Pondok Pesantren Darunnajah Cipining kembali mengkhitan sebanyak 100 anak dari masyarakat sekitar pesantren dalam rangka Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal tahun 2011, Sabtu (9/7). Acara ini digelar atas dukungan dari Masjid Baitul Jabbar Bekasi, Binrohis RS Tugu Ibu Cibubur Jakarta Timur, dan Majelis Ta’lim Telkomsel.
Kegiatan ini dilaksanakan di lapangan basket mulai pukul 9 pagi. Secara seremonial, acara dibuka dengan penyematan 2 tanda peserta yang diwakili sebagai tanda simbolis oleh pimpinan pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc. Hadir pada perhelatan tersebut, Direktur BPRS Amanah Ummah Leuwi Liang, Bapak H. Taufiqurrahman, Direktur RS Tugu Ibu, dr. Peppy R. Firaidie, Kepala KUA Kecamatan Cigudeg, H. Nasruddin, S.Ag. dan rombongan dari pengurus Masjid Baitul Jabbar, Bapak Muhammad Nadjib Hasan, SE beserta rekan-rekan.
Kepada para undangan, Bapak Kyai mengatakan bahwa sebenarnya peringatan Isra mi’raj ini terlambat, namun nilai dan hakikatnya itu yang terpenting apalagi pada kesempatan ini dibarengi dengan kegiatan sosial berupa khitanan massal sebagai bentuk sunnah Rosulullah dalam mengikuti (agama) Nabi Ibrahim. Kepada peserta khitan, beliau menegaskan agar khitan ini sebagai awal peningkatan ibadah. “Kepada Bapak dan Ibu yang putranya dikhitan di Darunnajah Cipining, tolong beribadah dengan baik dan bimbing anak-anak itu untuk menjaga sholatnya, apalagi mereka dikhitan bersamaan dengan peringatan Isro Mi’roj. Semoga mereka menjadi generasi yang bertakwa!”
Pada kesempatan itu juga, perwakilan dari Masjid Baitul Jabbar, Bapak Hedi Yadi Ersyad, SE dalam sambutannya menginginkan agar kerja sama seperti ini dapat berlanjut demi meningkatkan kualitas bangsa dan ummah. Baginya, lewat pesantren Darunnajah Cipining, perjuangan membangun ummah sangat mungkin. Maka, salah satu bentuk kepercayaan pengurus masjid, setiap tahun mereka mengirimkan kadernya guna mengenyam pendidikan dan pembinaan di Darunnajah Cipining. Dan pengiriman kader ini tengah berjalan serta sudah dimulai lebih dari 5 tahun silam.
Sementara itu, kegiatan khitan missal dilakukan di 7 ruang di poskestren dan ruang tamu pesantren. Dengan 7 dokter dan dibantu 8 personil pembantu, proses khitan berjalan lancar sehingga dapat diselesaikan menjelang waktu Dzuhur. Usai dikhitan, 2 peserta kemudian melafazkan 2 kalimah syahadah di depan tamu undangan yang menandai saudara Pendi bin Edi (39) dan Rahel bin Pendi (10) menjadi seorang muslim yang sebelumnya memeluk agama Budha.
Usai dikhitan, seluruh peserta mendapatkan bingkisan menarik dari panitia. Selain itu, kegiatan ini juga dimeriahkan Tim Qosidah santriwati, QD entertainment, dan marawis dari Baitul Jabbar. Semoga kegiatan ini menjadi jalan kebaikan semua pihak yang telah mendukung dan membantu terlaksananya kegiatan ini. Amin (Wardan/Billah)


