Setiap sore setelah jam pelajaran berakhir, lapangan pesantren berubah menjadi arena yang diperebutkan. Semua asrama ingin bermain sepak bola. Semua angkatan ingin memakai lapangan basket. Semua kelompok olahraga ingin berlatih di waktu yang sama. Di tengah keinginan yang bertabrakan itu, ada satu orang yang tugasnya memastikan semua mendapat giliran yang adil — koordinator olahraga sore, yang juga santri biasa sama seperti yang lain.
Tugas koordinator olahraga terdengar sederhana — membuat jadwal pemakaian lapangan dan memastikan semua orang mematuhinya. Kenyataannya jauh lebih rumit dari itu. Setiap asrama merasa kebutuhannya paling penting. Setiap tim merasa latihannya paling mendesak. Koordinator harus mendengarkan semua permintaan, menimbang prioritas, dan membuat keputusan yang mungkin tidak memuaskan semua pihak tapi cukup adil untuk diterima.
Kemampuan mengambil keputusan yang adil di bawah tekanan dari banyak pihak adalah keterampilan yang biasanya baru dipelajari manajer profesional di usia tiga puluhan. Di pesantren, santri berusia enam belas tahun sudah mempraktikkannya setiap sore.
Jadwal lapangan yang sudah dibuat kadang harus berubah mendadak karena berbagai alasan. Hujan yang membuat lapangan tidak bisa dipakai. Acara pesantren yang membutuhkan lapangan untuk kegiatan lain. Tim yang membatalkan latihan di menit terakhir dan membuka slot kosong yang langsung diperebutkan tim lain. Koordinator harus bisa beradaptasi cepat dan mengkomunikasikan perubahan kepada semua pihak tanpa membuat kekacauan.
Kita yang pernah menjalani peran ini tahu bahwa konflik kecil soal jadwal lapangan adalah ujian diplomasi yang sangat nyata. Asrama yang merasa gilirannya diambil bisa sangat vokal dalam protes. Tim yang merasa diperlakukan tidak adil bisa mengajukan keluhan langsung. Koordinator yang tidak tebal kulitnya mungkin menyerah di minggu pertama. Tapi yang bertahan mengembangkan ketahanan emosional dan kemampuan negosiasi yang sangat berharga.
Momen yang paling memuaskan bagi koordinator biasanya terjadi di sore yang tenang — ketika semua lapangan terpakai sesuai jadwal, semua tim berlatih tanpa konflik, dan suara sepatu yang menendang bola bercampur dengan sorak sorai dari berbagai sudut. Keharmonisan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Itu hasil dari perencanaan yang cermat dan komunikasi yang konsisten.
Peran koordinator olahraga juga mengajarkan sesuatu tentang kepemimpinan yang jarang dibahas — bahwa pemimpin yang baik kadang bukan yang paling terlihat di panggung, tapi yang bekerja di belakang layar memastikan semua berjalan lancar. Koordinator olahraga tidak pernah mencetak gol. Tidak pernah memenangkan pertandingan. Tapi tanpa dia, pertandingan itu tidak akan pernah terjadi.
Alumni yang pernah menjadi koordinator olahraga sering bercerita bahwa kemampuan mereka mengelola sumber daya terbatas dan mengatur jadwal yang kompleks di dunia kerja berakar dari pengalaman mengatur jadwal lapangan pesantren setiap sore. Prinsipnya sama — sumber daya terbatas, permintaan tak terbatas, dan keputusan harus diambil dengan adil.
Di Darunnajah 2 Cipining, fasilitas olahraga yang lengkap — dari lapangan multifungsi sampai kolam renang — dikelola dengan sistem yang melibatkan santri sebagai koordinator. Pendekatan ini memastikan santri tidak hanya berolahraga, tapi juga belajar mengelola dan bertanggung jawab atas fasilitas yang digunakan bersama.
Keadilan kadang bukan soal memberikan semua orang apa yang mereka inginkan. Tapi soal memastikan semua orang mendapat giliran — dan seseorang harus cukup berani untuk mengambil keputusan itu setiap hari.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang fasilitas dan kegiatan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.