Di dalam ajaran Islam, shalat menempati kedudukan yang sangat agung. Ia merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang menjadi tonggak berdirinya agama ini. Rasulullah saw bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima fondasi, bersaksi bahwa tiada Rabb selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Shalat laksanaka puncak piramida tertinggi diantara ibadah-ibadah lainnya. Hal ini disebabkan, setiap ibadah dan perintah agama diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril a.s., kecuali ibadah shalat. Allah sendiri yang memerintahkan ibadah ini kepada beliau. Tepatnya, ketika beliau melakukan Isra’ Mi’raj hingga beliau menembus langit yang ketujuh dan sampai ke Sidratul Muntaha.
Di kala itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk melaksanakan shalat dengan perintah secara langsung tanpa perantara Allah dengan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan betapa agung dan besarnya kedudukan ibadah shalat. Selain itu, hal tersebut juga bisa menjadi bukti kepada segenap manusia akan urgensishalat dalam kehidupanmereka dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda; “Kemudian ia membawaku ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba aku melihat dedaunnya yang laksana telinga gajah dan buah-buahnya seperti mutiara.”
Beliau melanjutkan, “Maka tatkala ia tertutup berkat perintah dari Allah swt, ia (Sidratul Muntaha) pun berubah dan tidak satu pun makhluk Allah yang dapat menggambarkan keindahannya. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadaku dan Dia mewajibkan lima puluh shalat dalam sehari semalam kepadaku. Aku lalu kembali dengan membawa kewaiban itu hingga kulewati Nabi Musa a.s., kemudian ia (Musa a.s.) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu?’
Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam).’ Musa a.s. berkata, ‘Kembalilah kepada Rabb mu dan mintalah keringanan kepada-Nya, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakan hal yang demikian itu.’ Maka aku pun kembali menghadap Allah, lalu Dia memberi keringanan kepadaku dengan menghapuskan lima kali shalat…’
Beliau saw bersabda, ‘dan aku terus kembali menghadap Allah dan turun kepada Nabi Musa a.s. hingga Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, itulah shalat lima waktu sehari semalam. Setiap satu shalat bernilai sepuluh kali shalat. Dengan demikian, pahalanya sama dengan lima puluh kali shalat’.” (HR Al-bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan juga Mu’az bin Jabal r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:
وَأْسُ الْأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
“Pangkal semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah Shalat, dan puncak keluhurannya adalah Jihad.” (HR At-Tirmidzi)
Di samping itu, kita juga dapat mengetahui urgensi dan kedudukan shalat yang sangat besar ketika melihat ancaman keras yang disampaikan al-Quran kepada orang yang meninggalkannya. Selain itu juga adanya peringatan keras yang berupa siksa yang sangat pedih bagi siapa saja yang melakukannya. Allah swt berfirman:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢)قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣)
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS Al-Muddatsir: 4-5)
Allah juga berfirman;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS Al-Ma’un: 4-5)
Pada ayat lain, Allah swt juga berfirman;
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (٥٩)
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam: 59)
Makhul meriwayatkan dari Ummu Aiman bahwa Nabi Muhammad saw bersabda;
مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
“Barang siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia terbebas dari tanggungan Allah dan Rasul-Nya.” (HR Ahmad)
Diriwayatkan dari Buraidah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda;
الْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Maka barang siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR Tirmidzi dan An-Nasa’i)
[WARDAN/@abuadara]_______________________
Disampaikan pada Talim Bakda Isya di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining oleh Santri Kelas 6 TMI, Kamis 21 Februari 2013