yang lebih indah dipandang dibandingkan beliau.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia pernah diminta untuk menceritakan tentang Rasulullah SAW. kepada kami, kemudian ia menjawab, “Beliau memiliki wajah yang putih dan berseri.”
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW. memiliki dua kaki yang kokoh dan tegap, dan wajah yang indah, yang belum pernah kutemukan wajah seindah itu sebelumnya.”

Abu Musa Madini meriwayatkan dalam kitab ash Shahabah bahwa Amad bin Abad al-Hadhrami berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW., dan tidak pernah melihat wajah seindah itu sebelumnya maupun sesudahnya.”

Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku tidak pernah temukan orang yang lebih berani, dermawan, dan lebih bersinar wajahnya, dibandingkan Rasulullah SAW.”

Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Mahrasy Kahti berkata, “Rasulullah SAW. mengambil umrah dari ji’ranah, pada malam hari. Dan, ketika saya melihat bagian belakang tubuh beliau, saya seperti melihat perak yang menyala.”

Abdullah bin Imam Ahmad serta al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Rasulullah SAW. bukanlah orang yang tubuhnya tinggi menjulang. Jika berjalan bersama rombongan, beliau tampak menonjol. Wajahnya putih, kepalanya besar, alis matanya panjang dan hitam, dan jika ada keringat yang menetes dari wajah beliau, akan tampak seperti mutiara. Aku tidak pernah melihat wajah seindah wajah beliau, sebelumnya atau setelahnya.”

Deskripsi tentang Rasulullah SAW. yang diberikan oleh Hindun bin Abi Halah,
“Tubuh Rasulullah SAW. menampakkan pribadi yang agung. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Kepalanya besar. Rambutnya keras. Kuliatnya putih kemerahan. Keningnya luas. Alisnya tebal. Jika marah, keningnya meneteskan keringat. Hidungnya mancung. Tubuhnya diliputi cahaya. Orang yang tidak memperhatikan dengan saksama menyangkanya amat tinggi. Jenggotnya tebal. Matanya hitam. Kedua pipinya tirus. Mulutnya lebar. Giginya indah. Memiliki bulu halus di atas perut dan dada yang seimbang. Dadanya bidang. Kedua pergelangan tangannya panjang. Telapak tangannya luas. Kedua kaki dan tangannya kekar. Jari-jarinya panjang. Jalannya tegap, seperti sedang turun dari ketinggian. Jika menoleh, dengan seluruh tubuhnya. Pandangannya selalu tertunduk ke tanah, dan jarang sekali mendongakkan matanya ke langit….”

Jika Rasulullah menyentuh seseorang, orang itu akan merasakan ketenangan yang mengagumkan, dan perasaan ketinggian ruhani yang menakjubkan. Sebagimana Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Suatu ketika aku jatuh sakit di Mekah. Kemudian Rasulullah SAW. menjenguk, meietakkan tangan beliau di kening, dan mengusap wajah, dada, serta perutku. Hingga saat ini, aku masih merasakan sentuhan tangan beliau dijantung.”

Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bin Samurah berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW. mengusap mukaku dengan tangannya. Aku dapati tangan beliau demikian sejuknya dan berbau wangi. Seakan-akan tangan tersebut baru dikeluarkan dari kantong (minyak) kesturi.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Anas r.a. berkata, “Aku belum pernah menemui sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan Rasulullah SAW. Dan, belum pernah mencium bau misik atau minyak anbar yang lebih harum dari Rasulullah SAW..”

Penampilan beliau memberikan sugesti kepada orang yang melihatnya bahwa orang tersebut sedang berdiri di hadapan seorang Nabi. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam berkata, “Ketika Nabi SAW. datang ke Madinah, aku menemui beliau. Ketika aku melihat wajah beliau, aku segera mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta.”

Abu Ramtsah Tamimi berkata, “Aku mendatangi Nabi SAW. bersama anakku. Ketika aku melihat beliau, hatiku langsung berkata, ‘Orang ini pastilah nabi Allah.”
Abdullah bin Rawahah berkata tentang Rasulullah SAW, “Seandainya tidak ada ayat-ayat penjelas pun, yang menerangkan beliau sebagai rasul, niscaya penampilan dan tubuh beliau sudah cukup menjadi keterangan itu.”
Ini adalah sebagian riwayat yang menjelaskan tentang tubuh Rasulullah SAW.

