strong>Karakteristik Sekolah yang Efektif/strong>
Penilitian yang mendalam tentang karakteristik-karakteristik keefektifan telah dilakukan sejumlah pakar di Amerika Serikat, diantaranya Croghan telah melukan suatu penelitian yang luas tentang kemampuan kepala sekolah di Florida dan menyimpulkan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah yang memiliki kompetensi yang mampu menciptakan sekolah yang efektif Hasil penelitian Lezotte mengutarakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini prospek untuk meningkatkan pendidikan menjadi lebih cerah, sejak Amerika melakuakan reformasi sekolahnya sebagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah, kesemuanya diperuntukkan pada keefektifan sekolah.[1]
Penelitian Edmonds tentang sekolah yang berhasil di New York menunjukkan bahwa tidak akan pernah dijumpai sekolah yang baik dipimpin oleh ”strong>kepala sekolah yang mutunya rendah”,/strong> sekolah yang baik akan selalu memiliki kepala sekolah yang baik pula. Kriteria keefektifan menurut Barrozo berdasarkan : penekanan akademik yang kuat, pemantauan kebutuhan siswa, in service training bagi guru, dan fasilitas lingkungan kelas yang menghasilkan prestasi sekolah dilakukan dengan menerapkan faktor-faktor keefektifan yang dianggap penting. Faktor-faktor tersebut menggambarkan dedikasi guru yang tinggi, kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, harapan-harapan bagi siswa dan staf, pemantauan kemajuan siswa, iklim belajar yang positif kesempatan yang cukup untuk belajar, pelibatan orang tua dan masyarakat dalam program sekolah
Karakteristik keefektifan sekolah menurut Ornstein dan Levine adalah : (1) lingkungan yang aman dan teratur yang mendukung proses belajar mengajar, (2) misi dan komitmen kerjasama staf sekolah yang jelas, (3) karakteristik kepemimpinan instruksional yang lugas oleh kepala sekolah, (4) iklim yang mendukung bagi murid untuk mencapai ketrampilan yang tinggi, (5) perencanaan dan pelaksanaan yang dapat memberikan hasil belajar siswa, (6) melakukan pemantauan atas kemajuan belajar siswa dan memperbaiki instruksional, dan (7) hubungan sekolah dan keluarga yang positif yaitu orang tua memainkan peranan yang penting mendukung misis dasar sekolah membantu pencapaian tujuan.
Sementara itu karakteristik keefektifan organisasi ini dipertegas oleh Purkey dan Smit menunjuk ada 13 indikator keefektifan organisasi yaitu : (1) fokus manajemen didasarkan pada sekolah, (2) kepemimpinan instruksional yang kuat, (3) stabilitas staf, (4) konsensus tujuan, (5) pengembangan staf sekolah, (6) dukungan orang tua, (7) hasil akademik, (8) penggunaan waktu yang efektif, (9) dukungan distrik (pemerintah daerah), (10) hubungan perencanaan dan kolegikal, (11) komitmen organisasi, (12) tujuan yang jelas dan harapan yang tinggi di sekolah, dan (13) aturan yang baik dan kuat. Selain karakteristik tersebut di atas ditambahkan yaitu fokus manajemen didasarkan pada sekolah, konsensus terhadap tujuan dengan rumusan yang jelas penuh pengharapan, penggunaan waktu yang efektif, dukungan distrik atau pemerintah daerah, hubungan perncanaan dan kolegial, dan komitmen organisasi yang tinggi.[2]
Menurut Scheeners karakteristik keefektifan sekolah lebih dulu ditentukan oleh orientasi produk sekolah yaitu lulusan yang diharapkan, kelengkapan organisasi yaitu pemerolehan sumber daya, karakteristik pengajaran dan motivasi kerja guru, dan model evaluasi dan pengukuran hasil belajar yang disepakati dan berkesinambungan. Sementar itu menurut Edmons organisasi sekolah yang lebih sederhana menunjuk lima karakteristik keefektifan yaitu : (1) harapan-harapan yang tinggi dari keefektifan pengajaran, (2) kepemimpinan instruksional yang kuat oleh kepala sekolah, (3) iklim yang teratur, tenang dan berorientasi kerja sekolah, (4) melaksanakan kegiatan akademik dan (5) pemantauan atas kemajuan siswa. Pendekatan proses internal merupakan ukuran keefektifan yang memuaskan pada proses pengelolaan semua prgram sekolah dengan baik dan benar.
Komponen karakteristik keefektifan sekolah seperti dideskripsikan pada tabel di atas terdiri dari manajemen kepemimpinan, komitmen, lingkungan strategis, harapan, iklim sekolah, dan peran pemerintah. Karakteristik ini menggambarkan melalui komponen tersebut organisasi dapat lebih menjadi efektif. Sekolah yang beroprasi dengan baik (effective) sangat memperhatikan denagan baik manajemen pengajaran, metode dan perilaku mengajar, kurikulum dan desain pengajaran, serta perilaku dan sikap kepala sekolah dan guru. Generalisasi uraian tersebut menggambarkan organisasi yang efektif adalah dimana kelompok-kelompok informal, kebutuhan-kebutuhan individu, dan tujuan-tujuan birokrasi berperan secara bersama atau saling berfungsi satu sama lainnya.
