بسم الله الرحمن الرحيم

B C M ( Bermain, Cerita, Menyanyi )

3_Photo1114

Pendidikan merupakan proses panjang dan berkesinambungan dalam memperbaiki dan meningkatkan fungsi serta kualitas fisik, moral, fikiran dan perasaan manusia. Perjalanan manusia dalam proses pendidikan melalui beberapa fase ; bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Masing-masing fase memiliki ciri-ciri, kondisi dan strategi pembelajaran tersendiri.

Fase anak-anak merupakan masa yang sanagt penting dalam sebuah proses pendidikan, karena akan menjadi dasar untuk proses-proses berikutnya. Dalam fase ini diperlukan metode dan tehnik yang sesuai dengan ‘dunia kebahagiaan dan alam kesenangan’ mereka, di sinilah BCM dipandang sangat tepat untuk menjadi salah-satu metode dan tehnik pembelajaran anak-anak. Seperti banyak diamini oleh ahli dan praktisi pendidikan bahwa metode dan tehnik itu lebih penting daripada isi pelajaran dan profesionalisme guru itu lebih penting daripada metode serta tehnik pembelajaran :
الطريقة أهمّ من المادة و المدرّس أهمّ من الطريقة.

BERMAIN

Apakah Rasulullah Juga Bercanda ?
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ سُلَيْمٍ وَلَهَا ابْنٌ مِنْ أَبِي طَلْحَةَ يُكْنَى أَبَا عُمَيْرٍ، وَكَانَ يُمَازِحُهُ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَرَآهُ حَزِينًا، فَقَالَ: ” مَالِي أَرَى أَبَا عُمَيْرٍ حَزِينًا؟ ” فَقَالُوا: مَاتَ نُغَرُهُ الَّذِي كَانَ يَلْعَبُ بِهِ، قَالَ: فَجَعَلَ يَقُولُ: ” أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ “
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu menemui Ummu Sulaim dan beliau mempunyai seorang putra dari Abu Thalhah yang diberi panggilan Abu ‘Umair. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengannya. Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mengunjunginya dan mendapati anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah , burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah lantas berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 12957 dan Abu Daud dalam sunannya no. 4969. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan Abi Dawud)

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bergurau untuk menghibur anak sekecil Abu Umair. Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya bercanda dengan anak kecil lelaki, bahkan juga bercanda dengan anak kecil perempuan, seperti diceritakan Ummu Kholid bintu Kholid bin Sa’id bin a;l-‘Ash :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِكِسْوَةٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ صَغِيرَةٌ، فَقَالَ: ” مَنْ تَرَوْنَ أَحَقَّ بِهَذِهِ؟ ” فَسَكَتَ الْقَوْمُ، فَقَالَ: ” ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ ” فَأُتِيَ بِهَا، فَأَلْبَسَهَا إِيَّاهَا، ثُمَّ قَالَ لَهَا مَرَّتَيْنِ: ” أَبْلِي وَأَخْلِقِي ” وَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى عَلَمٍ فِي الْخَمِيصَةِ أَحْمَرَ، أَوْ أَصْفَرَ، وَيَقُولُ: ” سَنَاهْ سَنَاهْ يَا أُمَّ خَالِدٍ ”
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi pakaian ada padanya hiasan kecil dari sutera, lalu beliau berkata: Siapa yang kalian lihat paling berhak dengan pakaian ini? Maka orang-orangpun terdiam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi: . Bawalah kepadaku Ummu Kholid. Lalu didatangkanlah ummu Kholid dan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memakaikan pakaian itu kepadanya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dua kali kepadanya: Punahkan dan robeklah (semoga panjang umurnya hingga pakaian ini hancur dan robek). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mulai melihat kepada gambar hiasan dalam baju tersebut berwarna merah atau kuning dan bersabda: Bagus, bagus wahai Ummu Kholid. (HR al-Bukhari).

Demikian indahnya canda dan gurauan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak kecil dengan perkataan dan perbuatan beliau tersebut. Lebih lengkap lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bercanda kepada anak-anak kecil dengan sikap perbuatan beliau semata tanpa menyatakan sesuatu, seperti dijelaskan sahabat Mahmud bin ar-Rabi’ yang berkata:
عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ
Aku masih ingat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam satu semprotan yang beliau semprotkan dengan mulutnya dari ember di wajahku dalam keadaan aku berusia lima tahun. (HR al-Bukhari).
Di antara bentuk canda beliau adalah canda beliau kepada Anas bin Maalik pembantu beliau dengan memanggilnya dengan pemilik dua telinga, seperti disampaikan Anas bin Maalik sendiri dalam parkataan beliau:
قَالَ لِي النَّبِيُّ : «يَا ذَا اْلأُذُنَيْنِ»
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku : Wahai pemilik dua telinga. (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059 dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ ash-Shaghir no. 7786).
Al-Khathabi berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu bercanda tanpa dusta dan berlebihan. Setiap orang memiliki dua telinga sehingga beliau benar dalam mensifatkan Anas bin malik dengan panggilan tersebut. Ada kemungkinan lain yaitu maksud beliau bukan bercanda tapi anjuran dan perhatian untuk mendengar dengan baik dan memahami apa yang akan beliau sampaikan dan ajarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menamakannya pemilik dua telinga (ذَا اْلأُذُنَيْنِ) karena mendengar hanya dengan indra telinga dan Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan dua telinga yang digunakan untuk mendengar dan menjadikan keduanya hujjah atas manusia sehingga tidak ada udzur apabila tidak mau mendengar dan tidak benar-benar memperhatikan. (Ma’alim as-Sunan 4/126).

Kenapa Anak-Anak Suka Bermain ?
“Dengan bermain, berarti akan ada stimulasi kinestetik yang bisa memicu kecerdasan. Selain itu, anak juga akan menemui konflik. Misalnya kita bisa lihat bagaimana sikapnya ketika ada teman yang malas main, bagaimana membujuknya. Atau ada anak yang marah, kita bisa lihat bagaimana ia menyelesaikan masalah. Bermain akan meningkatkan kecerdasan sensitifitas dan membuatnya belajar untuk tidak jadi egois,” jelasAnna Surti Ariani, Spsi, M.Si (pakar Psikologi).

Apa Manfaat Bermain Bagi Anak ?
1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri.
3. Melatih mental anak
4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
8. Standar moral
9. Mengembangkan otak kanan anak

CONTOH –CONTOH PERMAINAN
• RESPECT, READY & SHOOT ( team work)
• 9 TITIK (THINK OUT OF THE BOX)
• KERTAS AJAIB (YOU CAN IF YOU THINK YOU CAN)
• ROBOT MUJAHID (tanggap intruksi)
• SENAM OTAK (THUMB & PINKIE, SHOOT, PLANE)
• CEPAT DAPAT (2 MENITS FOR 10 QUESTION)
• ANEKA PERMAINAN TEPUK
• PERMAINAN TANGAN (TANGGAP INSTRUKSI)
• AMAZING MATHEMATHIC (ax2:2+3+4-5-a=2, Get Twenty), dll.

CERITA

Bagimana Agar Cerita Itu Menarik?
 Cerita harus punya tujuan
 Pilih cerita yang sesuai dengan audiens
 Pilih waktu yang tepat
 Temukan sumber bahan cerita yang baik
 Pastikan suara kita menunjukkan emosi, penghayatan
 Interkatif, membuat penasaran
 Libatkan indera audiens

Tiga Macam Cerita :
 PERSONAL (PRIBADI)
 HISTORICAL (TOKOH)
 ALLEGORICAL (KIASAN, ILUSTRASI, METAFORA-DARI KEBUDAYAAN LAIN)

CONTOH-CONTOH CERITA :
• KISAH RASULULLAH, PARA NABI DAN SOHABAT RASULULLAH
• KISAH SALAFUS SHOLIH
• SHOLLU BIL MIGHROFAH (Berhikmah Dalam Berdakwah)
• ZURNI LAILA (Di Balik Sebuah Nama)
• BASYAR , ANIS, HARBEN DAN AMSHOL (Jangan Lupa Jalan Pulang)
• AL QOMAH
• JURAYS
• SI KANCIL YANG CERDAS, SI KANCIL YANG MALANG,
• ANEKA CERITA DARI PELAJARAN MUTHALA’AH, dan lain-lain

**** Shollu Bil Mighrofah*******
Alkisah ada dua santri yang baru saja menyelesaikan tahapan tholabul ‘ilminya di sebuah pesantren. Meskipun mereka berdua masih memilki hubungan keluarga, namun watak, sikap dan perilaku mereka tidak sama. Sebut saja nama keduanya adalah Alif dan Ba.

