Assalamualaikum

Kaifa Haalukum?

 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [At-taubah 122]

Di Pondok Pesantren tidak hanya belajar agama, kitab kuning, menghafal Qur’an, maupun menghafal hadist. Tetapi lebih penting dari itu semua adalah pendidikan karakter, mental, dan akhlak.
Kelebihan Pesantren dibanding sekolah umum diantaranya; terdapat kesempatan mengordinir orang dengan adanya organisasi santri, ada juga nilai-nilai (panja jiwa).

KEIKHLASAN

Ruh santri ikhlas dididik di pesantren ini, wali murid ikhlas menitipkan anaknya dipesantren ini, Ustadz ikhlas membimbing para santri,

KH. Abdul Manaf Mukhayar mewakafkan tanah 600 meter pertama kali untuk dibangun Madrasah Islamiyyah di Pal Merah Jakarta Selatan dan digusur oleh pemerintah pada tahun 1959 dan diganti dengan harga Rp. 150.000. Ibu Tsurayya menambahkan dengan menjual mesin jahit dengan harga Rp. 20.000 dikumpulkan menjadi Rp. 170.000 dan dibelikan tanah di Ulujami Jakarta Selatan seluas 5 Hektar.


Siapa yang pertama kali memberi nama DARUNNAJAH?
Suatu malam tahun 1961 setelah membeli tanah di Ulujami rapatlah RKMI, adik adik, dan keponakan dari KH. Abdul Manaf Mukhayar sampai dini hari 02.00. pada rapat tersebut membahas tentang pendirian lembaga pendidikan Islam. Terucap lah nama DARUNNJAH alm. KH. AMINULLAH beliau adalah keponakan KH. Abdul Manaf Mukhayar. Dan pada tajun 1994 dinikahkan dan diangkat sebagai Dewan Nadzir.


Anak pertama Sumiyati Manaf dinikahkan dengan Mahrus Amin lulusan Gontor yang kerja di Jakarta dan karena kepandaiannya dan kecekatannya dalam pekerjaan ditawarkan lah untuk mengurus tanah di Petukangan dan diberi nama balai pendidikan Darunnajah.
Darunnajah baru berbentuk pesantren pada tahun 1974. Dalam perkembangannya tahun 1984, merasa sempit di Jakarta didirikanlah Darunnajah 2 Cipining seluas 170 hektar. Setelah itu Darunnajah 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, dan 17.