Semua keagungan postur tubuh beliau itu kami ceritakan kembali, sehingga kita dapat menangkap dengan jelas kepribadian Rasulullah SAW. dari segala seginya.
Kemuliaan Ahlaq Rasulullah.
Kemuliaan Ahlaq Rasulullah, antara lain tergambar dalam buku Yaumun Fii Baiti Rasulillah yang ditulis Abdul Malik Ibnu Muhammad Al Qasim diterangkan Al Husain bin Ali, cucu Rasulullah, menceritakan bagaimana keagungan kakeknya itu dalam sebuah riwayat, “Aku bertanya kepada ayah (Ali bin Abi Thalib) tentang bagaimana Rasulullah ditengah-tengah sahabatnya?, Ayah berkata: Rasulullah selalu menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapapun, lemah-lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur-ulur waktu dan tidak tergesa-gesa. Beliau menjauhi tiga hal: riya, boros dan sesuatu yang tidak berguna. Dan tidak pernah mencaci seseorang dan menegur dengan keras karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat dan berpahala. Kalau beliau berbicara maka yang lain diam menunduk seperti ada burung di atas kepala mereka, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang lain menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang berkesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari orang yang pernah dipuji olehnya”. (HR. Tirmidzi)

Dengan bahasa yang sederhana dapat kita simpulkan bahwa kita harus berupaya dengan maksimal untuk mau dan mampu mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah secara qauliyah (perkataan), fi’liyah (perbuatan), taqririyah (keputusan) dan hammiyah (keinginan kuat), baik yang berupa gambaran dan penampilan (Shurah), perjalanan hidup (Siirah) dan kerisauan terhadap urusan umat Islam (Sarirah). Tidak Ada Sunnah Rasul Yang Ringan Bagi Yang Tidak Ada Cinta, Dan Tidak Ada Sunnah Rasul Yang Berat Jika Sudah Benar-Benar Cinta!

Ketika Kita Membutuhkan Rasulullah ﷺ

Pada akhirnya akan datang suatu hari yang tidak ada seorang pun dapat menghindarinya. Hari ketika manusia dibangkitkan. Hari ketika manusia dikumpulkan. Hari ketika matahari didekatkan. Hari ketika manusia mengalami kesulitan yang sangat berat. Manusia pada Hari Qiamat kelak akan dikumpulkan di Mahsyar dalam keadaan ‘Uraatan (tanpa pakaian), Khufaatan (tanpa alas kaki) dan ghurlan (belum terkhitan) yang menggambarkan kondisi kelemahan di atas kelemahan. Hari ketika setiap orang mencari pertolongan.
Manusia mendatangi Adam AS., sebagai Abul Basyar (Nenek moyangnya manusia). Adam berkata, “Aku tidak mampu.” Karena ia pernah makan buah Khuldi yang terlarang. Mereka mendatangi Nuh AS. Nuh berkata sebagai Awwalur Rusul (rasul pertama), “Aku tidak mampu.” Karena ia pernah bersalah memohon ampunan untuk anaknya yang kafir, Kan’an. Mereka mendatangi Ibrahim AS, Khalilullaah (Kekasih Allah) Ibrahim berkata, “Aku tidak mampu.” Karena ia pernah berbohong tiga kali terkait jawaban sakit ketika diajak berburu, jawaban pelaku penghancuran berhala dan Sarah sebagai saudarinya padahal istrinya. Mereka mendatangi Musa AS, Kaliimullaah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah). Musa berkata, “Aku tidak mampu.” Karena ia pernah memukul seorang yang kemudian meninggal dunia. Mereka mendatangi Isa AS. Isa-pun berkata, “Aku tidak mampu.”….

Lalu mereka datang kepada Muhammad ﷺ. Dan pada saat itulah tampak salah satu kemuliaan terbesar Rasulullah ﷺ. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa manusia akan mendatangi beliau. Kemudian beliau meminta izin kepada Allah, bersujud dan memuji Allah dengan pujian yang Allah ajarkan kepada beliau. Setelah itu dikatakan kepada beliau:
«يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَهْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ»
“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Katakanlah, niscaya akan didengar. Mintalah, niscaya akan diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima.”
Itulah syafa’atul ‘uzhma yang agung. (Sunnah). Namun perhatikan satu hal yang sangat mengharukan. Rasulullah ﷺ bukan hanya memikirkan umatnya ketika hidup. Beliau juga memikirkan umatnya ketika menghadapi kematian.

