Sebanyak 103 santriwati kelas 5 TMI menggelar pagelaran seni Drama Arena (DA) 2026 Putri di Aula Kampus 1, Kamis, 10 September 2026. Panggung malam itu menghadirkan tema yang berat, yakni konflik global yang tengah berlangsung serta pengaruhnya terhadap Indonesia. Isu yang biasanya hanya muncul di layar berita diterjemahkan menjadi dialog, adegan, dan konflik batin para tokoh. Pilihan tema ini menjadikan pentas seni tersebut sebagai ruang belajar di luar kelas. Di sana, santriwati diajak membaca dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Seluruh rangkaian acara dirancang dan dijalankan sendiri oleh santriwati kelas 5 TMI di bawah naungan Bagian Pengasuhan Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Mereka menempati posisi ganda sekaligus, sebagai panitia dan sebagai pemain.

Persiapan pementasan berjalan berdampingan dengan rutinitas belajar dan tugas organisasi yang telah lebih dulu melekat pada mereka. Panitia menyebut manajemen waktu sebagai tantangan terbesar sepanjang proses. Latihan harus disisipkan di sela jadwal yang padat, sementara urusan kepanitiaan terus berjalan. Kondisi ini memaksa setiap anggota tim belajar menyusun prioritas secara mandiri. Dari situlah disiplin dan tanggung jawab tumbuh tanpa perlu banyak instruksi.
Dibandingkan pentas serupa pada tahun-tahun sebelumnya, DA 2026 Putri menempatkan drama sebagai porsi yang paling dominan. Fokus tersebut memberi ruang lebih luas bagi santriwati untuk mendalami karakter dan menafsirkan peristiwa dunia nyata. Proses membedah tema yang mereka pilih menuntut mereka membaca, berdiskusi, dan menimbang banyak sudut pandang. Pola berpikir kritis terbentuk melalui tahapan itu. Kreativitas kemudian mengikuti, terlihat dari cara mereka mengemas isu rumit menjadi tontonan yang dapat dinikmati.
Respons penonton tercatat sangat positif. Banyak komentar memuji keberanian panitia mengangkat tema kritis yang menantang cara berpikir anak muda. Tata cahaya atau lighting, background panggung, serta suasana ruangan yang cerah turut membangun atmosfer pertunjukan. Perpaduan itu menghasilkan kesan yang bahagia sekaligus serius. Penonton terhibur, sementara pesan yang dibawa tetap sampai.
Panitia menilai pelaksanaan berjalan sangat baik, meski evaluasi tetap diperlukan. Urusan administrasi disebut masih membutuhkan bimbingan agar penanganan masalah bisa lebih cepat dan tanggap. Catatan tersebut menjadi bekal berharga bagi kepengurusan berikutnya. Kesediaan mengakui kekurangan justru memperlihatkan kedewasaan tim dalam menilai kerja sendiri. Pengalaman semacam ini sulit didapatkan dari ruang kelas.
Di balik gemerlap panggung, kegiatan ini menyimpan tujuan yang jauh lebih mendasar. Drama Arena dirancang untuk mempererat ukhuwah islamiyah antar sesama manusia, menumbuhkan sikap kerja sama atau team work, empati, serta budaya musyawarah. Nilai-nilai itu diuji secara nyata ketika 103 orang harus menyatukan gagasan dalam satu pertunjukan. Islam mengajarkan bahwa persaudaraan dibangun melalui kesediaan mendengar dan berbagi peran. Panggung malam itu menjadi laboratorium kecil untuk melatihnya.

Tema yang diangkat dipilih dengan harapan membuka wawasan santriwati terhadap persoalan dunia yang lebih luas. Pesantren berharap pola pikir yang terbentuk dari proses ini kelak berguna untuk memajukan negara. Memahami persoalan global membantu generasi muda menyadari posisi Indonesia di tengah dinamika dunia. Empati terhadap penderitaan sesama manusia pun tumbuh dari pemahaman tersebut. Seni menjadi jembatan yang membuat isu jauh terasa dekat.
Drama Arena 2026 Putri telah usai, namun pelajarannya baru dimulai. Santriwati diajak melanjutkan kebiasaan membaca isu dunia, berdiskusi secara sehat, dan menyalurkan gagasan melalui karya. Bagi orang tua, alumni, dan masyarakat luas, dukungan terhadap kegiatan seni santri adalah investasi bagi lahirnya generasi yang berpikir kritis dan berhati lembut. Mari ikuti dan dukung karya-karya berikutnya melalui kanal resmi Pesantren. Sebab dari panggung sederhana, cara pandang sebuah generasi bisa berubah.
