ol>
li>
Oleh : KH. Busthomi Ibrohim,M. Ag/li>
/ol>
b>C. Korelasi Antara Kemandekan Fiqih Dengan Perkembangan Usul Fiqih/b>
Terdapat korelasi yang erat antara kemandekan fiqih dengan perkembangan usul fiqih. Ketika ulama memproklamirkan bahwa pintu ijtihad tertutup, maka para ulama tidak mempunyai peluang untuk berijtihad, tidak ada yang menjadi i>mujtahid mustaqil/i>. Dengan tidak adanya ulama’ yang berijtihad, maka fiqih menjadi mandek. Kondisi yang sedemikian itu menjadikan para ulama’ merubah haluan dan beralih kepada pengkajian usul fiqih.
Maraknya kajian usul fiqih, disamping sebagai konpensasi atas kejumudan fiqih, juga dipergunakan untuk mempertahankan masing-masing madzhab. Kajian dan penelitian terhadap usul fiqih dilakukan sebagai sarana untuk menguji masalah-masalah fiqih yang tidak ditetapkan melalui i>istimbat hukum/i> dan bertentangan dengan madzhab yang diikuti. Dengan mengkaji dan mendalami usul fiqih, orang-orang yang fanatic terhadap madzhab akan memperoleh pegangan yang dapat memperkokoh madzhabnya dan meyakinkan mereka tentang cara pengambilan dalil dalam madzhab tersebut.a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftn1″>[1]/a>
Ilmu usul fiqih pada masa kemandekaqn fiqih dan taqlid tidak kehilangan substansinya, karena ilmu usul fiqih merupakan kaidah yang dijadikan pedoman untuk menguji berbagai pendapat yang berbeda-beda pada saat terjadi perdebatan sengit di masa itu. Masing-masing pihak mempergunakan usul fiqih.
Setelah madzhab-madzhab fiqih menjadi baku, kajian para ulama’ terhadap usul fiqih terbagi menjadi dua aliran, yaitu ; i>Usul Assyafi’iyyah/i> atau i>Al-Mutakallimin/i> dan i>Usul Hanafiyyah/i>.
ol>
li>i>Usul Assyafi’iyyah/i> atau i>Al-Mutakallimin/i>./li>
/ol>
Aliran ini mengacu pada kecenderungan teoritis murni. Perhatian para pengkaji metode ini tertuju pada perealisasaian kaidah-kaidah yang terlepas dari pengaruh madzhab. Sebagian besar ahli kalam, termasuk dalam aliran ini, karena aliran ini mempunyai kesamaan dengan kajian mereka untuk mengetahui hal-hal yang bersifat esensial secara rasional. Kajian mereka dalam aliran ini sama dengan kajian mreka dalam ilmu kalam secara mendalam tanpa taqlid. Oleh karena itu, aliran ini juga disebut aliran mutakallimin.a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftn2″>[2]/a>
Kitab-kitab yang ditulis dengan menggunakan metode ini di antaranya adalah i>Al-Mu’tamad/i> karya Abu Al-Husain Muhammad bin Ali Al-Basri (Wafat 413 H), i>Al-Burhan/i> karya Imam Haromain (Wafat 487 H), i>Al-Musytashfa/i> karya Imam Al-Ghozali (Wafat 505 H). Fakhruddin Al-Razi meringkas dan memberikan komentar ketiga kitab tersebut dalam i>Al-Mahsul/i>, demikian juga Al-Amidi (Wafat 631 H) dalam bukunya i>Al-Ihkam fi Usul Al-Ahkam/i>.
Para ulama’ berikutnya membuat ikhtisar terhadap kitab-kitab itu kemudian diikhtisarkan lagi sehingga sulit difahami karena bahasanya yang pelik dan terlalu ringkas, kitab-kitab tersebut kemudian diberi sarah.
ol>
li>i>Usul Al-Hanafiyyah/i>./li>
/ol>
Aliran kedua ini adalah aliran yang dipengaruhi oleh masalah-masalah i>furu’iyyah/i>. Ulama yang mengkaji aliran ini mengacu kepada kaidah-kaidah usuliyyah untuk menganalogikan dan melegalisir masalah-masalah i>furu’iyyah/i> pada madzhabnya. Metode ini pada hakekatnya sebagai alat legitimasi i>istimbath/i> dalam suatu madzhab dan sebagai bahan untuk argumentasi.a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftn3″>[3]/a>
Aliran kedua ini dianut oleh ulama Hanafiyyah. Aliran ini juga dinamakan aliran i>fuqaha’,/i> karena aliran ini dalam membangun teori usul fiqih banyak dipengaruhi oleh i>furu’/i> dalam madzhab. Artinya, mereka tidak membangun suatu teori kecualisetelah melakukan analisis terhadap masala-masalah i>furu’iyyah/i> yang ada dalam madzhab mereka.
