Keutamaan Infak dan Zakat dalam Islam

Keutamaan Infak dan Zakat dalam Islam

Gemini Generated Image Epmf9bepmf9bepmf
Keutamaan Infak dan Zakat dalam Islam

Infak dan zakat merupakan dua pilar penting dalam praktik ekonomi dan spiritual umat Islam. Keduanya bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan juga sarana penyucian harta dan jiwa, serta perwujudan kepedulian sosial yang mendalam. Memahami keutamaan keduanya akan mendorong seorang Muslim untuk melaksanakannya dengan penuh keikhlasan.

Zakat: Rukun Islam dan Penyuci Harta

Zakat adalah salah satu dari Rukun Islam yang wajib ditunaikan. Secara bahasa, zakat berarti bersih, suci, subur, dan berkembang. Menunaikan zakat membersihkan harta dari hak orang lain yang tercampur di dalamnya, dan membersihkan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.

Keutamaan Zakat Berdasarkan Hadis

Keutamaan zakat ditegaskan dalam banyak hadis, salah satunya adalah hadis riwayat Mu’adz bin Jabal. Rasulullah $SAW$ bersabda, setelah memerintahkan zakat kepada Mu’adz saat diutus ke Yaman:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa zakat memiliki fungsi ganda: sebagai kewajiban agama yang mengikat umat Islam yang mampu, dan sebagai instrumen pemerataan kekayaan yang menjaga keseimbangan sosial.

 

Infak: Jalan Menuju Berkah dan Ampunan

Sementara zakat adalah kewajiban yang bersifat terikat dengan syarat (nisab dan haul), infak memiliki makna yang lebih umum, yaitu mengeluarkan harta untuk kepentingan Islam atau kemaslahatan umat, baik wajib maupun sunah. Infak sunah inilah yang membuka pintu rezeki dan pahala yang tak terhingga.

Keutamaan Infak Berdasarkan Hadis

Infak memiliki keutamaan yang luar biasa, salah satunya adalah jaminan ganti rugi dari Allah $SWT$. Rasulullah $SAW$ bersabda:

“Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sementara yang lain berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (bakhil).'”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa infak adalah investasi yang tidak akan pernah merugi. Orang yang berinfak didoakan agar hartanya diganti dan diberkahi, sedangkan orang yang kikir didoakan mendapatkan kehancuran. Allah $SWT$ menjamin bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan-Nya akan dilipatgandakan pahalanya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Infak dan zakat adalah bukti nyata keimanan. Keduanya mengajarkan bahwa harta yang dimiliki bukan sepenuhnya milik pribadi, melainkan di dalamnya terdapat hak Allah $SWT$ dan hak kaum dhuafa. Melalui infak dan zakat, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga memastikan keberkahan harta dan keselamatan diri di akhirat.

 

 

Pendaftaran Santri Baru