Masing-masing memiliki kelebihan, sebagaimana nereka juga mempunyai kekurangan. Alif berwatak keras, tegas, teguh pendirian, tidak kenal kompromi dalam nahi munkar, boleh dibilang ia kurang sabar ketika melihat fenomena di depan mata, yang tidak sreg dengan hati nuraninya. Sedangkan Ba memiliki watak yang halus, low profile, lembut, senang bermusyawarah dan mencoba untuk mengerti kondisi yang dihadapi

Sekembalinya di tempat asal, mereka segera bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka juga mencoba akrab dengan para tokoh agama sebagaimana yang mereka praktekan selama di pesantren. Kedekatan mereka dengan para kyai tersebut, menghantarkan mereka mendapat tempat tersendiri di hati para pewaris Nabi ini. Hingga pada suatu hari, mereka berdua mendapatkan tugas untuk menjadi dai di kampung sebelah.

Tersiar kabar bahwa di kampung sebelah terdapat sebuah aliran sesat. Ada seorang kyai yang mengajari umatnya untuk sholat sambil membawa Gayung. Tentu saja, serta merta kabar itu tersebar luas hingga menjadi buah bibir di kalangan para kyai dan umat di kampung lainnya. Di sinilah, kedua alumni santri tersebut mendapatkan tugas untuk meluruskan apa yang mreka sebut ‘bid’ah dholalah’ itu.

Giliran pertama diberikan kepada Alif. Ia segera datang ke kampung tersebut dan menyaksiskan dengan mata kepala sendiri, apa yang selama ini menghebohkan itu. Merasa berkewajiban untuk ishlah, darahnya mendidih seketika melihat ibadah utama itu dilakukan dengan cara yang tidak lazim. Dan tanpa basa-basi, ia segera melancarkan misi utamanya. Ia minta kesempatan pada kyai kampung tersebut, untuk menyampaikan tau’iyah. “Saudara-saudaraku yang saya cintai karena Allah, sungguh apa yang kalian lakukan dalam sholat dengan membawa gayung ini, merupakan Bid’ah Dholalah, dan pelakunya yang tidak mau bertaubat, pasti akan masuk Neraka yang mengerikan!” jelasnya berapi-api tanpa peduli perasaan hati mereka.

Apa yang terjadi selanjutnya?. Mendengar peringatan keras itu, umat bukannya merasa mendapat pencerahan, namun justru merasa dilecehkan. Tanpa diduga, salah-seorang dari mereka berteriak: “Pukul…ini adalah penghinaan terhadap pak kyai kita!”,Serta-merta mereka memukuli dai muda tersebut dengan gayung-gayung yang masih mereka pegang. Tak ayal lagi, pemuda tersebut pingsang dan sekujur tubuhnya babak-belur dihajar massa. Ia segera dikembalikan ke daerah asalnya.

Selang beberapa lama kemudian, tibalah giliran Ba. Ia datangi jama’ah yang sedang sholat Maghrib sambil membawa gayung tersebut. Ia ikut sholat berjama’ah dengan mereka, namun tentu saja minus Gayung. Seusai wirid dan sholat ba’diyah, ia sowan kepada kyai kampung itu. “Assalamu’alaikum pak kyai, bagaimana kabar jama’ah?” sapanya dengan penuh kesopanan. “Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Adik ini siapa ya?” jawab pak kyai dengan tawadhu. Sungguh, sekencang kita melempar Bola ke dinding, sekencang itulah ia berputar arah kembali ke arah kita. Singkat cerita, mereka tampak akrab dengan mengormati maqam masing-masing.

Ditengah suasana silaturahmi yang kondusif ini, da’i muda tersebut mulai masuk ke dalam misi utamanya. “Pak kyai, mohon maaf nih, boleh nggak saya ingin ngaji di sini?”. “O..silahkan, dengan senang hati” jawab kyai. “Kalau pak kyai berkenan, saya ingin tahu referensi tata-cara sholat yang diajarkan kepada umat di sini!”. Selang beberapa menit, kyai tersebut datang kembali dengan membawa dua buah kitab Kuning dalam judul yang sama. Satu kitab dipegang oleh kyai, dan yang lainnya dipegang oleh santri abadi. Mereka pun mulai menelusuri huruf-huruf Arab tanpa harakat atau yang dikenal dengan kitab gundul.

Ketika mereka sampai kepada bab Sholat, terjadilah dialog berikut ini: “Pak kyai, mengapa umat Islam di sini ketika sholat mereka sambil membawa gayung?” Tanya Ba. Sejenak kyai tersebut memperhatikan wajah pemuda di hadapannya, ia tidak temukan rona penentangan, justru sebaliknya, tampak keingintahuannya. “Coba kamu perhatikan baris ini!” pinta kyai sambil menunjuk deretan kalimat yang terdiri dari huruf-huruf: Shod, lam bertasydid, wawu dan alif, rangkaian berikutnya ba bersambung dengan alif, disusul lam disambung dengan mim, ghin, ra, fa dan ta marbhuthah. “Silahkan, coba kamu baca” kyai itu menyuruhnya membaca rangkaian itu. “Sholluu bilmighrafah!” bacanya dengan yakin. “Apa artinya?” Tanya kyai. “Sholatlah kamu sekalian dengan Gayung!”.

Dai muda ini sedikit kaget mendapati tulisan dan arti dalil itu. Ia coba bersikap setenang mungkin meskipun hatinya mulai tidak nyaman dengan apa yang dihadapinya. Diam-diam ia berdo’a dalam hatinya, memohon kepada Allah agar menjadi asbab hidayah bagi ummat. “Allahumma alhimnaa maraasyida umuurinaa wa a’idznaa min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa, amin!”. Allah memang Maha Kuasa, sekonyong-konyong ia melihat kitab yang dipegangnya, dan mendapati rangkaian kalimat tersebut dengan sedikit perbedaan. “Pak kyai, mohon maaf nih, kok tulisan yang di kitab ini, agak berbeda?”. “Yang mana?” Tanya kyai. “Di sini tertulis: Sholluu bil ma’rifah!”. Jawab dai muda itu tanpa ragu-ragu. “mana yang benar, pak kyai?”.

Kyai tersebut termenung sambil mengerutkan dahinya. Beliau mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dan….akhirnya, beliaupun tersenyum sendiri. Dai muda itu agak heran, belum sempat ia mengungkapkan keheranannya, beliau berkata: “Astaghfirulah……subhanallah wal hamdulillah walaailaahaillahu Allahu Akbar!”. “Ada apa pak kyai?”. “Alhamdulillah, kehadiran ananda ke sini, membawa berkah kebenaran. Rupanya selama ini, saya telah mengajarkan sesuatu yang salah kepada umat!”. “Mengapa bisa begitu pak kyai?”. “Dulu ketika saya ngaji, saya termasuk santri pelor alias nempel-molor he…., ketika saya sedang ngaji bab sholat ini, saya sedang ngantuk berat sekali, rupanya bolpen yang saya pegang jatuh tepat di atas huruf ‘ain. Makanya, saya membacanya: shollu bilmighrafah, padahal mestinya Shollu bil ma’rifah yang artinya Sholatlah kamu sekalian dengan penuh mengerti maksudnya!”

Sebelum Sholat Isya, kyai tersebut mengumpulkan jama’ahnya dan menceritakan ihwal kesalahnnya dalam mengajarkan sholat sambil membawa Gayung tersebut. “Kita patut bersyukur kepada Allah dan berterima-kasih kepada santri ini, karena sekarang kita terbebas dari bid’ah dholalah itu” ungkap kyai sambil tersenyum penuh syukur kepada dai muda tersebut. Beliaupun menceritakan betapa bahayanya menjadi santri pelor alias nempel molor, karena bisa salah faham. Mereka memulai sholat Isya tanpa membawa gayung lagi. Dai muda itu merasa sangat senang dan segera pamit pulang. Benar sabda Rasulullah SAW.: “Ketika seseorang mendapatkan kebenaran karena disebabkan olehmu, hal itu jauh lebih berharga daripada Unta Merah!”. Salam sukses untuk para Dai di manapun dan kapanpun!.

(Diceitakan ulang oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom, Jum’at Sore, 7 Ramadhan 1430 H, di ‘Penjara Suci’ Darunnajah Cipining Bogor)
Diposkan oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom di 9/02/2009 07.08.00 AM Tidak ada komentar: Link ke posting ini
Label: Cinta Hikmah Dalam Berda’wah

**** ZURNI LAILA******
Kisah ini tentag nama seorang gadis remaja yang menjelang dewasa, usianya 17 tahun. Ia patut bersyukur karena dikaruniai kecantikan lahir dan bathin (inner beauty). Ia tampak begitu anggun, ayu dan pastinya mempesona bagi kaum pria yang bersua denganya, baik disengaja ataupun tidak. Meskipun ia tidak secantik Zulaiha, secerdas Aisyah, sesuci Maryam, sesetia Khadijah, serajin Fatimah dan sezuhud Rabi’ah Al Adawiyyah, namun untuk ukuran gadis desa ia nyaris sempruna.

Meskipun gadis tersebut cukup istimewa, rupanya ia tidak berasal dari keluarga berada, justru ayahnya boleh dibilang kurang pergaulan. Sementara ibunya hanya sibuk dengan rutinitas rumah tangga. Ia merupakan anak semata wayang, maka tak mengherankan kalau sangat dicintai dan disayangi oleh kedua orang tuanya.

Kecantikan gadis desa tersebut tak pelak menjadi daya tarik bagi para lajang yang ada di wilayah tersebut, bahkan juga dari daerah di sekitarnya. Hampir setiap malam ada saja yang datang ke rumah tersebut. Baik yang sekedar berbasa-basi maupun yang dengan niat serius mengajaknya membina rumah-tangga. Di sisi lain, orang tuanya menjadi resah karena sangking banyaknya pria yang datang ke rumahnya. Akhirnya, tanpa berfikir panjang ia mengambil langkah yang menurutnya tepat. ” Mulai malam ini, detik ini, tidak boleh ada lagi lelaki yang datang ke sini!” tegasnya.

Di tengah kegalauan ayah gadis tersebut, datanglah seorang santri, sebut saja namanya Jilan Faris Al Hannan. Dia menyapa ayah gadis tersebut. “Assalamu’alaikum pak, gimana kabar bapak hari ini?”.
“Wa’alaikumsalam, eh..Faris! saya sedang bingung nih!”. jawabnya sambil mengerutkan keningnya.
“Ada apa pak, kalau saya boleh tahu?, mudah-mudahan saya bisa membantu!”.

“Ini lho tentang putri saya, setiap malam ada saja yang datang ingin menemuninya, kalau hanya satu orang dengan niat bagus dan jelas sih saya gak binggung!”
“O…begitu, tapi mohon maaf nih pak, ngomong-ngomong siapa sih nama putri bapak?”
“Kalau nama putri saya sih sudah bagus, menggunakan bahasa Arab lagi!”
“Oh..ya? boleh pak saya tahu?”.
” Namanya ZURNI LAILA, Bagus ga? kamu kan belajar bahasa Arab!”.
” Kalau mendengarnya sih enak pak, tapi maaf nih, bapak tahu ga apa arti nama tersebut?”.
” Wah, saya ga tahu tuh, saya hanya ngikutin saran orang saja. Nah kamu tahu kan?”
” Setahu saya pak, Zur itu berasal dari kata Zaara Yazuuru Ziyarah yang artinya berkunjung. Dan Zur merupakan bentuk perintah yang artinya kunjunggilah, ni artinya saya dalam kedudukan sebagai objek dan laila artinya pada waktu malam!”.
” Jadi, arti lengkapnya?”.
” Zurni Laila artinya kunjungilah saya pada waktu malam!”.
” Oh….pantesan banyak yang datang ke rumah setiap malam he…Yo wis kalau begitu kamu punya usul ga untuk mengganti nama putri saya?.
” Ada pak, Shofwatul Widad, bisa dipanggil ofa atau ida!”.
” Artinya apa, ris?”.
” Beningnya Cinta Kasih!”.
” Bagus sekali, saya setuju, mudah-mudahan kalau ada yang datang lagi, dia benar-benar datang cinta sejati untuk putri semata wayang sayang!”.
” Amin!”.
” Kalau nama kamu sendiri artinya apa, ris?”.
” Jilan artinya Generasi, Faris itu Pemimpin dan Al Hannan artinya yang mengasihi!”.
” Subhanallah, kayaknya cocok kalau disandingkan dengan Shofwatul Widad nih?”.
” Ah, bapak bisa aja. Ya saya sih tergantung bapak yang punya hak wali untuk menikahkan putri bapak!”.
” Alhamdulilah, kalau begitu saya akan nikahkan putri saya Shofwatul Widad dengan kamu ya Jilan Faris Al Hannan!”.
” Alhamdulillah, insya Allah segera saya musyawarahkan segala sesuatunya dengan keluarga saya!”.
” Oia, ngomong-ngomong, kalau nanti kalian dikarunia anak, akan diberi nama siapa saja?”.
” Yang putra bisa saja Raihan AFdhal Nabil, Husnul Mubarak Amin, Najib Maulana Irsyad, kalau putri: Arina Sa’adah Darain, Najwa Fitri Azkia, Nabila Nailatul Mumtazah dan masih ada beberapa tabungan nama he…!”
” Oke deh, insya Allah nama-nama tersebut menjadi harapan keluarga kita ya!”.
” Ya Pak, aamiin!”.

