Tanya : Apa pandapat Darunnajah tentang Ikhwan dan Akhwat?
Jawab :
Saudari Sumiyati yang terhormat, terima kasih atas pertanyaan anda.
Membahas tentang Ikhwan dan Akhwat secara bahasa mungkin sangat kita maklumi sekali di kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah sebagai berikut;
- Ikhwan adalah Sebutan untuk kaum muslimin yang laki-laki, dan
- Akhwat adalah Sebutan untuk kaum muslimin yang perempuan.
Kilas sejarah Kata Ikhwan dan Akhwat sesungguhnya diambil dari surat ke-49, yaitu surat Al-Hujuraat ayat : 10 yang berbunyi : "Innamal Mu'minuuna Ikhwatun. Fa Ashlihuu Baina Akhawaikum, Wattaqullaha La'allakum Turhamuun". Yang artinya "Sesunguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Maka damaikanlah dua saudaramu (yang bertengkar). Bertakwalah kepada Allah agar kamu di beri rahmat".
Kata Ikhwan dan Akhwat diambil dari kata Ikhwatun yang terdapat dalam surat tersebut yang berarti saudara. Dalam hadistnya Rasulullah juga pernah bersabda tentang Persaudaraan. "Orang-orang mukmin ibarat satu tubuh. Jika sakit satu anggota seluruh tubuh menderita". Maka dari itu penyandangan dari kata Ikhwan dan Akhwat bagi kaum muslimin dan muslimat bukan tanpa alasan. Karena diantara tujuannya adalah agar tertanam pada dada setiap insan mukmin rasa persaudaraan sedalam-dalamnya untuk mendapat rahmat dari Allah SWT dan menjauhi pertengkaran yang akan mengakibatkan kepada kehancuran yang akan mendatangkan murkaNYA.
Adapun kata Ikhwan dan Akhwat dilihat dari konteks pola interaksi antara laki-laki dan perempuan menurut syariat sedikitnya ada lima. Diantaranya sebagai berikut :
- Ghoddul Bashar atau menjaga pandangan., jadi dalam islam laki-laki dan perempuan dilarang melepas pandangan satu sama lain Karena Rasulullah SAW pernah bersabda " Pandangan adalah busur dari busur syetan atau iblis". Maka dari itu seorang laki-laki ataupun perempuan dilarang saling pandang memandang karena sesungguhnya dari pandangan pertama akan membuka lembaran-lembaran dosa yang lainnya. "Dari mata jatuh kehati " begitulah pribahasa yang sangat tidak asing lagi di telinga kita. Artinya dari dosa pandang memandang akan jatuh ke dosa hati atau zina perasaan, dari zina hati turun ke zina pikiran begitu seterusnya.
- Perempuan tidak boleh bersolek atau dandan yang berlebihan seperti tabarrujal Jahiliyyah, kecuali hanya untuk suami.
- Islam melarang laki-laki bertingkah laku seperti perempuan dan begitu juga sebaliknya Perempuan dilarang bertingkah laku seperti laki-laki. Dalam hadistnya Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang kebenarannya sangat terjamin, beliau bersabda : "La'anallahu Mutasyabbihiina minar Rijaali Bin Nisa'i waal Mutasyabbihaati Minan Nisa'i Bir Rijaal". Artinya Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Penyerupaan ini mencakup segala aspek kehidupan yang menyangkut hak dan kewajiban masing-masing jenis. Seperti seorang laki-laki bersolek atau dandan dan ataupun seorang perempuan main bola kaki ataupun mengangkat besi dan lain sebagainya.
- Tahriimul Khalwat atau dilarang berkhalwat (berdua-duaan). Sabda Rasuullah : "Laa Yakhilluunar Rajula bim Ra'atin illa kaana Tsalaasahumas Syaithan"(H.R Turmudzi) atau Tidak (diperbolehkan) seorang laki-laki dengan perempuan (berdua-duaan) kecuali ketiganya syetan". Melihat fenomena berpacaran saat ini, dapat dikatakan bahwa pacaran hukumnya adalah HARAM. Karena seperti yang kita lihat saat ini, umumnya laki-laki dan perempuan memulai pacaran dengan pandangan yang jelas-jelas Islam melarang 2 anak adam dan hawa berpandang-pandangan. Kemudian dari pandangan, mereka melakukan yang namanya jalan-jalan atau berkhalwat (berdua-duaan) yang sangat jelas juga dilarang oleh Islam. Dan seterusnya.
- Menutup aurat, khususnya bagi perempuan. Diantara etikanya sebagai berikut :
- An Yakuuna Tsawaabuhu Syaatiran atau hendaknya bajunya menutup semua badannya kecuali muka dan kedua telapak tangan.
- An Yakuuna Waasi'an Ghairu Dha'iifan atau hendaknya bajunya longgar dan tidak ketat sehingga membentuk lekukan tubuh.
- An Yakuuna Ghairu Syaffaafiin atau hendaknya bajunya jangan transparan sehingga terlihat lekukan tubuh.
- An Laa Yakuuna Muthibban atau hendaknnya jangan berwangi-wangian sehingga mengundang syahwat. Dan
- An Laa Yakuuna Yalbitsun Nadzar atau jangan mengundang perhatian dengan cara berpakaian.
Dibentuknya kelima pola interaksi antara laki-laki dan perempuan diatas dalam rangka Islam menjaga atau memelihara kelangsungan atau keharmonisan hidup umat manusia. Karena kata bijak mengatakan "Al Wiqaayatu minal 'Ilaaj" atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan Mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Sekian penjabaran tentang Ikhwan dan Akhwat semoga kita dapat menjadi Ikhwan dan Akhwat menurut syari'at yang telah dijabarkan diatas. Amin. Wallahu A'lam Bis Shawaab.
Nara Sumber : Ustadz Drs. H. Romli Djawahir,Lc
Ustadz H. Robby M. Syarif, Lc