Kepala sekolah bertugas dan bertanggung jawab terhadap manajemen secara keseluruhan, guru bertugas mengelola proses belajar mengajar, personel lain berfungsi menunjang kegiatan proses belajar mengajar peserta didik
Sekolah yang efektif selalu dipimpin kepala sekolah yang memiliki potensi kepemimpinan instruksional yang kuat dan memiliki kompetensi yang profesional. Pemimpin yang efektif sebagai individu dan kelompok tampak pada performansi kerja kepala sekolah merupakan cerminan keefektifan sekolah, hal ini merupakan kunci keefektifan organisasi sekolah.
Jadi, performansi kepala sekolah, guru dan personil lainnya secara tegas mencerminkan keefektifan organisasi sekolah. Keefektifan merupakan hasil sejumlah variabel termasuk perkembangan lingkungan, tehnologi, kesempatan baik, kecakapan perseorangan, dan motivasi.
Keefektifan mempunyai karakteristik kepemimpinan instruksional (kepala sekolah) yang kuat, dedikasi atau performansi guru yang tinggi, melaksanakan kegiatan dan pengembangan akademik, pemantauan atas kemajuan belajar dan hasil siswa, dan hubungan sekolah dengan keluarga saling mendukung.
strong>Pemberdayaan Sekolah/strong>
Sebelum PP 28 tahun 1990 dikeluarkan, sekolah menengah dibagi atas Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP), dan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA). SMTP diperuntukkan bagi lulusan sekolah dasar (SD) sebagai lanjutan dasar, dan SMTA diperuntukkan bagi lulusan SLTP yang melanjutkan pendidikannya. Keefektifan sekolah tergantung pada disain organisasi dan pelaksanaan fungsi komponen organisasi mencakup proses pengolaan informasi, partisipasi, perencanaan, pengawasan, dan pembuatan kebijakan dalam pelaksanaan tugas pokok organisasi.
SMTP atau SLTP memiliki tingkatan kelas yaitu 1, 2 dan 3 dengan siswa yang berusia 12-15 tahun, dan sekolah menengah pertama (SMP) pada umumnya bersifat umum em>(General Education)/em> yang merupakan satuan pendidikan setingkat SMTP. UU No. 2 tahun 1989 pasal 12 ayat 1 menyatakan bahwa jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi.
Pendidikan dasar diatur dengan PP No. 28 tahun 1990 yang menjelaskan bahwa SLTP merupakan bagian dari Pendidikan Dasar, namun prinsip-prinsip pelaksanaannya sampai sekarang tidak jauh berbeda dengan pengaturan sebelumnya baik dilihat dari persyaratan murid maupun kurikulum. SMP terdiri dari SMP Negeri dikelolah oleh pemerintah dan SMP swasta dikelolah oleh masyarakat (berbentuk yayasan) .
Penyelenggaraan pendidikan tentu semua pihak dihadapkan pada berbagai tantangan terlebih dalam kinerja sistem pendidikan dalam upaya mencapai tujuannya. Kinerja sistem pendidikan kemungkinan masih banyak mengandung agenda kelemahan ditinjau dari segi visi dan misi yang diharapkan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wardiman, bahwa rumusan visi pendidikan 2020 menunjukkan bahwa : (1) seluruh warga negara usia sekolah minimal telah mengeyam pendidikan dasar sembilan tahun. (2) mutu para lulusan sistem pendidikan mampu bersaing di dunia atau pasar kerja baik nasional maupun global. (3) muatan kemampuan penguasaan iptek dan ketrampilan para lulusan dapat memberi manfaat sebagai bekal untuk hidup di masyarakat dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembangunan dan masyarakat pemakainya. (4) penyelenggaraan sistem pendidikan dapat mengelola secara lebih efektif dan efesien.
Keberhasilan kinerja sistem pendidikan bukan hanya ditunjang oleh tenaga kependidikan yang disebut guru saja, melainkan juga oleh tenaga kependidikan lainnya, termasuk mereka yang berada pada kantor pendidikan (Dinas Pendidikan Provinsi maupun Kabupaten/Kota)
Untuk memperkuat kinerja kependidikan bahwa pengakuan atas pentingnya profesi keguruan sama pentingnya dengan pengakuan terhadap disiplin ilmu manajemen pendidikan yang berdampingan dan saling menunjang dalam mewujudkan tujuan dan fungsi-fungsi pendidikan selain pengajaran.
Sekolah yang baik dan berhasil menurut Sergiovannni para gurunya mempersiapkan siswa dengan baik, para siswa dikondisikan melewatkan hampir dua jam setiap malam untuk pekerjaan rumah, pada siswa meminjam lebih banyak buku secara sukarela di perpustakaan dibanding sekolah-sekolah serupa. Para guru membuat laporan secara sitematis dan teratur dan mereka puas dengan prestasi sekolah karena hasil kerja kerasnya, pada orang tua menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut.[1]
Hal ini menggambarkan bahwa sekolah yang efektif tampak pada pencapaian hasil belajar para siswanya yang cukup tinggi dan baik dibuktikan oleh angka-angka tes hasil belajar dengan prosedur tes yang benar. Pada gambar berikut ini dideskripsikan alur sekolah yang efektif, unggul, sampai sekolah yang berhasil.
[1] Sergiovanniem>, Ibid.,/em> hal. 112
[1] Fattah, Nanang, em>Manajemen Berbasis Sekolah ; Strategi Pemberdayaan Sekolah dalam Rangka/em> em>Peningkatan Mutu dan Kemandirian Sekolah/em> (Bandung : Andira, 2000) hal. 22
[2] em>Ibid,/em> hal 66