Menu

Kisah Ummu Salamah – Muhajirah Pertama

Kisah Ummu Salamah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra dari Salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani), dan terkenal dengan kedermawanannya. Ayahnya dijuluki sebagai “Bizaadir Rakabi” yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian karena, apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal, bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama Atikah binti Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah dari Bani Faraas yang terhormat.

Di samping beliau memiliki nasab yang terhormat ini, beliau juga seorang wanita yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas. Mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang sahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah adalah sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, ketaatan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habsyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thaghut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.

Kisah Ummu SalamahBersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab r.a., kembalilah sepasang suami-istri ini ke Makkah bersama sahabat-sahabat yang lain.

Kemudian manakala Nabi SAW mengizinkan bagi para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai’atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya untuk berhijrah. Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita dengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah:

“Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun ontanya, kemudian menaikkan aku ke atas punggung onta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menunggang onta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata, “Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya, namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini? Apakah kami akan membiarkanmu membawa ke negeri asing?” Kemudian mereka merenggut tali kendali onta dari tangannya dan mencegah aku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan, “Tidak demi Allah kami tidak akan membiarkan anak laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istrinya dari keluarga laki-laki kami.” Mereka memperebutkan anakku Salamah lalu melepaskan tangannya, kemudian anakku di bawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah.

Maka, berangkatlah suamiku seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian aku duduk di suatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat di mana aku berpisah dengan suami dan anakku, sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam. Kebiasaan tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku tatkala melihat kondisiku menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku, “Apakah kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya.” Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku, ‘Susullah suamimu jika kamu ingin’. Kala itu anakku juga telah dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya, aku ambil ontaku dan aku letakkan anakku di pangkuanku Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah, dan tak ada seorang pun yang bersamaku dari makhluk Allah.

Manakala aku sampai di at-Tan’im[1] aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah.[2] Dia bertanya kepadaku, “Hendak ke mana Anda wahai putri Zaadur Rakabi?” Aku hendak menyusul suamiku di Madinah, jawabku. Utsman berkata, “Apakah ada seseorang yang menemanimu?” Aku menjawab, “Tidak demi Allah, melainkan hanya Allah kemudian anakku ini.” Dia menyahut, “Demi Allah engkau tidak boleh ditinggalkan sendirian.” Selanjutnya dia memegang tali kekang ontaku dan menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah, tiada aku kenal seorang laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Utsman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat dia mempersilakan aku berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring di bawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati ontaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata, ‘Naiklah!’ Apabila aku sudah naik ke atas onta dia mendatangiku dan menuntun ontaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba’ yang merupakan tempat di mana suami saya Abu Salamah berada di tempat hijrahnya. Dia berkata, ‘Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barakah Allah.’ Sementara Utsman bin Thalhah langsung kembali ke Makkah.”

Begitulah, Ummu Salamah adalah wanita pertama yang memasuki Madinah dengan naik sekedup onta, sebagaimana beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habsyah. Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya -inilah tugas pokok bagi wanita- dan mempersiapkan segala sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada perang Uhud inilah beliau terkena luka yang parah, dan beliau terkena panah pada bagian lengan, dan beliau tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.

Selang dua bulan setelah perang Uhud, Rasulullah SAW mendapat laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju “Qathn”, yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi dengan disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqas.

Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi SAW untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Di samping itu mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.[3]

Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan beliau terbaring di tempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, beliau berkata pada istrinya, “Wahai Ummi Salamah, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada seorang muslim pun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dilanjutkan dengan berdoa, ‘Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.’ Melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya.”

Pada suatu pagi, Rasulullah SAW datang untuk menengoknya, dan beliau terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia, Maka Rasulullah SAW memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit seraya berdoa:

Ya Allah ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan al-Muqarrabin, dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia ya Rabbal ‘Alamin.

Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran, beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan qadar-Nya. Beliau ingat doa Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:

Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini...”

Sebenarnya ada rasa tidak enak pada jiwanya manakala dia membaca doa, “Wakhluflii khairan minha” (dan gantilah aku dengan yang lebih baik darinya), karena hatinya bertanya-tanya, “Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan doanya agar bernilai ibadah kepada Allah.

Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa sahabat-sahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka menjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Rasulullah SAW turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini, seorang wanita mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah SAW datang dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni, “Wakhlufli khairan minha” (dan gantilah aku dengan yang lebih baik), maka hatinya berbisik, “Dia lebih baik daripada Abu Salamah.” Hanya saja ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah.

Dia berkata, “Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak mengharapkan Anda ya Rasulullah… hanya saja saya adalah seorang wanita yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak Anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagipula saya adalah seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan keluarga.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu, dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semuanya itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu.” Maka beliau pasrah dengan Rasulullah SAW. Dia berkata, “Sungguh Allah telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah SAW.”

Maka, jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul Mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.

Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang yang memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan yang tepat pula. Hal itu ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih kurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu para sahabat tidak mengerjakannya karena Sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi SAW memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorang pun mau mengerjakannya. Maka, Rasulullah SAW masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Ummu Salamah pun berkata, “Wahai Rasulullah apakah Anda menginginkan hal itu? Jika demikian maka silakan Anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih onta Anda, kemudian panggillah tukang Cukur Anda untuk mencukur rambut Anda (tahalul).”

Rasulullah SAW menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar dan tidak berkata sepatah kata pun hingga beliau menyembelih ontanya. Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para sahabat melihat apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, maka mereka bangkit dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain karena kecewa.[4]

Setelah Rasulullah SAW menghadap ar-Rafiiqul A’Ia, maka Ummul Mukminin Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan dengan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan Dzulqa’dah tahun 59 setelah hijrah, ruhnya menghadap sang Pencipta sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaaan, jihad, dan kesabaran.  [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] Tan’im adalah suatu tempat yang berjarak 3 mil dari Makkah

[2] Utsman bin Thalhah adalah penjaga pintu Baitullah di masa Jahiliyah dan tatkala dia menemani Ummu Salamah masih dalam keadaan musyrik. Beliau masuk Islam tatkala perjanjian Hudaibiyah. Beliau hijrah sebelum Fathul Makkah bersama Khalid bin Walid. Tatkala Fathul Makkah Nabi SAW menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah dan putra pamannya yaitu Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah. Utsman bin Thalhah syahid dalam suatu peperangan pada masa khalifah Umar bin Khaththab

[3] Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad (ll/35) dan Uyunul Atsar (Il/38)

[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam asy-Syuruth, bab: Syarat jihad dan perdamaian dengan musuh (III/182), Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam al-Jihad, bab: Perjanjian dengan musuh (no. 2765).

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait