Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah kku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Q.S. Ali Imran [3]: 31-32).

Marilah kita mulai dengan pertanyaan yang terdengar skeptis (skeptisisme ilmiah): Haruskah kita mencintai Rasulullah? Jawabannya sudah tentu koor afirmasi (bahkan bisa jadi emosional): Ya, pasti.

Lalu, mengapa harus?

Karena merupakan konsekuensi dari iman kita kepada Allah s.w.t.

Oke. Tapi, dengan cara apa kita mencintai beliau? Atau dengan formulasi redaksional lain: Apa tanda-tanda seseorang mencintai Rasulullah?

Di sinilah poin pentingnya, dan dari sinilah kita akan memulai perenungan (untuk merefresh, bahkan terkadang merevisi) tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w.

Penokohan, pengidolaan, dan kecintaan yang melebihi batas, sekalipun terhadap sosok yang memang baik, niscaya menimbulkan masalah serius: kultus individu yang mengarah kepada syirk. Perihal ini pernah terjadi pada masa menjelang kerasulan Nuh a.s.

edit msjidDiriwayatkan, pada masa itu hiduplah lima orang shalih yang dipuja dan ditaati oleh kaumnya (kaum Nabi Nuh). Sampai pada suatu saat mereka meniggal dunia. Sangat dalam dirasakan kesedihan oleh kaumnya. Sepeninggal para shalihin itu, masyarakat mulai membicarakan bagaimana cara mengenang jasa-jasa mereka. Ada yang mengusulkan agar dilukis wajah para ulama itu dan ditempel di dinding bangunan tempat mereka biasa berkumpul (beribadah).

Ide dan kreativitas ini, singkat cerita, kemudian menjerumuskan mereka kepada syirk, yaitu menyembah para tokoh dimaksud. Hingga ketika Nuh a.s. diutus, mereka tetap bergeming dalam kezaliman yang amat besar itu. Mereka membangkang dan menolak ajakan sang Rasul untuk kembali kepada ajaran tauhid, yang semula (nenek moyang)`mereka mengimaninya.

Penyimpangan dan kesesatan ini terulang pada kaum Yahudi dan Nasrani, ketika masing-masing mengklaim Ezra (Uzair) dan Yesus (Isa Al-Masih) adalah anak Tuhan. Bangsa India Hindu juga tersesat ketika mereka mengultuskan Brahma, Wisnu, dan Siwa. Begitu pula dengan penganut Buddha: mereka kultuskan sang guru Siddharta Gautama.

Bahkan, sebagian orang yang lemah iman dari kaum muslimin juga berlebihan di dalam menghormati sahabat Ali bin Abi Thalib, lalu lahirlah sekte Syi’ah. Masih banyak contoh lain, baik dari Islam maupun agama lain.

Mencintai Rasulullah, sebagai konsekuensi iman dan cinta kita kepada Allah, adalah dengan cara melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Nya.

Dengan menjadi pengikut Rasul, kita dijanjikan oleh Allah akan menjadi ummat terbaik (khairu ummah).

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S. Ali Imran [3]: 110).

Predikat prestisius ini hanya bisa diperoleh jika kita menaati Allah dan Rasul-Nya. Hal ini termasuk bila diperintahkan untuk melakukan hal yang berat dirasa di hati, karena mempertaruhkan nyawa (berperang membela agama Allah dan membela orang-orang yang tertindas)[1]; juga mengorbankan harta benda (infaq di jalan Allah untuk mengentaskan kemiskinan dan mengangkat harkat martabah ummat)[2]; juga melakukan reformasi sosial dengan ber-amar ma’ruf dan nahy munkar.[3]

?? ??? ???? ?????? ??? ???? ??? ???: ???? ???? ???? ? ? ????: “?? ??? ???? ????? ?????? ????? ??? ?? ????? ???????? ? ?? ?? ????? ??????? ? ??? ???? ???????” {???? ????}

Kehormatan itu tidak diperoleh dengan (sekadar) membuat klaim yang bersifat promordialistik, seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Masing-masing mereka berkata, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Untuk itu Allah menolak klaim mereka (dan memang Allah tiada beranak dan tiada diperanakkan, juga tiada bersekutu). Mereka tiada lain adalah manusia biasa, seperti juga bangsa-bangsa lain di dunia.[4]

Sebagai konsekuensi kecintaan kita kepada Rasul, kita diperintahkan untuk bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan munafik

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahannam, dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya”. (Q.S. At-Taubah [9]: 73).

Hal itu karena (orang-orang munafik itu) bersumpah mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Rasulullah). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, telah menjadi kafir sesudah Islam, ingin membunuh Nabi Muhammad s.a.w., dan mencela (Allah dan Rasul-Nya) padahal mereka telah dilimpahi karunia-Nya.[5]

Kita juga diwajibkan untuk mewaspadai politisasi masjid oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[6]. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)”. (Q.S. At-Taubah [9]: 107).

Orang-orang munafik menyembunyikan “borok” perilaku yang keji dan destruktif (ketamakan duniawi: materialisme, hedonisme, sekularisme), sebagaimana Allah jelaskan di dalam surah At-taubah: 58-59. Oleh karena itu mereka takut jika Allah s.w.t. membongkar kedok kejahatan itu (termasuk makar mereka terhadap Rasulullah dan kaum muslimin). Baca ayat 64-66.

Akhirnya, marilah kita bertanya, “Siapa yang benar-benar dapat menemukan keteladanan pada diri Rasulullah s.a.w.?” Atau dengan kata lain, siapakah yang mau ber-uswah kepada beliau? Camkan dengan sungguh-sungguh firman Allah berikut ini:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab [33]: 21).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Disampaikan Pada Khutbah Jum’at Oleh : Ust, Mufti Abdul wakil, S.Pd.I


[1] Baca Q.S. Al-Anfal [8]: 24; An-Nisa’ [4]: 75.

[2] Baca Q.S. At-Taubah [9]: 41, lengkapnya baca mulai ayat 38 s.d 43, tentang (sikap dan perilaku orang-orang munafik dalam) perang Tabuk; Al-Baqarah [2]: 195.

[3] Baca Q.S. Ali Imran [3]: 104.

[4] Baca Q.S. Al-Maidah [5]: 18. Baca juga Q.S. At-Taubah [9]: 30 dan 31. Orang-orang Yahudi mengaku-aku ‘Uzair (Ezra) adalah putra Allah, sedangkan orang-orang Nasrani mengklaim Nabi Isa (Yesus) sebagai putra tunggal Allah. Mereka juga menjadikan orang-orang alim dan para rahib mereka sebagai Tuhan (Maksudnya: mereka mematuhi ajaran ulama dan para rahib itu dengan membabi buta, biarpun disuruh berbuat maksiat atau mengharamkan yang halal.). Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

[5] Baca Q.S. At-Taubah [9]: 74-78

[6] Yang dimaksudkan dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah pendeta Nasrani bernama Abu ‘Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. Akan tetapi Abu ‘Amir ini tidak jadi datang karena ia mati di Syiria, dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.