Kilau Seminar Motivasi Al-Qur’an, Perkuat Semangat Menjaga Al-Qur’an Santri Darunnajah 17

Kilau Seminar Motivasi Al-Qur'an, Perkuat Semangat Menjaga Al-Qur'an Santri Darunnajah 17

Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 menggelar Seminar Motivasi Al-Quran pada Kamis, 14 Mei 2026, di Gedung Aula Thoif. Kegiatan bertema “Menjaga Cahaya dan Menyempurnakan Hafalan” itu berlangsung pukul 20.00 hingga 22.00 WIB dan diikuti seluruh santri serta asatidz pesantren. Seminar ini menjadi sarana membangkitkan semangat santri dalam menghafal dan menjaga Al-Qur’an.

Seminar ini menjadi pengingat bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar target akademik saja. Hafalan membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan hubungan hati yang kuat dengan Kalamullah. Karena itu kegiatan ini hadir untuk menghidupkan kembali semangat para penghafal Al-Qur’an.

Acara dipimpin oleh Al-Akh Fadilah Santriwan kelas 5 TMI sebagai ketua pelaksana serta Ustadz Daffa’ Maulana Faqih sebagai penanggung jawab umum kegiatan. Seminar ini menghadirkan Al-Ustadz Muhammad Yusuf Bur sebagai narasumber utama yang memberikan motivasi kepada seluruh peserta.

Kilau Seminar Motivasi Al-Qur'an, Perkuat Semangat Menjaga Al-Qur'an Santri Darunnajah 17

Dalam pemaparannya, Al-Ustadz Muhammad Yusuf Bur menjelaskan bahwa hafalan Al-Qur’an tidak cukup hanya dijaga dengan kemampuan otak. Menurutnya, hafalan harus dipelihara melalui kedekatan kepada Allah SWT, pengulangan yang istiqamah, menjauhkan maksiat dan kebiasaan menjaga amal ibadah dalam kehidupansehari-hari.

Beliau juga menegaskan bahwa banyak penghafal Al-Qur’an kehilangan semangat karena terlalu fokus pada jumlah hafalan. Padahal kualitas hubungan dengan Al-Qur’an jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar banyaknya ayat yang dihafal.

Salah satu masalah yang sering dialami penghafal Al-Qur’an ialah hafalan yang mudah lupa. Banyak santri mampu menambah hafalan baru akan tetapi kesulitan menjaga hafalan lama tetap kuat. Kondisi tersebut sering membuat sebagian penghafal merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.

Dalam seminar itu dijelaskan bahwa hafalan membutuhkan murojaah yang konsisten. Hafalan tidak dapat bertahan tanpa pengulangan rutin. Karena itu, menjaga hafalan sebenarnya lebih berat dibanding menambah hafalan baru.

Allah SWT berfirman:

﴿ بَلْ هُوَ آيَاتٌۢ بَيِّنَاتٌۭ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ﴾

“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-‘Ankabut: 49)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an harus dijaga di dalam hati. Hafalan bukan sekadar bacaan lisan, melainkan cahaya yang hidup dalam diri seorang mukmin. Karena itu, menjaga hafalan memerlukan kebersihan hati dan kedisiplinan amal.

Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.” (HR. Bukhari No. 5033 dan Muslim No. 791). Hadits tersebut menegaskan pentingnya menjaga hafalan secara continue/terus-menerus.

Sebagian santri terkadang merasa lelah ketika target hafalan terasa berat. Ada pula yang kehilangan motivasi karena melihat hafalan teman lain lebih banyak. Perasaan seperti itu sering membuat seseorang berhenti menikmati proses menghafal Al-Qur’an.

Sesi tanya  jawab santri dengan narasumber

Melalui seminar tersebut para santri diingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan berbeda. Menghafal bukan perlombaan cepat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan. Semangat itu harus dijaga melalui niat yang lurus dan kebiasaan yang konsisten.

Allah SWT berfirman:

﴿ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا ﴾

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa Al-Qur’an perlu dibaca dengan tenang dan penuh penghayatan. Hafalan yang kuat lahir dari proses yang sabar, bukan tergesa-gesa. Karena itu, kualitas interaksi dengan Al-Qur’an lebih penting dibanding ambisi yang berlebihan.

Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari No. 6464 dan Muslim No. 783). Hadits tersebut menjadi pengingat bahwa istiqamah lebih bernilai dibanding semangat sesaat.

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap semangat seorang penghafal Al-Qur’an. Banyak orang kehilangan motivasi karena berada di sekitar kebiasaan yang melalaikan. Sebaliknya, suasana yang baik mampu menghidupkan semangat belajar dan ibadah.

Seminar ini menjadi salah satu cara membangun suasana positif di pesantren. Ketika seluruh santri berkumpul mendengarkan motivasi yang sama, lahir energi kebersamaan yang menguatkan satu sama lain. Nilai tersebut penting dalam perjalanan panjang menjaga hafalan.

Kegiatan seperti ini juga memperlihatkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama. Pesantren menjadi ruang pembinaan mental, pembentukan karakter, dan penguatan spiritual generasi muda. Karena itu, suasana belajar yang sehat perlu terus dijaga bersama.

Allah SWT berfirman:

﴿ وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ﴾

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari karena mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya berada di lingkungan yang baik. Teman yang saleh dan suasana yang positif dapat membantu seseorang tetap istiqamah menjaga hafalan dan ibadahnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama temannya.” (HR. Abu Daud No. 4833 dan Tirmidzi No. 2378). Karena itu, memilih lingkungan yang mendukung kebaikan menjadi langkah penting dalam menjaga semangat menghafal Al-Qur’an.

Menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal kemampuan mengingat ayat. Proses tersebut juga membentuk akhlak, kesabaran, dan pengendalian diri. Seorang penghafal Al-Qur’an dituntut menjaga perilakunya agar sesuai dengan nilai yang ia hafal.

Dalam seminar itu, para santri diingatkan bahwa hafalan harus tercermin dalam sikap sehari-hari. Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dan dihafal, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan nyata. Pesan tersebut menjadi inti penting dalam pendidikan pesantren.

Banyak persoalan remaja muncul karena lemahnya kontrol diri dan kurangnya kedekatan spiritual. Karena itu, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya yang membimbing manusia agar memiliki arah hidup yang jelas dan hati yang lebih tenang.

Ketua pelaksana, Al-Akh Fadilah Santriwan Darunnajah 17 kelas 5 TMI, menyampaikan rasa syukur karena seminar berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi peserta. Ia berharap kegiatan tersebut mampu menambah semangat santri dalam menghafal serta menjaga Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar Motivasi Al-Quran di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 menjadi pengingat bahwa menjaga hafalan membutuhkan perjuangan yang panjang. Hafalan bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan amanah yang harus dipelihara dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Melalui kegiatan seperti ini kita diajak memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat tertentu saja. Al-Qur’an perlu dijadikan sahabat hidup yang selalu menemani langkah manusia dalam belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu mari menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an mulai dari hal sederhana. Luangkan waktu untuk membaca, menghafal, dan mengamalkan isinya setiap hari. Dari kebiasaan kecil itulah lahir generasi yang kuat, berilmu, dan memiliki hati yang bercahaya.