Kisah Nyata Terapi dengan Shalat: Menyembuhkan Kelumpuhan
Menu

Kisah Nyata Terapi dengan Shalat: Menyembuhkan Kelumpuhan

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Allah swt berfirman;

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ (٤٥)

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS Al-Baqarah: 45)

Shalat adalah anugerah dan karunia yang sangat besar untuk menghilangkan kegalauan dan keresahan jiwa, membahagiakan dan menguatkan hati, serta melapangkan dada. Melalui shalat, hati bisa langsung berhubungan dengan Allah st. Shalat merupakan amal Ibadah yang paling baik, sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad saw. Sedangkan berdiri di hadapan Allah swt memiliki banyak hikmah dan rahasia dalam meraih kesehatan. Allah swt berfirman:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (٤٥)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabut: 45)

Setiap kali Rasulullah saw menghadapi suatu masalah, dengan serta merta beliau saw melakukan shalat. Shalat juga sebagai terapi efektif bagi tubuh. Ibnu majah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, ‘Suatu ketika, Rasulullah saw melihat saya ketika sedang tidur karena merintih mengadukan perut saya yang begitu sakit. Lantas beliau bertanya kepada saya, ‘Wahai Abu Hurairah, apakah perutmu sakit?’ Saya menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Bangun dan lakukanlah shalat, karena shalat itu adalah obat.’” (HR Ibnu Majah II/1144, Ahmad II/390, Albani mendhaifkannya didalam Silsilah Adh-Dhaifah V/451)

Shalat merupakan bentuk peran aktif seseorang maanusia dalam melaksanakan tugas-tugas rohani dan jasmani yang menjadikannya menempati derajat yang tinggi. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sesungguhnya perumpamaan shalat itu seperti halnya sungai jernih menggenangi pintu  rumah kalian. Ia menceburkan dirinya ke dalam sungai itu lima kali dalam setiap hari. Apakah ada kotorannya yang masih tersisa?” (HR Ahmad I/177, Malik I/174, Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih At-Targhib I/89)

ShalatSungguh, Shalat adalah bentuk ajaran dari Allah yang menegaskan keagungan manhaj Qurani dalam agama yang mulia ini. Seseorang telah menceritakan kisah yang menakjubkan kepada kita, berikut ini adalah penuturannya:

“Aku tidak pernah mengenal jalan menuju masjid, padahal ayahku adalah seorang ustadz yang mengajarkan Al-Quran. Sungguh, harta yang melimpah ruah telah merusak kehidupanku dan menjauhkanku dari jalan Allah. Lantas, Allah swt berkehendak memberiku cobaan dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas.

Di kala itu, aku sama sekali tidak dapat berjalan. Dan semua dokter menegaskan bahwa tidak ditemukan faktor penyebab yang jelas yang membuat saya lumpuh, selain gangguan urat syaraf yang mengakibatkan diriku tak mampu bergerak dan berjalan.

Pada suatu hari, aku sedang menuju rumah teman baruku yang ku kenal sesaat setelah kutinggalkan mobil mewahku. Aku terpaksa harus menggunakan kursi roda yang diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang cacat. Sebelum saudaraku mendudukkanku di atas kursi tersebut, aku mendengar kumandang Adzan Maghrib yang mendayu-dayu.

Suara adzan itu begitu indah, merdu dan begitu menyentuh lubuk hatiku. Sekonyong-konyong diriku terguncang, seakan-akan baru pertama kali ini aku mendengar suara adzan sepanjang hidupku. Seketika itu, air mataku pun bercucuran. Saudaraku terheran-heran ketika aku memintanya agar membawaku ke masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.

Hari-hari pun berlalu. Sejak kejadian itu, aku menjadi begitu rajin melaksanakan shalat di masjid. Bahkan shalat Shubuh sekalipun, aku selalu berusaha tidak tertinggal. Meskipun aku begitu menderita, namun aku telah bertekad kuat untuk pantang menyerah dan terus maju meniti jalan kembali menuju Allah swt.

Pada suatu malam sebelum shalat Maghrib, aku bermimpi bertemu ayah. Dia bangkit dari kuburnya dan memegangi pundakku yang sedang menangis, sambil berkata, ‘wahai anakku, jangan bersedih. Sungguh, Allah swt telah mengampuni dosa-dosaku karena kamu.’

Maka aku benar-benar sangat terobsesi dengan kabar gembira ini. Aku pun langsung melakukan shalat dan tersungkur sujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Mimpi seperti ini terus terulang beberapa kali.

Beberapa tahun kemudian, aku sedang melaksanakan shalat Shubuh di Masjid yang bersebelahan dengan rumah kami. Aku biasa duduk diatas kursi di akhir barisan yang pertama. Sang imam membacakan doa qunut cukup panjang, membuat hatiku benar-benar tersentuh dengan doanya. Seketika itu, air mataku pun mengucur tanpa dapat terbendung.

Tubuhku gemetar, jantungku terdegup kencang tak beraturan. Aku merasa kalau kematian begitu dekat dan telah menghampiri diriku. Sejenak aku menenagkan diri hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah imam salam, aku berdiri dari atas kursi dan menyingkirkannya ke samping, supaya dapat berdiri dengan kedua kakiku untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt.

Sontak, orang-orang yang shalat di sekelilingku menghampiriku untuk memberikan ucapan selamat. Air mata kegembiraan pun menetes atas mukjizat ini. Kegembiraan dan kebahagiaanku atas kejujuran perasaan dan empati mereka tidak bisa diungkapkan.

Tiba-tiba sang Imam menghampiriku sambil membisikkan seuntai nasihat berharga di telingaku. Sambil memelukku, sang imam berkata, ‘jangan sekali-kali kau melupakan anugerah dan kasih sayang yang dilimpahkan Allah kepadamu. Dan jika hawa nafsumu membisikimu untuk berbuat maksiat kepada Allah, kembalilah duduk di kursi dan jangan pernah berpisah lagi dengannya hingga kamu benar-benar telah mengajari dan mendidik nafsumu itu’.”

[WARDAN/@abuadara}____________________

Disampaikan pada Talim Bakda Isya di masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining, Rabu 14 Februari 2013 oleh santri Kelas 6 TMI

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Maklumat Pimpinan Terkait Peraturan Terbaru Kedatangan Santri

Maklumat Pimpinan Pesantren Annur Darunnajah 8 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 dan Kedatangan SantriMaklumat Pimpinan Pesantren An-Nahl Darunnajah 5 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dan