Bahkan beliau menyimpan satu doa khusus untuk umatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Setiap nabi memiliki satu doa yang dikabulkan. Setiap nabi telah menyegerakan doanya. Sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. ([Sunnah][4]).

Subhanallah!
Kita mungkin sering lupa kepada Rasulullah ﷺ. Tetapi Rasulullah ﷺ tidak melupakan kita. Kita mungkin lalai menghidupkan sunnahnya. Tetapi beliau telah menyimpan doa untuk umatnya. Maka pantaskah kita mengaku mencintainya sementara sunnahnya kita tinggalkan?
Telaga Kautsar
Dan setelah itu, Rasulullah ﷺ juga mendapatkan karunia yang sangat agung: Al-Kautsar.
Allah berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ۝ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.”
Al-Kautsar adalah kebaikan yang sangat banyak yang Allah karuniakan kepada Rasulullah ﷺ. Di antara karunia tersebut adalah sebuah sungai di dalam surga. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Al-Kautsar adalah sungai yang Allah berikan kepada beliau di surga. ([Sunnah][5])

….Alangkah indahnya hidup ini,
Anda dapat kutatap wajahmu,
Pasti kan mengalir air mataku,
Karena pancaran ketenanganmu,
Ya Rasulallah Ya Habiballah…tak pernah kutatap wajahmu,
Ya Rasulallah Ya Habiballah…kami rindu padamu,
Ya Rasulallah Ya Habiballah….terimalah kami sebagai umatmu,
Ya Rasulallah Ya Habiballah…kurniakanlah syafa’atmu…..

إن الحبيب المصطفى، ذو رأفة وذو وفاء
وذكره فيه الشفاء، إذا تمادى بالعلل….
Wahai Nabi….kami rindu,
Izinkanlah tuk bertemu,
Walau hanya dalam mimpi,
Ku berharap memandangmu.

Kami insan penuh dosa,
Yang mengharap pertolongan,
Dengan rahmatmu Ya Rasul,
Kami mohon syafa’atmu….

Semoga Allah mengaruniakan kekuatan dan bimbingan kepada kita untuk menghidupkan dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ, sehingga kelak pada hari kiamat yang sangat dahsyat, kita layak diakui sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, mendapatkan syafa’at beliau, dan termasuk orang-orang yang memperoleh minuman dari telaga beliau. Aaamiiin.


  • Rujukan utama: Kitab Ar Rahiiqul Makhtuum, Bahtsun Fissiirah an Nabawiyah ‘Ala Shaahibihaa Afdhalush Shalaatu wassalaam, karya Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, Darussalam Linnasyr wat Tauzi’, Riyadh, 1418 H.
  • Syarhu Syamaailin Nabiyyi Shollaahu ‘Alaihi Wassalam, LiAbi ‘Isa Muhammad ibni ‘Isa At Tirmidzi, Riyadh, 1435 H/2014 M.

Sumber dari media:

*
[4]:https://sunnah.com/muslim%3A199a?utm_source=chatgpt.com “Sahih Muslim 199a – The Book of Faith – كتاب الإيمان – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)”

*
[5]:https://sunnah.com/bukhari%3A6578?utm_source=chatgpt.com “Sahih al-Bukhari 6578 – To make the Heart Tender (Ar-Riqaq) – كتاب الرقاق – Sunnah.com – Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (صلى الله عليه و سلم)”

Disampaikan pertama kali dalam Khutbah Jum’at, 5 Rabi’ul Awwal 1431 H/19 Februari 2010 M, dan disampaikan kembali dengan sedikit revisi pada Jum’at, 11 Rabi’ul Awwal 1444 H/7 Oktober 2022 M di Masjid Jami’ Darunnajah 2 Cipining Bogor, kemudian diedit lagi dengan bantuan AI pada Selasa, 12 Rabi’ul Awwal 1448 H/25 Agustus 2026/ oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom (Alumni Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor Barat & Daurah Shaifiyah Ummul Qura Makkah Al Mukarramah 2015).