Kitab-kitab yang ditulis dengan mengikuti aliran ini adalah kitab i>Usul/i> karya Abu Al-Hasan Al-Karkhi (Wafat 340 H), kitab i>Usul/i> karya Al-Jashos (Wafat 370 H), kitab i>Ta’sis Al-Nadzar/i> karya Al-Dabusi (Wafat 430 H), kitab i>Usul/i> karya Al-Bazdawi (Wafat 438 H).
Pada perkembangan berikutnya, muncul ulama’-ulama’ yang mengkombinasikan kedua aliran ini sebagai suatu sintesis usul fiqih yang memadukan metode i>mutakallimin/i> dan hanafiyyah. Diantaranya adalah kitab i>Badi’un Nidzam/i> karya Ahmad bin Ali Al-Sa’ati (Wafat 694 H) yang menghimpun kitab i>Usul Al-Bazdawi/i> dan kitab i>Al-Ihkam/i> karya Al-Amidi, kitab i>Tanqih Al-Usul/i> karya Shadru Al-Syari’ah Abdullah bin Mas’ud Al-Bukhari (Wafat 474 H) yang memadukan kitab i>Al-Mahsul/i> karya Al-Razi, kitab i>Usul Al-Bazdawi/i> dan i>Mukhtasor /i>karya Ibnu Al-Hajib.a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftn4″>[4]/a>
Db>. /b>b>Penutup/b>
Kemandekan fiqih ternyata diakibatkan oleh berbagai factor. Faktor utama terletak pada keterkucilan semangat ijtihad dari umat Islam, padahal semangat ijtihad yang didasarkan pada keahlian dan terikat dengan aturan-aturan main usul fiqih merupakan motor penggerak dinamika fiqih.
Walaupun fiqih mengalami kemandekan, usul fiqih tidak mengalami kemunduran dalam nilai substansinya, sebab usul fiqih merupakan metodologi pengambilan atau penyimpulan hukum, dan proses penyimpulan hukum it uterus berkembang sesuai dengan perkembangan kondisi sosial.
Al-Fasiy, Muhammad bin Hasan Al-Hajwiy, i>Al-Fikru Al-Samiy fi Tarikh Al-Fiqh Al-Islamiy,/i> Jilid III, (Beirut : Daarul Kutub Al-Islamiy, t.t)
Al-Khin, Musthafa Said, i>Dirasah Tarikhiyyah Lil Fiqhi wa Usulihi/i>, (1984)
Al-Khudlari, Bik. M., i>Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islamy/i>, (Beirut : Darul Ma’rifat, 1960)
Al-Sayis, M. Ali, i>Tarikh Al-Fiqh Al-Islamy/i>, (Makkah : Maktabah Ihya Al-Turas Al-Islamy, t.t)
Al-Zarqa, Musthafa Ahmad, i>Al-Madkhal Al-Fiqhi Al-Am/i>, Juz I, (Beirut : Darul Fikri, 1968)
Isma’il, Sya’ban Muhammad, i>Attasyri’ Al-Islamy/i>, (Kairo : Maktabah Annahdhah Al-Misriyyah, 1985)
Khalaf, Abd. Wahab, i>Khulashah Tarikh Attasyri’ Al-Islamiy/i>, (Kairo : Maktabah Nahdah Al-Misriyyah, 1971)
Musa, Kamil, i>Al-Madkhal ila Attasyri’ Al-Islamy/i>, (Beirut : Mu’assasah Al-Risalah, 1989).
Zahrah, M. Abu, i>Usul Fiqhi/i>, (Beirut : Daarul Fikri, t.t.)
Zein, Satria Effendi M. i>“Ijtihad Sepanjang Sejarah Hukum Islam : Memposisikan K.H. Ali/i> i>Yafie”/i>. Dalam Jamal D Rahman (Ed), i>Wacana Baru Fiqih Sosial/i>, (Bandung : Mizan, 1997.b>/b>
div>br clear=”all” />
hr align=”left” size=”1″ width=”33%” />
div>
a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftnref1″>[1]/a> Muhammad Abu Zahrah, i>Usul Fiqih/i>, (Beirut : Daarul Fikri, t.t.), hal. 18.
/div>
div>
a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftnref2″>[2]/a> Musthafa Said Al-Khin, i>Dirasah Tarikhiyyah Lil Fiqhi wa Usulihi/i>, (1984), hal. 189.
/div>
div>
a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftnref3″>[3]/a> Muhammad Abu Zahra, i>Op. Cit/i>., hal. 21.
/div>
div>
a title=”” href=”file:///G:/KEMANDEKAN%20FIQIH%20DAN%20PERKEMBANGAN%20%20USUL%20FIQIH.docx#_ftnref4″>[4]/a> Musthafa Said, i>Op. Cit/i>., Hal. 209.
/div>
/div>