Menyapu, mencuci piring, menyetrika, mencuci pakaian — ini bukan tugas perempuan. Bukan juga tugas laki-laki. Ini keterampilan hidup yang dibutuhkan setiap manusia yang kelak akan hidup mandiri. Anak yang tidak pernah menyapu rumah, tidak pernah mencuci bajunya sendiri, tidak pernah merapikan tempat tidurnya — bukan anak yang diistimewakan. Ia anak yang tidak dipersiapkan untuk kehidupan dewasa.
Kenapa ini sering tidak diajarkan?
Kadang karena orang tua merasa kasihan. Anak sudah capek sekolah, masa harus disuruh ngepel? Kadang karena pembantu rumah tangga yang mengerjakan segalanya. Kadang karena anggapan gender yang masih kuat: anak laki-laki tidak perlu bisa memasak atau mencuci. Apapun alasannya, hasilnya sama: anak yang tidak punya kemampuan dasar untuk mengurus dirinya sendiri.
Dampaknya baru terasa saat ia benar-benar harus mandiri. Mahasiswa yang tidak bisa mencuci baju. Karyawan baru yang ruang kerjanya berantakan. Pasangan yang tidak pernah membantu pekerjaan rumah karena memang tidak bisa. Semua ini berakar dari satu hal: tidak pernah diajarkan sejak kecil.
Apa saja yang perlu dikuasai?
Dasar-dasarnya cukup sederhana. Merapikan tempat tidur setiap pagi. Menyapu dan mengepel lantai. Mencuci piring setelah makan. Mencuci dan menjemur pakaian. Menyetrika. Menyiapkan makanan sederhana. Membersihkan kamar mandi. Merapikan barang-barang pribadi. Semua ini bisa diajarkan secara bertahap sesuai usia — tidak perlu sekaligus.
Yang penting bukan kesempurnaan hasilnya, tapi kebiasaan melakukannya. Kamar yang disapu anak mungkin masih ada debu yang terlewat. Baju yang disetrika mungkin masih ada lipatan yang kurang rapi. Tapi anak yang sudah terbiasa melakukan ini akan terus memperbaiki kualitasnya seiring waktu. Yang penting fondasinya sudah ada.
Bagaimana mengajarkannya?
Pertama, libatkan sejak dini. Anak usia empat atau lima tahun sudah bisa membantu merapikan mainan. Usia tujuh bisa mulai menyapu. Usia sepuluh bisa mencuci piring. Remaja bisa mengerjakan hampir semua tugas rumah tangga. Kedua, jadikan ini rutinitas, bukan hukuman. Tugas rumah tangga yang diberikan sebagai hukuman mengajarkan bahwa pekerjaan ini sesuatu yang negatif. Jadikan bagian dari rutinitas harian: setelah makan, cuci piring sendiri. Setiap pagi, rapikan tempat tidur. Natural, bukan sebagai beban.
Ketiga, semua anak belajar tanpa memandang gender. Anak laki-laki perlu bisa memasak dan mencuci. Anak perempuan perlu bisa memperbaiki barang sederhana dan mengelola keuangan. Di era modern, pembagian tugas berdasarkan gender sudah sangat tidak relevan. Keempat, berikan contoh. Ayah yang mencuci piring. Ibu yang memperbaiki lampu. Orang tua yang berbagi tugas rumah tangga secara adil mengirim pesan yang sangat kuat tentang kesetaraan dan tanggung jawab bersama.
Kelima, hargai prosesnya. “Terima kasih sudah nyapu. Kamarnya jadi lebih enak.” Penghargaan sederhana ini memperkuat kebiasaan dan mengasosiasikan pekerjaan rumah tangga dengan sesuatu yang positif, bukan beban.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan di mana semua orang bertanggung jawab atas kerapian dan kebersihan bersama secara alami mengajarkan keterampilan rumah tangga. Di pesantren, tidak ada pembantu yang mengerjakan. banyak santri mencuci bajunya sendiri, merapikan kamarnya sendiri, membersihkan lingkungannya sendiri melalui jadwal piket. Keterampilan ini bukan pilihan — ini keharusan.
Dan karena semua orang melakukannya — dari anak kiai sampai anak petani — tidak ada stigma tentang pekerjaan rumah tangga. Ini dinormalisasi sebagai bagian dari hidup, bukan sesuatu yang harus dihindari atau didelegasikan. Perspektif ini sangat berharga dan sering terbawa sampai lama setelah lulus.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat mewajibkan setiap santri mengurus keperluannya sendiri — dari mencuci pakaian sampai piket kebersihan. Tidak ada pengecualian. Dan hasilnya cukup konsisten: alumni yang terbiasa mandiri dalam urusan rumah tangga dasar.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang bisa menjaga kebersihan rumahnya sendiri bukan anak yang dihukum dengan tugas rumah tangga. Ia anak yang dipersiapkan untuk kehidupan yang tidak selalu ada orang lain yang membereskan.