KEEFEKTIFAN ORGANISASI DALAM PEMBERDAYAAN SEKOLAH (Part 2)

a href=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2014/05/images.jpg”>img class=”size-full wp-image-3606″ src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2014/05/images.jpg” alt=”KEEFEKTIFAN ORGANISASI DALAM PEMBERDAYAAN SEKOLAH” width=”224″ height=”225″ />/a> KEEFEKTIFAN ORGANISASI DALAM PEMBERDAYAAN SEKOLAH
p style=”text-align: justify;”>*strong>Organisasi Sekolah yang Efektif/strong>/p>
p style=”text-align: justify;”>Dalam memaknai fektifitas setiap ornag memberi arti yang berbeda sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Hal tersebut diakui oleh Chung dan Maginson seperti yang dikutip oleh Mulyasa, ”It means different to different people” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil. Jadi efektifitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektifitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional. Dalam buku Principalship, Sergiovanni mengetengahkan pendapat beberapa ahli tentang keefektifan, yaitu Etzioni dimana beliau mengatakan bahwa keefektifan adalah derajat dimana organisasi mencapai tujuannya, Steers mengemukakan bahwa keefektifan organisasi menekankan perhatian pada kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuan yang akan dicapai, dan Tobert berpendapat bahwa keefektifan organisasi adalah kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuannya. Karena itu, keefektifan organisasi adalah kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan harapan dan kemampuan mencapai hasil yang diharapkan. Generalisasi keefektifan dari uraian tersebut menunjukkan bahwa organisasi akan lebih efektif apabila kelompok-kelompok informal, kebutuhan-kebutuhan individu, dan tujuan-tujuan birokrasi berperan secara bersama atau saling berfungsi secara optimal satu sama lainnya yang didukung oleh variabel teknologi, perkembangan lingkungan, kesempatan baik, kecakapan perorangan dan motivasi yang kuat. Keefektifan organisasi menurut Gibson, Ivacevich, dan Donnely adalah konsep yang sangat luas mencakup sejumlah komponen-komponen konsep, baik jangka pendek seperti produksi, efesiensi dan kepuasan. Jangka menengah (intermediate) yaitu menyesuaikan diri (adaptiveness) terhadap lingkungan, dan pengembangan (development) serta pertumbuhan. Sedangkan jangka panjang adalah organisasi tersebut dapat bertahan hidup (survive). Keefektifan organisasi oleh Hoy dan Miskel adalah suatu fenomena yang multidimensional terdiri atas komponen-komponen adaptasi dari kuantitas dan kualitas dari produk, pencapaian siswa yang lebih tinggi, sistem tujuan yang terintegrasi, dan kesamaran (latency) yang dapat menuntun penseleksian terhadap indikator-indikator keefektifan. Sedangkan Steers mengatakan bahwa keefektifan organisasi adalah sejauh mana organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya, dan anggota organisasi cenderung berusaha lebih keras mencapai tujuan organisasi. Persyaratan utama mencapai keefektifan organisasi menurut Ewell dan Lisensky adalah dengan memahami cara-cara berbeda dimana sebuah organisasi bisa bersifat efektif. Karenanya, pemimpin organisasi tidak hanya mengidentifikasi dimensi-dimensi kritis performansi lembaga saja, tetapi juga memobilisasi organisasi kearah keefektifannya. Slater dan Teddie mengemukakan bahwa keefektifan organisasi dibatasi oleh konteksnya, sehubungan dengan hal ini Creemers berpendapat bahwa model-model keefektifan sekolah terdiri dari tiga level yaitu sekolah, kelas, dan latar belakang siswa sebagai konteksnya. Ketiga unsur keefektifan tersebut dalam konteks sekolah adalah manajemen dan kepemimpinan pada level sekolah, kesiapan staf pengajar pada level kelas, dan kesiapan belajar serta hasil belajar pada level siswa. Keefektifan menurut Steers seringkali diartikan kuantitas atau kualitas keluaran (output) barang atau jasa. Misalnya bagi ilmuwan bidang research, keefektifan dijabarkan dengan jumlah paten, penemuan, atau produk baru. Bagi sarjana ilmu sosial keefektifan seringkali ditinjau dari sudut kualitas kehidupan. Pendapat tersebut ada benarnya, namun perlu ditambahkan bahwa bagi organisasi seperti sekolah keefektifan adalah kemampuan sejauhmana organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya secara baik dan benar untuk mencapai tujuan. Sejalan dengan