(Lagi) Santri Kita Ke Amerika Serikat
Menu

(Lagi) Santri Kita Ke Amerika Serikat

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Peluang untuk belajar bahasa asing di negeri penutur aslinya (Native Speaker) merupakan kesempatan sangat berharga, terlebih dalam jangka waktu cukup panjang, seperti belajar bahasa Inggris di Amerika Serikat.

Informasi tentang kesempatan menjadi peserta pertukaran pelajar internasional, terutama melalui program AFS dan YES, dianggap penting oleh Pesantren Darunnajah Cipining. Sejak tahun 2003 pesantren sudah mengikut sertakan santrinya (kelas IV TMI/I Aliyah) untuk seleksi. Hasilnya, seorang santri putri, Fitriani Susanti, lulus dan berangkat pada tahun 2004. selanjutnya, dua orang santri, Fikri Indra Silmy dan Sinta Komalasari, menyusul berangkat ke Amerika Serikat pada tahun 2005.

Tahun 2007 ini, untuk ketiga kalinya, Yusep Supriatna (asal dari Kec. Nanggung Bogor), insya Allah akan berangkat ke Negeri Paman Sam pada Agustus mendatang, melalui program YES. Dia akan menetap dan mengikuti berbagai kegiatan, termasuk sekolah di SLTA, di Amerika Serikat selama lebih kurang sebelas bulan.

Sekembalinya dari mengikuti program Yes, yusep harus kembali melanjutkan sekolah di kelas VI TMI/III MA Darunnajah Cipining tercinta.

Cermin sukses Fitriani Susanti dan dua generasi berikutnya ini telah mendorong adik-adik kelas mereka untuk mengikuti tes seleksi. Setiap tahun santri darunnajah cipining yang berminat mengikutinya terus bertambah.

Fikri Indra Silmy menuturkan, pengalaman mengikuti program pertukaran pelajar internasional ini telah memberinya beberapa hal berharga, diantaranya pemahaman dan toleransi antar budaya, penguasaan bahasa Inggris dan lain sebagainya. Benarlah ketika Rosulullah bersabda, “Tuntutlah Ilmu walau (sampai) di negeri Cina”.

Suka Duka Fikri Indra Silmy Setahun di Amerika Serikat

Fikri beserta teman-teman peserta program Youth Exchange and Study (YES) berangkat menuju negeri Paman Sam pada tanggal 7 Agustus 2005. Dari bandara Soekarno Hatta terbang ke Kuala Lumpur. Setelah menginap satu malam, kami melanjutkan perjalanan ke London, kira-kira 14 jam.

Di London, kami menginap semalam. Di sana juga sudah menunggu kelompok 2, termasuk Sinta Komalasari (dari Darunnajah Cipining). Jadwal keberangkatan kami ke Washington sekitar Pukul 9 pagi, namun tertunda karena kerusakan pesawat. Baru keesokan harinya kami dapat terbang.

Kami menginap 2 malam di Washington. Dalam kesempatan itu kami mendapatkan orientasi bersama dengan peserta lainnya dari berbagai negara. Kebetulan Fikri satu kamar dengan Arobi (peserta dari Saudi Arabia) yang tidak bisa berbahasa Inggris. Akhirnya, kita ngobrol menggunakan bahasa Arab terus.

“Yang bikin senang dan bangga, bahasa Arab yang Fikri dapat dari Cipining ternyata bisa dipahami. Ga sia-sia deh dari kecil di Darunnajah Cipining.

Akhirnya, satu persatu dari kami diberangkatkan ke daerah masing-masing, Fikri mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Buffalo, New York. Fikri tinggal dengan keluarga yang beragama Katolik. Awalnya Fikri merasa canggung untuk melakukan sholat, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa. Bahkan setiap kita nonton film bersama dan Fikri ke kamar untuk sholat, mereka rela menunggu Fikri dengan mem-pause film itu.

Beberapa bulan setelah itu, tibalah bulan Ramadhan Alhamdulillah Fikri sukses berpuasa sebulan penuh. “Sedih sih, sahur, puasa, dan buka sendirian. Tapi Fikri yakin itu ujian iman.” Selain ada sedihnya, juga ada enaknya, salah satunya, karena bulan Ramadhan tiba di awal musim dingin jadinya siang lebih pendek, so kita sahur jam 5.30 pagi dan buka jam 16.30.

Pada waktu Idul Fitri, malam harinya Fikri telepon ke keluarga di Indonesia “Ya sedih memang, lebaran sendirian tanpa sanak keluarga, tapi Fikri yakin kok, ini ada hikmahnya.” Pagi harinya, Fikri meminta izin tidak sekolah untuk shalat Ied. Pada waktu shalat Ied, ada sekitar 30-40 muslim-muslimah di masjid yang bernama “Taqiya”. Mayoritas yang ada di sana asalnya dari Arab, India, dan Persia, juga ada beberapa orang Amerika.

Di bulan Desember mereka banyak kegiatan, diantaranya acara “Thanks Giving”, dan Natalan. Thanks Giving adalah acara keluarga, yang setiap anggota keluarga harus hadir, kemudian makan dengan ayam kalkun yang subhanallah besar banget. Malam sebelum natalan keluarga besar mereka bagi-bagi hadiah hingga esok harinya. Pelajaran yang Fikri dapatkan adalah, ternyata di tengah kesibukan, mereka masih meluangkan waktu untuk sekedar berkumpul dengan keluarga.

Pada musim dingin ini, Fikri mencoba untuk belajar main ski, mumpung lagi ketemu salju. Pertama kali main ski Fikri sering jatuh, tetapi akhirnya bisa juga. Seneng deh…..