-#-##-###-####-#####-
Sementara orang masih belum peduli dengan nama, what’s a name? apa arti sebuah nama, kata mereka. Namun bagi kita, nama adalah do’a untuk kebahagian di sini dan di alam baka, amin!.

Parung Panjang Bogor, Selasa, 14.01 wib, 13 Oktober 2009.
Diposkan oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom di 10/13/2009 03.19.00 PM
Label: Cinta Nama Yang Baik

 

******SI KANCIL YANG MALANG*****
Pada suatu hari, ada seekor Kancil yang sedang kelaparan. Sudah berhari-hari ia tidak menemukan makanan. Badannya mulai lemas dan panas, hampir saja ia jatuh sakit. Di dalam hatinya yang paling dalam ia bertekad harus menemukan makanan, karena kalau tidak, dipastikan ajal akan segera menjemputnya. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, sang Kancil malang tersebut mulai berjalan menelusuri pinggiran hutan. Sesekali ia terseok dan gontai hampir terjatuh.

Wamaa ladzdzaatu illaa ba’dat ta’bi. Sungguh kesusahan dalam usaha akan menambah manis dan indahnya hasil yang diraih. Sang Kancilpun menemukan sebuah kebun buah yang sangat ranum. Hampir segala aneka buah ada di kebun itu. Wah…Semangka yang besar nan segaaaarrr….Anggur yang menawan…. Pisang yang ahai..manisnya……dan buah-buahan yang serba menarik pandangan. Hewan bertubuh kecil itu sangat suka-cita mendapati karunia alam ini.

Sayang seribu sayang, kebun buah nan menawan itu terpagari tembok yang tinggi dan tebal. Sementara pintu masuknya terkunci rapat dari luar. Ia pantang berputus asa, ia berjalan memutari kebun buah itu dan akhirnya….ada sebuah lubang di sebuah sudut dekat jalan.Ia segera menghampirinya. Sayang…ketika ia mencoba memasukinya, hanya kepala saja yang bisa masuk, sementara badanya masih tertahan di luar. Satu-satunya cara agar ia bisa masuk ke dalam adalah ia harus menguruskan badannya sehingga lebih kecil dari lubang tersebut. Ia pun berpuasa untuk beberapa har lamanyai.

Setelah dirasa cukup, ia segera masuk ke dalam kebun buah tersebut. Dan tanpa banyak berfikir lagi, ia segera menikmati segala yang ada di sana. Ia kini hidup dalam kebun buah yang sangat memenuhi kebutuhan makannya. Lama-kelamaan, badannya kembali menjadi besar seperti sebelum kelaparan dulu.

Pada sebuah kesempatan, sang Kancil itu sedang duduk-duduk santai setelah kenyang melahap buah-buahan. Tiba-tiba matanya tertuju pada pintu kebun buah yang terkunci rapat dari luar. Ia segera teringat sesuatu.”Oia, ini kan kebun buah milik pak Tani. Sebentar lagi, ia pasti akan datang memanennya, wahhh..gawaat nih.!” pikir binatang kecil itu.

Kini, hanya ada dua pilihan untuk Kancil itu: Berleha-leha menikmati aneka macam buah dengan ancaman ditangkap dan mungkin dibunuh oleh si pemilik kebun atau ia harus segera keluar menyelamatkan diri dengan meninggalkan kebun yang sangat lezat itu?. duh..pilihan yang tidak mudah ya. Akhirnya, ia memilih opsi ke dua.

Ia segera mencari lubang tempat masuk dulu. Sayang, jangankan badan, kepalanya saja kini sudah tidak muat di lubang itu. Ia terpaksa harus kembali berpuasa sementara di depan mata aneka buah sangat menggoda!. “Saya harus bisa!” pekiknya dalam hati. Akhirnya, setelah badanya kembali lebih kecil dari lubang itu, barulah ia bisa keluar menyelamatkan diri.

Fikirkanlah, sang Kancil yang biasanya cerdik itu, kali ini ia masuk kebun buah dalam keaadan lapar dan begitu juga ketika keluar darinya!. Pantas sekali Sang Idola kita, Rasulullah Muhammad SAW. mengingatkan: BETAPA BANYAK ORANG BERPUASA, NAMUN TIDAK MENDAPATKAN BAGIAN APA-APA DARI PUASNYA, KECUALI LAPAR DAN DAHAGA!. MA’ADZALLAH MIN DZALIK!

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.Taqabbalahu minna wa minkum, kulla ‘aamin wa antum bikhair, amin!.
Sukorejo Kendal,Kamis siang 27 Ramadhan 1430 H / 17 September 2009 H.
Diposkan oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom di 9/17/2009 04.40.00 PM
Label: Muhasabah, Renungan Hidup
MENYANYI

APA MANFAAT MENYANYI BAGI ANAK-ANAK?
Dengan bernyanyi, kita tidak hanya melatih kecerdasan musical sang anak. Namun juga kecerdasan verbal dan kecerdasan emosi. Kecerdasan verbal bisa ditemukan dari kosa kata yang terdapat di dalam sebuah lirik lagu. Sedangkan kecerdasan emosi lebih pada kecerdasan perasaan. Kecerdasan emosi ini ada hubungannya dalam pengolahan perasaan dalam diri sang anak (intrapersonal) dan antara anak dengan orang lain (interpersonal), yaitu diri anda.

Hymne TKA-TPA
Sejak kecil, kami baca, Al-Quran pedoman kami
Agar terang, jiwa raga, selamat dunia akhirat
Ya Allah, curahkanlah, rahmat-Mu pada kami
Jadikanlah, Qur’an suci, jalan terang hidup kami
Tekad kami, putra-putri, santri TKA-TPA
Pegang teguh, Qur’an suci, mengharap ridha ilahi

CONTOH BEBERAPA LAGU ANAK-ANAK MUSLIM :

1. Siapakah Tuhanmu?

Siapakah Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapakah Nabimu?
Apa kitabmu?
Tuhanku adalah Allah
Agamaku Islam
Nabiku Nabi Muhammad
Kitabku Al Qur’an
Ya….ya..ya…ya…Allah Tuhanku
Ya…ya…ya…ya…Islam Agamaku
Ya…ya..ya..ya…Muhammad Nabiku
Ya..ya..ya…ya….Al Qur’an Kitabku

2. Allah Is Near

Where are you going2x, north, south, east ,the west
Where were you did, turn to Allah is the best
Cause He is there where ever you are
So turn….turn….turn to Allah
Where do you live in2x, the tent or in town
It doesn’t matter, where do you life
You can soon be found
Cause He is there where ever you are
So turn….turn….turn to Allah
لله الله جلّ جلا له الله اكبر جلّ جلا له

3. Disini Islam, Disana Islam (Disini Senang, Disana Senang)
Di sini Islam, di sana Islam
Di mana-mana agama Islam
Dari kecil kita Islam, besar nanti kita Islam
Sampai mati kita tetap Islam
La la la la.. lalala.. lalalala…

4. Kakak Guru Ngaji (Abang Tukang Bakso)

Kakak guru ngaji, mari dong kemari, adik diajari.
Kakak guru ngaji, cepat dong kemari, sudah tak sabar lagi.
Satu ayat saja, tidak apa-apa, yang penting niatnya.
Membaca ta’awwudz, membaca Basmallah itu permulaannya
Ngaji itu perbuatan terpuji, Qur’an Hadits harus kita fahami
Semua itu harus kita hayati, agar bahagia di sisi Ilahi

5. Mari Shalat (Indung-indung)

من حافظ صلاة خمس , في كلّ مكان ووقت

فجزاءهم وثوابهم , جنّة فيها خالدا أبدا

Siapa saja yang menjaga sholat, lima waktu dengan semangat,
maka ia mendapat nikmat, di dunia juga di akhirat

من ترك صلاة خمس, ومن كان متعمّدا
فعذابهم و عقابهم , جهنّم خالدا فيها
Siapa saja meninggalkan sholat, lima waktu dengan sengaja,
maka ia akan disiksa, dalam Neraka selamanya.

6. Allah Tuhanku (Bintang Dilangit)

Allahu Tuhanku, Tuhan semua manusia
Tuhan yang penuh kasih dan Maha Penyayang
Tempat mengadu dan tempat ku meminta
Memberiku petunjuk dalam dunia ini
Setiap ku berdo’a, Allah kan mendengar
Setiap ku meminta kan dikabulkan
Allahu Tuhanku, Tuhan semua manusia
Tuhan Yang penuh kasih, sayangi umatnya

7. Amal Yang Disukai Allah (Sedang Apa)

Amal apa 2 x yang disukai Allah?

Senbahyanglah 2X tepat pada waktunya

Apalagi 2x yang disukai Allah?

Shalwatlah 2x pada Nabi Muhammad

Apalagi 2x yang disukai Allah?

Berjuanglah 2x slalu di jalan Allah

Apalagi 2x yang disukai Allah?

Hormatilah 2x kedua orang-tua
…….dst…………..

8. Ini Huruf Apa?

Ini huruf apa أ ?, itu huruf A

Ini huruf apakah ب ?, itu huruf Ba

Ini huruf apa ت ?, itu huruf Ta

Ini huruf apakah ث ?, itu huruf Tsa

أ ب ت, ب ت ث, ث أب, ت ب أ

Setiap hari kita mengaji, mengaji qur’an sepenuh hati,

Qur’an dibaca dan difahami, diamalkan dalam hidup sehari-hari

9. Do’a Rabithah
Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

10. Give Thanks To Allah
Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to syaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Muhsinin,
Huwa Khaaliquna huwa Raaziquna wahuha ala kulli syaiin qadir
Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
He is a creater, he is a sustainer and he is the one who has power over all.

11. Ini Namanya Jari Apa ?

Ini namanya jari?, ini namanya jari Jempol,
Apa kata jari Jempol, sayang, kalau ngaji jangan ngobrol.
Ini namanya jari apa?, ini namanya jari Telunjuk,
Apa kata jari Telunjuk, sayang, kalau ngaji jangan nagantuk,
Ini namanya jari apa?, ini namanya jari Tengah,
Apa kata jari Tengah, sayang, kalau ngaji jangan lengah.
Ini namanya jari apa?, ini namanya jari manis,
Apa kata jari manis, sayang, kalau ngaji jangan nangis.
Ini namanya jari apa?, ini namanya jari Kelingking,
Apa kata jari Kelingkin, sayang, kalau ngaji jangan bising.

12. Mari Kita Sembahyang (Naik-Naik Ke Puncak Gunung)
Sayang-sayang, adikku sayang
Mari kita sembahnyang
Sayang-sayang, adikku sayang
Mari kita sembahnyang
Satu hari, lima kali
Sujud pada Ilahi
Satu hari, lima kali
Sujud pada Ilahi
### Ayo Menikah ###
(Motivasi Mujahid & Mujahidah Menyempurnakah Separuh Agama, Agar Lebih Istiqomah dalam Jihad Via Tarbiyahnya)

Tlah diciptakan dua insan yang hidup di dunia
Taqdir Allah yang menyatukan jodoh manusia
Ingatkan hati, hidup ini hanya sementara
Janganlah kita memikirkan materi semata
Berbahagialah manusia, yang telah menemukan fitrahnya , untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera, bila saatnya telah tiba
Jangan carikan alasan untuk menunda….
Menikah mengurangi dosa dan maksiat….
Menikah menyatukan bahagia dan nikmat
Rezeki manusia, Allah mengaturnya
Jangan takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah manusia, yang telah menemukan fitrahnya, untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera, bila saatnya telah tiba, jangan carikan alasan untuk menunda
Jangan takut bila miskin harta, bila hanya belum bekerja
Atau tak punya rumah nan megah kau jadikan alasan takut menikah
Jalan hidup tergantung niatmu
Bila kau yakin, kau akan mampu
Ingatlah Allah slalu menyertaimu……

Disampaikan oleh Muhlisin Ibnu Muhtarom, SHI dalam ‘Pembekalan Calon Guru Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Al Qur’an (Santri Kelas 5 TMI/ XI MA&SMK)’, Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor Jawa Barat Indonesia, Kamis, 30 Muharram 1437 H /12 November 2015 M.