hal itu, konsep keefektifan menurut Hoy dan Miskel cukup kompleks, namun indikator dari keefektifan mencakup hasil (output) organisasi, moral organisasi, dan keputusan organisasi. Keefektifan adalah sebuah konsepsi yang amat bersifat elusif (elusive) yang harus didefinisikan secara jelas. Meski harus difahami bahwasanya tidak ada satupun definisi keefektifan organisasi yang baku. Tugas manajemen adalah mempertahankan keseimbangan organisasi yang optimal di antara semua komponennya. Model dan kriteria keefektifan organisasi menurut Cameron dan Whetten sedemikian beragamnya, sehingga tidak ada definisi tunggal yang jelas, tidak mungkin dan juga tidak diinginkan karena keefektifan merupakan suatu fenomena dengan banyak segi. Hanya sedikit sekali organisasi yang dapat memaksimalkan keefektifan sesuai dengan keefektifan itu sendiri. Secara filosofis, sekolah yang efektif dapat dicapai, karena diasumsikan bahwa semua siswa pada dasarnya dapat mempelajari mata pelajaran yang ditetapkan jika model dan implementasi pengajaran dilaksanakan dengan baik dan tepat. Konsep keefektifan merupakan suatu konsep yang luas, tetapi keefektifan itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari organisasi memiliki arti yang begitu penting bagi suatu organisasi. Arti penting itu dihubungkan dengan tingkat keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tingkat produktifitas yang tinggi dan juga berkualitas. Edmonts dalam Ornstein dan Levine telah mengidentifikasi keefektifan sekolah sebagai berikut : (1) kepemimpinan yang kuat (strong leadership), (2) iklim hubungan manusia yang teratur (an ordery human climate), (3) pemantauan terhadap kemajuan siswa (frequent monitoring of student progress), (4) harapan yang tinggi bagi semua siswa (high expectation and requirements for all students), dan (5) fokus pengajaran harus pada siswa (focus on teaching important skill to all students). Tipologi keefektifan sekolah menurut Salter dan Teddie adalah berfungsinya tiga factor utama yaitu : (1) ketetapan administrative, (2) kesiapan guru, dan (3) kesiapan siswa. Jadi sekolah yang tidak efektif dimana administrasinya tidak tepat, guru-guru tidak dipersiapkan belajar dengan baik. Sedangkan sekolah yang efektif sebaliknya, sekolah cenderung untuk maju atau mundur adalah merupakan gambaran dari keefektifan sekolah. Mengetahui sebab-sebab yang meningkatkan keefektifan organisasi, kelompok, dan individu adalah merupakan tugas utama manajemen. Aspek yang paling penting dari keefektifannya manurut Hersey dan Blanchard adalah hubungannya dengan organisasi secara keseluruhan dan organisasi selama periode tertentu. Tidak ada definisi keefektifan organisasi yang standard, tetapi keefektifan organisasi tidak terlepas dari proses pengelolaan untuk mencapai tujuan organisasi. Sebuah organisasi dapat dikatakan efektif jika ada kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan harapan (tujuan) yang ditetapkan. Lebih tegas lagi bahwa keefektifan organisasi adalah kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan harapan dan kemampuan mencapai hasil yang diharapkan./p>
p style=”text-align: justify;”>*strong>Pendekatan untuk Menjadikan Sekolah Lebih Efektif/strong>/p>
p style=”text-align: justify;”>Untuk memenuhi keefektifan organisasi secara umum ada empat pendekatan menurut Krakower, yaitu: (1) keefektifan dipusatkan pada hasil (goal achievment), (2) penekanan pada spesifikasi prosedur pengembangan organisasi yang konsisten secara aktual terhadap kebutuhan yang dikelolah administrator (management processes), (3) menggambarkan proses internal dengan mempertegas hubungan antara personel organisasi (organizational climate), dan (4) keserasian hubungan (environmental adaptation) di lingkungan organisasi maupun di luar berbagai organisasi. Sedangkan Cameron mengemukakan ada empat pendekatan keefektifan organisasi, yaitu model : sistem sumber daya, proses internal, sistem terbuka, dan kepuasan partisipan. Pendekatan proses internal memusatkan pada proses pengelolaan, pengolahan informasi, dan pembuatan keputusan dalam organisasi yang semuanya merupakan pekerjaan manajerial. Jika dicermati dari bermacam-bermacam pendekatan untuk mengevaluasi keefektifan sekolah, maka hasilnya tergantung pada konsep dan variabel yang ditetapkan sekolah dimana sekolah itu berada. Secara umum keefektifan sekolah dilihat dari pendekatan proses sumberdaya (resource) yaitu dengan menilai berfungsinya komponen organisasi ditinjau dari keefektifan manajerial kepala sekolah, performansi guru, dan performansi personil non- guru. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sekolah antara lain, sekolah sebagai organisasi kerja terdiri atas sejumlah unit kerja seperti kelas (guru kelas), bimbingan penyuluhan (petugas bimbingan penyuluhan), usaha kesehatan sekolah (UKS), dan sebagainya. Setiap unit merupakan bagian kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem menjadi bagian dari sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem, pengelolaannya sangat tergantung pada pengolaan seluruh sub sistem baik secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan sistem. Karena itu setiap personel sekolah menempati posisi dan peranan penting, memikul tanggung jawab dalam mengembangkan dan memajukan setiap sub sistem masing-masing untuk kemajuan sekolah secara keseluruhan. Keefektifan kepemimpinan kepala sekolah dan kemampuannya mendayagunakan seluruh potensi membangun kerja sama yang baik terhadap seluruh unsur sekolah adalah sangat penting baik secara internal maupun external. Keberadaan sekolah menunjukkan aspek-aspek perilaku organisasi terdiri atas kepala sekolah, guru, siswa, dan personil sekolah lainnya, unjuk kerjanya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keefektifan organisasi sekolah. Tercapainya tujuan sekolah pada hakekatnya tergantung pada tingkat berfungsinya seluruh komponen organisasi secara optimal. Penelitian tentang sekolah yang efektif menurut Moejiarto masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Dari ribuan proyek penelitian dan informasi berbagai problematika pendidikan menurut Ahmadi hampir 80 % berkisar sekitar permasalahan pengembangan kurikulum, kemasan bahan pelajaran, metode dan media pengajaran, pendidikan dan pelatihan guru, dan hal-hal lain yang berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar (PBM). Sedangkan permasalahan struktural (manajemen kelembagaan pendidikan serta permasalahan fundasional, teori dan konsep yang melandasi upaya pendidikan) hampir belum mendapat sentuhan dan perhatian yang memadai. Oleh karena itu memang dapat difahami jika dampak dan kontribusi dari berbagai upaya inovasi pendidikan cenderung bersifat sporadic, piecemical dan incremental terhadap peningkatan kinerja sistem pendidikan. Karenanya, sulit ditemukan manajemen pemberdayaan pendidikan atau sekolah secara signifikan, jika tidak ada kemauan kuat pengelolanya. Sumberdaya manusia seperti kepala sekolah, guru, dan personil lainnya merupakan komponen memegang peranan penting dan menentukan keefektifan organisasi sekolah. Di negara maju misalnya Amerika Serikat, penelitian sekolah efektif telah mendapatkan perhatian yang cukup besar. Hasil penelitian itu memunculkan persepsi keefektifan organisasi bervariasi, misalnya Canner dan Butenberg melaporkan hasil penelitiannya sekolah-sekolah kota New York menerapkan usaha-usaha memperbaiki kepemimpinan instruksional meningkatkan keefektifan sekolah, sedangkan peneliti lainnya memfokuskan pada tujuan dan sebagainya. Perlu menjadi perhatian bahwa keefektifan organisasi mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang tergantung pada acuan yang dipakai. Bagi sebuah sekolah tertentu keefektifan dapat dilihat dari kualitas pengelolaan dan pencapaian tujuan yang berhubungan dengan kualitas lulusan. Pada sekolah lainnya keefektifan sekolah dapat dilihat dari proses pendayagunaan seluruh potensi perangkat organisasi baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya material pendukung non manusia. Berdasarkan sifatnya, organisasi cenderung merupakan kesatuan yang kompleks berusaha mengalokasikan sumberdaya secara rasional demi tercapainya tujuan. Hasil penelitian itu menunjukkan peran kepala sekolah merupakan faktor dominan dalam mengefektifkan sekolah. Jadi keefektifan sekolah adalah spesifikasi prosedur pengembangan organisasi yang konsisten secara aktual terhadap kebutuhan berpusat pada proses manajerial kepala sekolah yaitu berfungsinya struktur organisasi sekolah, performansi guru, kesiapan belajar siswa, dan performansi kerja personil non guru terdiri dari konselor dan pegawai tata usaha./p>