14 Agustus merupakan hari jadi Gerakan Pramuka Indonesia, banyak tokoh masyarakat maupun pimpinan pemerintah telah berjasa dalam mengembangkan Gerakan Pramuka di Indonesia. Salah satu Penggerak Pramuka Pesantren, adalah sosok Ulama Besar yang kini memimpin Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, serta 17 Pondok Pesantren Darunnajah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Beliau adalah KH. Mahrus Amin.Pendiri Darunnajah Group ini sebenarnya bukanlah orang baru di Gerakan Pramuka, kerana sejak masih menimba ilmu di pesantren, KH Mahrus Amin sudah menjadi Pandu bersama rekan-rekannya yang kini sudah menduduki jabatan di Pemerintahan.

Jiwa dan semangat kepanduan, sebagaimana yang ada dalam Dasadharma Pramuka, serta Trisatya tersebut, terus dikembangkan guna membentuk para santri yang Patriot, Sopan, Kesatria dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bagaimana Pesantren Darunnajah dapat membentuk tenaga kader pembangunan yang berjiwa Pancasila dan sanggup serta mampu menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara.

3 Pramuka, 3 Kyai, 3 Pesantren. KH. Mahrus Amin (pendiri Pondok Pesantren Darunnajah) bersama dengan alm. KH. Hasyim Muzadi (pendiri Ponpes Al-Hikam Malang dan Depok serta Ketua Umum Pengurus Nahdhatul Ulama’) dan KH. KH Tidjani Djauhari, pendiri pondok pesantren Al-Amien Prenduan, Madura.

 

Salah satu upaya yang dilakukan, sebagai orang yang dibesarkan di Kepanduan Indonesia (Pramuka), mulai dari Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega hingga Pembina, KH Mahrus Amin terus mengembangkan berbagai kegiatan kepramukaan, agar menjadi wadah pemersatu bangsa, atau alat mempererat persaudaraan atau ukhuwah, Pramuka secara nasional, sehingga berbagai kegiatan seperti Pekan Olahraga, Seni dan Pramuka dikemas secara khusus, dalam even tingkat nasional, dengan kegiatan “Perkemahan Pramuka Santri Nusantara se-Indonesia”, dan acara tersebut telah menjadi agenda tahunan, untuk perkemahan para santri, guna memperkokoh NKRI dimasa yang akan datang.

Meskipun sedikit berbeda dalam berpakaian, namun ajaran kepramukaan di pesantren tetap mengacu pada Dasadharma Pramuka, karena pakaian bagi Pramuka Santri disesuaikan dengan syariat Islam, sehingga dalam berpakaian juga sesuai dengan syariat Islam.

Demikian juga dalam latihan, tidak membaur antara Pramuka Santri Putri dengan Pramuka Santri Putra, dan beliau pun yakin kegiatan pramuka, merupakan kegiatan yang sangat dibutuhkan bagi generasi bangsa dimasa yang akan datang, untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagai Pelopor Santri Pramuka, KH Mahrus Amin juga terus melakukan diskusi-diskusi dengan para Ulama maupun pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka serta pimpinan Kwarda, bagaimana organisasi Pramuka dimasa yang akan datang, serta bagaimana meningkatkan mutu latihan, sehingga generasi muda yang akan datang, makin mampu lagi memimpin bangsa ini, dengan budaya damai, serta sesuai karekter dan watak bangsa Indonesia. Sehingga dengan pramuka ini persatuan bangsa dimasa yang akan datang akan lebih kokoh lagi.