Makna "Pengabdian" Menurut Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Bogor
Menu

Wawancara Tentang “Pengabdian” Bersama Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining

Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining - KH Jamhari Abdul Jalal, Lc

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

DARUNNAJAH.COM, Hasil Wawancara Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining tentang “Pengabdian”.

Pesantren Darunnajah 2 Cipining, setiap tahunnya banyak santri yang mendaftarkan diri untuk mengikuti program pengabdian, alias siap mengajar dan berjuang di Pesantren Darunnajah 2 Cipining atau Pesantren cabang lainnya. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan istilah Pengabdian di dunia Pesantren? Berikut ini adalah hasil wawancara Eksklusif kami dengan Pimpinan Darunnajah 2 Cipining, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc;

Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor - KH Jamhari Abdul Jalal, Lc
Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor – KH Jamhari Abdul Jalal, Lc

Pak Kyai, apakah belajar di Pesantren itu sama dengan belajar di luar Pesantren?

“Belajar di Pesantren itu berbeda dengan belajar di luar pesantren. Karena pada umumnya, masyarakat mempunyai anggapan yang kuat bahwa orang yang belajar dipesantren itu harus mampu berdakwah di masyarakat saat kembali ke lingkungannya. Berbeda dengan belajar di sekolah umum yang masyarakat tidak menuntut orang untuk berdakwah”. Tutur jawaban dari pimpinan pesantren darunnajah 2 cipining.

Bagaimana cara pak kyai mempersiapkan santrinya untuk menjadi pendakwah?

“Pesantren Darunnajah 2 Cipining didalam mendidik memiliki visi IMAMA; artinya mereka dididik untuk bisa menjadi Imam (pemimpin), kemudian mereka juga dididik menjadi orang yang Muttaqien (orang yang bertaqwa), mereka dididik menjadi orang yang ‘Alim (berpengetahuan luas), kemudian juga mereka dididik menjadi Muballigh (orang yang mampu berdakwah), kemudian juga dididik supaya menjadi ‘Amilun bi Ilmihi (mengamalkan ilmunya). Maka setelah mereka kembali ke masyarakat, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana cara melakukan dakwah tersebut kepada lingkungannya. Baik di lingkungan perkotaan, pedesaan, atau diperkampungan, dan lingkungan apa saja dimana mereka hidup. Bahkan bagi yang berada di lingkungan karyawan-karyawan dan pra-eksekutif, dia harus mampu menyampaikan dakwah (mengamalkan ilmunya). Maka menjadi lucu, kalau alumni pesantren namun tidak mampu mengamalkan ilmunya. Ia hanya bekerja saja seperti orang-orang yang tidak belajar di Pesantren”. Jawab Beliau.

Makna Pengabdian menurut Pak Kyai?

“Dakwah itulah yang dimkasud pengabdian disini. Dengan bahasa lain, mengabdi kepada masyarakat sebenarnya adalah kewajiban mereka (alumni pesantren). Jadi, seorang santri jika sudah selesai belajar dari pesanten, maka harus melakukan dakwah dan mengamalkan ilmunya. Buat apa belajar agama, jika kemudian tidak diamalkan dan tidak dipraktekkan. Sedangkan dakwah itu adalah perintah agama;

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)

Bagaimana dengan ajakan kepada kebaikan, apakah itu termasuk dakwah?

Amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) juga termasuk perintah agama yang diperintahakan kepada kita dimana saja dan kapan saja. Sebagaimana Firman Allah SWT;

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran: 110.

Jadi terdengar aneh, jika di Pesantren anak-anak didiknya tidak ada yang tertarik untuk melakukan dakwah. Alumninya lebih merasa bangga menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Menjadi Pegawai Negeri boleh saja, bahkan apapun profesinya, tetapi dakwah ini tidak bisa di tinggalkan. Inilah Pengabdian, berdakwah kepada masyarakat untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam

Berarti mengajar dan menjadi guru itu termasuk juga berdakwah, karena mengajak kepada kebaikan?

“Betul. Mengajar dan menjadi guru, pun termasuk dakwah. Karena didalam mengajar itu, mereka bisa mengajarkan kebaikan-kebaikan dan nilai-nilai ajaran Islam kepada anak-anak. Menjadi guru Matematika, jangan berhenti hanya mengajarkan berhitung saja. Tapi ajarkanlah tentang akhlak dan budi pekerti yang luhur, akhlak mulia, keimanan dan ketaqwaan.”

(Wardan/Bim-Bim)

Penulis Naskah : Aryo Bima
Editor              : Deni Rusman

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

HASIL TES SELEKSI MASUK GELOMBANG KETIGA DARUNNAJAH JAKARTA

بسم الله الرحمن الرحيم SURAT KEPUTUSAN 67.A/PPSB-TMI/DN/VI/2020 TENTANG HASIL TES SELEKSI MASUK GELOMBANG KETIGA TARBIYATUL MUALLIMIN/AT AL-ISLAMIYAH (TMI) PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH TAHUN AJARAN 2020-2021