Ukhuwah Islamiyah — persaudaraan sesama Muslim — adalah istilah yang sering terdengar di ceramah dan kajian. Tapi bagi kebanyakan orang, konsep itu terasa abstrak. Bagaimana mungkin merasa bersaudara dengan orang yang baru dikenal? Bagaimana bisa menyayangi seseorang hanya karena seiman meskipun baru bertemu? Pertanyaan itu wajar. Tapi di pesantren, jawaban atas pertanyaan itu tidak diberikan lewat penjelasan teologis. Diberikan lewat pengalaman langsung yang membuat konsep persaudaraan itu benar-benar terasa nyata di dalam dada.
Di pesantren, santri yang baru pertama kali bertemu langsung ditempatkan di satu kamar, makan di satu meja, sholat di satu shaf. Tidak ada masa perkenalan formal yang panjang. Tidak ada tes kecocokan sebelum dipasangkan sebagai teman sekamar. Mereka langsung hidup bersama — dari hari pertama — dan dari paksaan kebersamaan itulah ikatan persaudaraan mulai terbentuk tanpa perlu direncanakan.
Kita yang pernah mengalaminya tahu bahwa ikatan yang terbentuk di pesantren punya kualitas yang sangat berbeda dari pertemanan di sekolah biasa. Di sekolah, kita memilih siapa yang mau dijadikan teman. Di pesantren, kita belajar menjadikan siapa pun sebagai saudara — termasuk orang yang mungkin di luar pesantren tidak akan pernah kita dekati. Proses menerima seseorang apa adanya tanpa seleksi itu adalah inti dari ukhuwah yang sesungguhnya.
Ukhuwah di pesantren terasa paling nyata di momen-momen yang paling sulit. Saat teman sakit di tengah malam dan kita yang pertama bergerak membawanya ke klinik. Saat teman menangis karena rindu dan kita duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa — cukup hadir. Saat teman gagal di lomba dan kita yang pertama menjabat tangannya. Di momen-momen itu, persaudaraan bukan lagi konsep di buku. Itu tindakan nyata yang datang dari hati tanpa perhitungan.
Pesantren juga mengajarkan ukhuwah lintas perbedaan yang sangat signifikan. Santri dari Aceh bersaudara dengan santri dari Papua. Anak kyai bersaudara dengan anak petani. Yang kaya dan yang sederhana hidup dalam standar yang sama. Perbedaan suku, ekonomi, dan budaya yang di luar sering menjadi sekat, di pesantren dilebur oleh kesamaan tujuan — belajar, beribadah, dan tumbuh bersama. Ukhuwah yang melampaui batas suku dan kelas sosial itu sangat jarang bisa dibentuk di tempat lain.
Dampak ukhuwah pesantren bertahan jauh melampaui masa mondok. Alumni yang sudah puluhan tahun lulus masih memanggil teman pesantrennya dengan sebutan saudara — dan sebutannya itu tulus, bukan sekadar formalitas. Di momen penting kehidupan — pernikahan, kelahiran anak, kehilangan orang tercinta — teman pesantren sering menjadi yang pertama hadir. Ikatan itu tidak melemah meskipun jarak dan waktu sudah memisahkan.
Di Darunnajah 2 Cipining, Ukhuwah Islamiyah menjadi salah satu pilar Panca Jiwa yang dipraktikkan setiap hari. Motto Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan bukan hanya tertulis di dinding — tapi terlihat di cara santri dari berbagai latar belakang hidup bersama tanpa sekat dan saling menyayangi tanpa syarat.
Persaudaraan yang paling kuat memang bukan yang terbentuk dari kesamaan. Tapi dari kebersamaan — dari momen-momen susah yang dilalui bersama, dari doa yang dipanjatkan untuk satu sama lain, dan dari keyakinan bahwa ikatan ini lebih dari sekadar pertemanan biasa.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.