Di era di mana informasi datang dalam bentuk video pendek dan caption singkat, anak yang masih mau duduk membaca buku terasa semakin langka. Padahal penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kebiasaan membaca sejak kecil berkorelasi kuat dengan keberhasilan akademik, kemampuan berpikir kritis, dan bahkan kesuksesan karir di masa dewasa. Bukan karena buku itu ajaib — tapi karena proses membaca melatih otak dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh media lain.
Apa yang sebenarnya terjadi saat anak membaca?
Membaca memaksa otak untuk aktif. Berbeda dari menonton video di mana gambar dan suara sudah disajikan, membaca mengharuskan otak membentuk gambar sendiri, memproses makna, dan mempertahankan alur cerita atau argumen. Ini latihan kognitif yang sangat intensif — dan semakin sering dilakukan, semakin kuat otaknya.
Anak yang rajin membaca biasanya punya kosakata yang lebih kaya, kemampuan menulis yang lebih baik, pemahaman yang lebih mendalam, dan — yang sering luput — rentang perhatian yang lebih panjang. Di era di mana fokus menjadi barang langka, anak yang bisa membaca buku selama satu jam tanpa terdistraksi punya keunggulan yang sangat nyata.
Kenapa kebiasaan ini semakin sulit ditumbuhkan?
Karena buku harus bersaing dengan TikTok, YouTube, dan game — yang semuanya dirancang untuk memberikan kepuasan instan. Membaca butuh usaha. Membaca butuh kesabaran. Dan otak yang sudah terbiasa dengan stimulasi cepat akan merasa membaca itu “membosankan” — bukan karena bukunya yang buruk, tapi karena ambang batas stimulasinya sudah terlalu tinggi.
Itulah kenapa menumbuhkan kebiasaan membaca di zaman sekarang butuh strategi yang lebih sadar dibandingkan zaman dulu, di mana buku memang satu-satunya hiburan.
Bagaimana menumbuhkan kebiasaan membaca?
Pertama, jadilah pembaca. Anak yang melihat orang tuanya membaca — bukan scrolling HP — menginternalisasi bahwa membaca itu normal dan menyenangkan. Sulit mengajarkan apa yang tidak kita praktikkan sendiri.
Kedua, sediakan buku yang sesuai minat anak. Jangan memaksa anak membaca buku yang kita anggap bagus tapi ia anggap membosankan. Biarkan ia memilih. Komik pun tidak apa-apa sebagai pintu masuk. Yang penting kebiasaan membaca terbentuk dulu — kualitas bacaan bisa dinaikkan bertahap.
Ketiga, ciptakan waktu membaca keluarga. Lima belas menit sebelum tidur — semua anggota keluarga membaca, tanpa gadget. Konsistensi kecil ini lebih efektif dari sesekali memaksa anak membaca berjam-jam.
Keempat, kurangi kompetisi dari layar. Di ruang yang ada buku dan ada gadget, gadget hampir selalu menang. Menciptakan waktu atau ruang tanpa gadget memberi buku kesempatan untuk dilirik.
Bagaimana lingkungan pendidikan mendukung?
Sekolah yang punya budaya membaca yang kuat — perpustakaan yang aktif, waktu membaca yang terjadwal, guru yang merekomendasikan buku — membantu menumbuhkan kebiasaan ini. Tapi kalau di rumah anak kembali ke layar, efeknya terbatas.
Pesantren, karena tidak ada gadget, secara alami menciptakan ruang di mana buku menjadi salah satu sumber hiburan dan informasi utama. Perpustakaan pesantren, tradisi fathul kutub yang mengharuskan riset dari buku, dan waktu luang tanpa layar — semua ini mendorong kebiasaan membaca secara lebih natural dibandingkan lingkungan yang penuh gadget.
Apakah semua santri jadi kutu buku? Tentu tidak. Tapi proporsi anak yang membaca secara rutin di pesantren biasanya lebih tinggi dari rata-rata — karena kompetisi dari layar sudah dihilangkan.
Apa yang perlu diingat?
Kebiasaan membaca bukan tentang menjadikan anak kutu buku. Ini tentang membekali anak dengan kemampuan berpikir yang mendalam, kosakata yang kaya, dan rentang perhatian yang kuat — semua ini modal yang semakin berharga di dunia yang semakin dangkal.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat memiliki perpustakaan dan tradisi akademik yang mendukung kebiasaan membaca. Tanpa gadget, buku mendapat ruang yang lebih besar dalam keseharian santri. Bukan sempurna — koleksi masih perlu ditambah dan budaya baca masih perlu diperkuat — tapi fondasinya ada.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Di era yang serba cepat, anak yang mau pelan-pelan membaca sebuah buku sampai selesai mungkin justru yang paling siap menghadapi masa depan.