Koperasi Santri yang Dikelola Santri Sendiri — Sekolah Bisnis Tanpa Ruang Kelas
Seorang santri yang salah menghitung persediaan barang akan melihat sendiri akibatnya dalam bentuk kerugian yang harus dipertanggungjawabkan. Bila ia membeli terlalu banyak barang yang ternyata tidak laku, uang koperasi tertahan dalam barang yang menumpuk. Bila ia membeli terlalu sedikit, pembeli kecewa dan pindah ke tempat lain. Pelajaran ini tidak bisa diajarkan melalui buku.
Bagi orang tua dengan anak yang aktif, kreatif, dan menunjukkan minat wirausaha, keberadaan koperasi santri layak diperhatikan saat memilih pesantren. Ada anggapan bahwa kewirausahaan cukup ditanamkan lewat pelajaran atau seminar. Nyatanya, kemampuan berwirausaha justru tumbuh dari pengalaman mengelola sesuatu yang nyata dengan risiko yang nyata pula.
Banyak pesantren modern memiliki koperasi yang dikelola santri sendiri di bawah pengawasan ustadz. Koperasi ini menjual kebutuhan sehari-hari santri mulai dari alat tulis, sabun, makanan ringan, sampai perlengkapan lain. Yang mengelola adalah santri, bukan karyawan yang dibayar.
Cerita di Balik Pengelolaan Koperasi
Cerita di balik pengelolaan koperasi santri biasanya menunjukkan pembelajaran yang sangat nyata dan kadang menyakitkan.
Pada awal menjadi pengurus, santri biasanya bersemangat namun belum memahami kompleksitasnya. Mereka mengira mengelola koperasi hanyalah menjual barang dan menerima uang. Kenyataannya jauh lebih rumit.
Persoalan pertama yang biasanya muncul adalah pencatatan. Barang keluar masuk setiap hari. Bila tidak dicatat dengan tertib, tidak ada yang tahu berapa persediaan yang tersisa dan berapa uang yang seharusnya ada. Ketika dilakukan perhitungan dan ternyata tidak cocok, terjadi kebingungan.
Persoalan kedua adalah pengelolaan uang. Uang yang masuk harus disimpan dengan aman. Uang yang keluar untuk membeli persediaan harus dicatat. Bila ada selisih, pengurus harus bisa menjelaskan. Ini menjadi ujian amanah yang nyata pada usia yang masih sangat muda.
Persoalan ketiga adalah menentukan barang apa yang harus disediakan. Membeli barang yang tidak laku berarti uang tertahan. Tidak menyediakan barang yang dibutuhkan berarti kehilangan kesempatan dan mengecewakan teman-teman.
Persoalan keempat adalah menentukan harga. Terlalu mahal membuat orang tidak membeli. Terlalu murah membuat koperasi merugi. Menentukan harga yang wajar menuntut perhitungan.
Persoalan kelima adalah menghadapi teman yang ingin berutang. Ini menjadi persoalan yang paling sulit. Menolak berarti dianggap tidak setia kawan. Memberi utang berarti berisiko uang tidak kembali. Banyak koperasi santri merugi karena piutang yang tidak tertagih.
Persoalan keenam adalah menjaga kejujuran. Pengurus koperasi memegang uang dan barang. Godaan untuk mengambil sedikit selalu ada. Yang bertahan tidak mengambil sedang membangun karakter yang sangat berharga.
Melalui persoalan-persoalan ini, santri belajar dengan cara yang tidak bisa digantikan pelajaran mana pun. Mereka merasakan sendiri apa artinya rugi, apa artinya bertanggung jawab atas uang orang lain, dan apa artinya menjaga kepercayaan.
Keterampilan yang Terbentuk
Dari praktik sehari-hari itu tumbuh kemampuan pembukuan sederhana. Santri belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung persediaan, dan menyusun laporan, dan inilah dasar akuntansi yang dipelajari lewat pengalaman, bukan hafalan. Seiring itu berkembang pula kepekaan mengelola persediaan, memperkirakan kebutuhan, menentukan kapan harus membeli lagi, sekaligus menghindari penumpukan barang yang tidak laku. Menentukan harga menjadi latihan tersendiri, sebab santri harus menghitung biaya, mengambil margin yang wajar, dan mempertimbangkan daya beli pembeli.
Ada pula pelajaran tentang pelayanan. Santri menyadari bahwa sikap ramah membuat orang senang membeli, sementara sikap yang buruk membuat orang enggan datang meski barangnya bagus. Yang lebih menantang adalah mengambil keputusan dengan informasi terbatas, karena menebak barang apa yang akan laku selalu menuntut perkiraan tanpa kepastian, dan kemampuan memutuskan dalam ketidakpastian itu sungguh berharga. Karena koperasi dikelola beberapa orang dengan pembagian tugas, tumbuh juga kerja sama tim, saling mengingatkan, dan kesediaan menyelesaikan perbedaan pendapat.
Menjelang akhir masa kepengurusan, pengurus dituntut mempertanggungjawabkan hasil kerjanya; bila merugi, sebabnya harus dijelaskan, dan keterbukaan semacam itu melatih transparansi. Namun dari semua itu, yang paling menentukan adalah menjaga amanah. Mengelola uang orang lain dengan jujur meski tidak ada yang mengawasi setiap saat merupakan ujian karakter yang nyata.
Perbedaan dengan Pelajaran Kewirausahaan
Perlu dipahami perbedaan antara belajar melalui koperasi dengan belajar melalui pelajaran kewirausahaan di sekolah.
Pelajaran kewirausahaan mengajarkan teori tentang bagaimana berbisnis. Siswa belajar tentang modal, pemasaran, dan laporan keuangan. Namun semua bersifat teoritis. Bila siswa salah menjawab soal, akibatnya hanya nilai yang buruk.
Koperasi santri melibatkan uang nyata dan barang nyata. Bila pengurus salah memutuskan, koperasi benar-benar merugi. Uang yang hilang adalah uang yang nyata. Akibatnya terasa langsung.
Pelajaran kewirausahaan berlangsung dalam waktu yang terbatas dengan kasus yang disederhanakan. Koperasi santri berjalan setiap hari dengan segala kerumitannya yang tidak bisa disederhanakan.
Pelajaran kewirausahaan jarang menyentuh sisi karakter secara langsung, sementara koperasi santri menguji amanah setiap hari karena pengurus memegang uang dan barang tanpa pengawasan ketat.
Perbedaan ini membuat pembelajaran melalui koperasi terasa lebih melekat. Bagi tidak sedikit lulusan yang kemudian menekuni dunia usaha, pengalaman mengelola koperasi santri secara logis menjadi pelajaran bisnis pertama yang membekas, sebab di sanalah mereka pertama kali menanggung untung dan rugi secara nyata.
Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif yang berminat wirausaha, jenjang pesantren modern dengan koperasi santri yang aktif memberi pengalaman bisnis nyata sejak usia sangat muda. Pengalaman ini membentuk kemampuan dan karakter yang menjadi modal sepanjang hidup.
Koperasi santri pada akhirnya menjadi sekolah bisnis yang tidak berbentuk ruang kelas. Yang mematangkannya adalah pengalaman mengelola sesuatu yang nyata, lengkap dengan risiko dan tanggung jawabnya. Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, ruang belajar berwirausaha seperti itu diupayakan tersedia bagi anak yang dititipkan orang tuanya. Naluri wirausaha anak bisa ditumbuhkan lewat banyak jalan, dan setiap keluarga tentu punya caranya masing-masing.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.