Beberapa minggu kemudian, tiba hari Idul Adha. Fikri izin lagi untuk tidak masuk kelas. Terasa sedih lagi, tapi tidak sesedih waktu Idul Fitri. Fikri shalat di masjid yang sama. Setelah shalat mereka melaksanakan pemotongan hewan kurban, Fikri hanya bantu-bantu sedikit saja. Setelah itu kita ghada’ dan ‘asya bersama-sama. Terasa indah kebersamaan kaum muslimin-muslimat di sana, walupun berbeda etnis, mereka menganggap semua bersaudara dalam satu aqidah.

Dua minggu setelah itu, Fikri diajak keluarga paman Fikri untuk bertamasya ke Florida. Kami berangkat dengan mobil van besar yang muat 11 orang, paman dan bibi Fikri, 7 anak mereka, Fikri, dan satu tetangga mereka. Perjalanan ke Florida memakan waktu dua hari. Kami tinggal di Florida selama satu minggu.

Keadaan Florida tidak jauh berbeda dengan Indonesia, di sana ada juga pohon bambu, pohon jeruk, mangga, palm, kelapa, dan lain-lain. Fikri juga sempat manjat pohon kelapa, yang membuat bule-bule Amerika terkejut dengan itu.

Pada bulan Maret, ada perayaan “International Education Week”. Pada waktu itu Fikri diminta untuk presentasi tentang Indonesia. Fikri membuat slide show, memutar video rekaman Jurus Tunggal Baku pencak silat yang Fikri peragakan. Mereka kagum melihat itu. Ternyata 5 tahun di Darunnajah untuk latihan silat seminggu sekali ada manfaatnya juga.

Pada bulan April, kebiasaan orang Amerika yang beragama kristen melaksanakan, istilah kita, puasa mutih. Selama 40 hari mereka tidak memakan apa yang mereka amat sukai. Contohnya minum kopi, makan coklat, makan daging. Setelah itu mereka ada acara “Easter” atau kenaikan Isa Al Masih. Ketika malam Easter, bunyi lonceng gereja bergema ke seluruh pelosok desa. Esok harinya ada, istilahnya, mencari telur (apa saja yang bentuknya seperti telur, biasanya coklat). Jadi waktu bangun pagi, anak-anak keluarga angkat Fikri, termasuk Fikri, harus mencari keranjang berisi telur-teluran. Lucu deh….

Di bulan itu juga ada liburan “Spring Break” (liburan musim semi). Fikri minta untuk jalan-jalan ke New York City, tempat di mana gedung kembar WTC dan Pentagon hancur dan roboh oleh serangan 11 September 2001. Kami menginap di kota bernama Poughkipsi, dekat dengan pusat Industri IBM Computer. Di NYC, kami makan makanan Indonesia di Restoran Bali Nusa Indah, masuk ke gedung Empire State (tertinggi di NYC), dan keliling patung Liberty.

Pada bulan Mei, saat “Easter Break”, kami hiking ke gunung tertinggi di New York State, Marcy namanya. Esok harinya ketika bersiap untuk kembali, kami dikagetkan dengan berita gempa bumi di Yogyakarta. Seluruh anggota keluarga angkat Fikri risau. Namun, Fikri katakan kalau Fikri orang Parung Panjang, Bogor.

Memasuki bulan Juni, Fikri terlihat agak aneh oleh keluarga angkat. Fikri selalu tidur malam, sekitar jam 12 malam. Fikri beri mereka alasan, karena itu sudah masuk musim panas, siang hari menjadi panjang malam jadi pendek. Ya, Fikri harus menunggu shalat Isya sampai jam 11.30 malam.

Di akhir bulan itu, Fikri ada ujian akhir seluruh mata pelajaran yang Fikri ambil, yaitu: Matematika, Kimia, B. Prancis, Komputer, B.Inggris, dan Sejarah Amerika. Ujian yang paling sulit adalah sejarah.

Fikri meninggalkan rumah keluarga angkat Fikri hari minggu, 25 Juni 2006. Fikri tidak menyangka Bapak, Ibu, dan kakak angkat yang mengantar Fikri menangis terisak-isak. Fikri pun terbawa…

Esok harinya Fikri ada acara Orientasi akhir dengan Exchange Student yang lain di Chapter Buffalo. Malamnya, kami bertolak ke Long Island, New York. Pagi harinya, seluruh peserta program YES terbang ke Washington. Di bandara Washington, Fikri bertemu Sinta lagi.

Kegiatan di Washington adalah silaturrahmi ke Congress, silaturrahmi ke KBRI, orientasi akhir, talent show pernegara, dan jalan-jalan. Kami bertolak dari Washington tanggal 29 Juni 2006. “Good bye USA, I would back later…”

Kami sampai di Indonesia tanggal 2 Juli 2006, masya Allah panas banget di Jakarta…. Kami langsung menuju Gedung Diknas di Jak-sel, untuk mengadakan acara perpisahan.

Hal yang paling berkesan dari USA antara lain, mereka asyik (selalu menegur dengan salam mereka), selalu berterima kasih walau hanya ditolong sedikit, hubungan kekeluargaan mereka sangat kuat, teman-teman seumuran Fikri sudah sangat mandiri (punya uang jajan sendiri, punya kerjaan sendiri), dan banyak lagi.

Pesan Fikri buat adik-adik kelas dan pembaca yang budiman: jangan pernah menilai negatif segala prilaku orang, selalu berfikir positif. Kita harus buat perbedaan itu sebagai rahmat. Dan satu lagi, jangan pernah menyerah untuk menggapai harapan. Maju terus pantang mundur.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait